Bila rasa ini adalah rindu,
Itu adalah untuk mu.
Untuk insan yang dipertemukan dan dipisahkan pada waktu bersamaan.
Tanpa sapaan, tanpa janji untuk saling berjumpa lagi nanti.
Jika rasa ini adalah rindu,
Itu adalah untuk mu.
Pada kenyataan antara pisah dan jumpa, hanya disekat oleh membran tipis transparan.
Untuk letupan gelembung rindu dihati,
Pada kuncup-kuncup harap ingin bertemu.
Kau mampu mempertahankan eksistensi mu disini,
Dihati ini.
Dulu, seperti itulah cara mu hadir,
Ratusan hari sebelum saat ini, detik ini ketika aq kembali mengenang mu, yang hanya bisa hidup di angan,
Terkunci di kata untuk ku ucapkan "siapa dirimu" pada dunia.
Dulu kau datang, memberi kesan.
Mengangumkan.
Menyelamatkan ku dari luka bercerancangan,
Tentang cita yang terlupa,
Tentang cinta pada dia yang ternyata kekal tak dapat terseka.
Juga tentang kecewa, nelangsa....
Jika doa itu adalah harapku
Pastilah untuk kau dan aku.
Untuk waktu yang tepat, agar berkenan merengkuhkan waktu ku, waktu mu, dan menyimpul jadi satu.
Jika doa itu adalah harapku,
Aku mendoakan mu, ada atau tiadanya lagi kau disemesta.
Aku mendoakan mu, terisi atau hampanya hati mu.
Aku mendoakan mu, terucapkan atau terabaikan janji suci untuknya itu.
Aku mendoakan mu, untuk kembali datang menyelamatkan ku dari luka yang kembali ternganga,
Untuk logika yang menggeser akal sehat ku, yang terus memupuk rasa ini dan jika rasa ini disebut rindu,
Maka itu adalah untuk mu.....
Banda Aceh, 23 juli 2014.
Rabu, 23 Juli 2014
Jumat, 14 Februari 2014
Seperti Senja, aku Menyebut mu....
Aku kembali merajut cerita,
Pada potongan singkat waktu sang
senja.
Menyeka sukma dengan bisik kata tak
terjamah aksara.
Membisu dan mendiam....
Seperti itulah ku lukiskan hadir mu...
Kau datang sungguh seperti senja.
Singkat namun meninggalkan kenangan yang
mungkin tak terlupa oleh ingatan.
Dibawah naungan langit merah saga,
Dengan pantulan cahaya oranye
keemasan,
Kau datang pada ku.
Dari belahan dunia yang tak pernah
terduga.
Salah kah bila ku mencinta?
Pada waktu singkat senja, dan ternyata
ada kau disana?
Kau hadir bagaikan gemuruh ombak
memecah pantai.
Riuh, bergemuruh di dada ku,
meneriakkan panji-panji nama mu.
Mengalihkan aku, yang dulu sempat
terpasung dalam cerita lama beratas namakan cinta buta.
Tatapan mata mu, sungguh seperti
senja.
Tenang dan menyiratkan seribu satu
tanda tanya yang membuat ku hampir gila,
Berusaha menebak, mencari makna,
menerka, menumbuhkan prasangka,
Senyatannya mungkin juga ada nama ku
disana.
Mengisi jejak-jejak lembar kisah hidup
mu,
Menggores dengan guratan-guratan kenangan
antara kau dan aku, yang sempat dibekukan oleh kumpulan data dan piksel.
Namun sayangnya, itu tak ada...
Salahkan waktu?
Yang terlalu cepat berdetik, hingga
waktu ini sungguh aku rasa begitu singkat?
Tapi, sepertinya tidak...
Takdir masih berbaik hati
mempertemukan kau dan aku, yang jelas datang dari benua yang berbeda.
Menyimpulkan pita kisah antara kau dan
aku, disini, di negeri asing ini.
Kau datang, sungguh seperti senja.
Tak bisa berdiam diri lebih lama
dihadapku, sehingga aku bisa mengucap cinta.
Dan kini, aku hanya bisa berdiam
dengan kata yang ku rasa mulai membeku.
Membiarkan kau berlalu, dengan rasa
ikhlas yang ku punya.
Bukankah memang seperti ini, kata dari
mereka terdahulu yang telah lebih dahulu mengecap segala asa dan cinta?
“Hakikat cinta adalah mengikhlaskan”
Dan, sudah seperti ini hakikat dari
senja.
Hadir dengan penuh pesona pada waktu
yang sungguh begitu singkat.
Kau, senja yang ku punya.
Tenggelam di ambang batas cakrawala.
Sampai berjumpa, sampai takdir
mempertemukan kita lagi, pada senja yang berbeda namun dengan rasa yang sama.
Sampai jumpa cinta, semoga nanti Sang
Maha Cinta kembali berkenan, mempertemukan kau dan aku, pada senja di suatu
masa...
Leupung, Aceh Besar.
#Untuk cinta yang ada di suatu senja J
Sabtu, 11 Januari 2014
Rasa dalam Beku Kata
Aku yang
semakin kacau,
Dengan
apa ingin dan harapku yang terus tak mau bertemu dengan waktu.
Aku yang
meracau dengan perasaan yang berserakan.
Berjalan
berdarah, bernanah, memijak beling penuh nama mu yang tak bisa ku hindari.
Kemana
harus ku berlari? Siapa yang harus ku caci dalam urusan ini?
Untuk
mu, dan sungguh ini untuk mu.
Mencintai
mu adalah hal terberat yang pernah aku lalui.
Saat
aku harus merobek paksa segala bahagia ku, bila mata ku, mata mu, beradu
pandang.
Ketika
aku harus tersadar dari ilusi panjang tak karuan, yang terus menyerbu
menyodorkan segala hal yang membuat logika ku menggila.Membasahi lusinan kertas
dengan tinta air mata pada lembar kitab ku.
Untuk
mu, insan separuh dunia ku.
Tau kah
kau? Mencintai mu adalah hal terindah dan tergila yang harus ku telan dalam
satu tarikan napas. Tak memberi jeda, untuk ku memisahkan yang mana nyata dan
dusta.
Semuanya
terus terpupuk, tersemai di relung hati dan sialnya tak bisa ku musnahkan.
Siapa
yang salah kini?
Haruskah
aku menyalahkan waktu? Yang mempertemukan kau dan aku, terlambat dari waktu
jumpa mu dan dia?
Atau
takdir? Yang telah curang mempermainkan kita?
Atau
mungkin salah ku?
Yang tlah salah bercita terlalu tinggi, bermimpi terlalu
naif, dengan mimpi, cita, cinta dan asa ku yang ternyata semuanya bertumpu pada
mu?
Sungguh tak dapat ku palingkan semua ini.
Untuk
mu, insan ciptaaNya yang tlah membuat ku jatuh cinta.
Ingin
ku bercerita, tapi aku hanya mampu berprosa.
Karena
aku tau, tak dapat lagi kau dengar apa yang bisa ku ucap, tentang segala esensi
hati.
Ingin
ku memandang mu, untuk waktu yang lebih lama.
Namun aku tak bisa. karena dunia
mu sungguh tak nyata untuk dapat ku seka.
Ingin
ku, melipat jarak antara kau dan aku, agar tak ada lagi pembeda. Tapi senyatanya
hanya tertinggal jeda, dan dia tlah sungguh nyata dikirimkan Oleh sang Kuasa
untuk mampu mengubah semua dunia.
Mewarnai
hidup mu, mengelamkan semesta ku dengan penuh dosa, bila aku berani mententang
semua alur cerita dari skenario Sang Maha Esa, Dia yang yang Maha Mengetahui,
Tentang
semua...
Semua
dan semua, tentang kau yang ku temui, diujung senja yang harus tertelan oleh
cakrawala dan cinta yang terhitamkan oleh malam.
Dan rasanya
Aku yang semakin kacau,
Dengan
apa ingin dan harapku yang terus tak mau bertemu dengan waktu.
Aku yang
meracau dengan perasaan yang berserakan.
Yang
hanya bisa memendam rasa dalam beku kata. Dan kau yang tak pernah tersentuh
oleh nyata.....
Banda
Aceh,
11
Januari 2014
Rabu, 25 Desember 2013
Kadang Bisa Jadi Ini Sebuah Prosa
Kadang...
Ada tempat-tempat
yang tak harus kita datangi...
Bukan
karena tak mampu tuk melangkah kesana.
Tapi
karena memang kita belum bisa mendatangi tempat itu.
Kadang...
Ada peristiwa-peristiwa
yang tak harus kita hadiri.
Bukan
kita tak pantas untuk menjadi pemeran utama.
Tapi
memantau dari balik kaca sepertinya lebih baik, agar tak ada goresan hati
tentang makna dari sebuah kata luka.
Kadang...
Ada saatnya
kita harus bersembunyi.
Bukan
karena berjiwa pengecut.
Tapi
karena waktu yang belum mempersiapkan kita tuk menjadi sosok yang lebih kuat,
bila kita menghadapi sesuatu itu.
Kadang...
Ada hal-hal
yang tak bisa tergapai di bumi ini.
Bukan
karena tak layak untuk mendapatkannya, namun ada saatnya kita harus iklas
dengan keadaan. Membiarkan semuanya berlalu, tanpa bisa kita hadari, karena
waktu yang tak mau tahu menahu.
Dan rasanya,
aku tlah seperti itu kini...
Yang
harus iklas dengan semua yang ada.
Ada saatnya
aq harus bersembunyi dari orang-orang yang tak bisa ku jumpai.
Bukan
karena berjiwa pecundang, tapi aku memang tak bisa saling beradu pandang.
Aku tak
mau, kalau nanti kau, dia dan mereka tau apa yang ada disini (hatiku) dan apa
yang masih tersisa di semesta ini (aku) yang selalu tesadar akan cinta semu. Selalu
terjebak diantara cinta tak kasat mata yang hampir membuatku tak berlogika.
Ini saatnya
aku harus diam dalam satu bagian buku kehidupan,
Bukan
tak mau mengakhiri cerita dengan bagian kau dan aku bersama.
Tapi
senyatanya, kini bukan saat ku untuk menulis semua skenarionya, Dialah Yang
Maha Mengetahui, yang kini mengambil bagian. Tak bisa ku tentang, tak bisa ku
membangkang.
Iklas
ku untuk merela semua.
Tentang
diam ku, yang tak mungkin melangkah ke tempat itu.
Tentang
aku yang terpaku, tak mungkin bisa menjadi pemeran utama, dalam satu bagian
potongan kehidupan mu. Meskipun potongan puzzle kehidupanmu itu berceceran,
berantakan, berhamburan, tetap, tak bisa tersisip nama ku disana.
Tentang
aku yang harus bagai kafilah, bersembunyi karena aku yang tanpa sengaja tlah
membawa nama dan bayang mu di ingatan. Sedang aku tau, itu tak patut untuk ku.
Tentang
kau dan aku, yang mungkin kini hanya bisa menjadi seperti langit dan bumi.
Bumi
untuk ku, yang selalu hanya bisa memandang mu dari kekerdilan ku, menatap
ketinggian yang tak mungkin bisa
terjamah.
Juga
kau yang hanya mampu memandang ku dari ketinggian mu.
Walau
sebenarnya aku tahu,
Kadang
tak ada makna berarti yang mampu kau simak,
Yang
mampu kau baca dari apa yang telah terjadi. Untuk diam ku, sembunyi ku, dan iklas
ku untuk kau yang secara rahasia ku cinta, dan pelan-pelan harus ku lupa...
Banda
Aceh
25
Desember 2013.
Senin, 16 Desember 2013
Cita, Cinta, Eropa...
Akuuu
kembaliiiiii..... yuhuuu, disaat kepala ini mampet dengan urusan-urusan ‘duniawi’,
tugas yang menimbun mengalahkan timbunan sampah di TPS, diwaktu
deadline-deadline yang benar-benar akan membuat aku ‘dead’, dan syelaluu saja,
ide untuk nulis itu muncul, menggelayut di pikiran dan pelupuk mata. Akhirnya aku
pasrah dengan semua yang ada, akhirnya aku milih untuk nulis ‘tulisan’ ku ini,
dari pada kebawa mimpi, gak enak makan dan gak enak badan? Mending aku
tumpahkan semuanya disini.
Ok,
kali ini mungkin judul dan temanya agak beda, yaitu....
Eeeeeeng
iiiiiiiiiiiiiiiiiiiing eeeeeeeeeeeeeeeengggg!!!!
Cita,
Cinta, Eropa!!!
Lah,
kok tumben judulnya beda?? Biasanya pasti syeeeelalllluuuuu.... ngebahas
cinto-cintoan sajo, gak pake cita dan lebih-lebih eropa?
So?
Why???
Yayaya...!
aku tau aku ini anak muda yang selalu nggak bisa jauh dari yang namanaya urusan
hati, tapiiii... kali ini aku nggak mau Cuma ngebahas masalah cinto-cintoan,
kali ini aku mau ngebahas tentang cita ku juga, dan itu nggak kalah penting
urusannya, malah itu masuk di prioritas pertama dalam hidup. Dan untuk Eropa? Jelaaaaassss!!!
Aku mau meniti cita di benua Eropa sana.
Dan aku juga tau, cita dan cinta itu selalu nyatu, nggak pernah lepas
satu sama lain. Ada cita pasti ada cinta, walaupun belum tentu ada cinta ada
cita. Hhehe...
Motivator
ku pernah nulis di blognya yang sempat aku kepoin,
si mr. Motivator itu nulisnya gini “Cita
dan Cinta itu selalu nyatu, berawal dari cita dan membuahkan cinta”. Setelah
aku pikir-pikir, kok bener juga ya? Hhehehe. Oya, mengenai sang motivator yang
satu ini belum sempat aku ceritain siapa jati dirinya yang sesungguhnya *bahasa
mu naakk ==” * si mr. Motivator ku ini adalah motivator kedua ku setelah TRR. Seseorang
yang mengagumkan dan penuh ‘karisma’. Nanti deh, kapan-kapan aku cerita khusus
tentang dia.
Ok,
kita tinggalin sejenak tentang mr. Motivator itu. Kita kembali ke kata-kata
yang di tulis di blognya. Hmmm... jadi aku cerita sedikit tentang si ‘beliau’
ini, jadi beliau ini nulis kata-kata itu di blognya, nah, ternyata dan ternyata
si motivator ini benar-benar orang yang sangat-sangat memperjuangkan
cita-citanya. Dan berawal dari itulah, muncul ini ‘CITA, CINTA. EROPA’.
Gimana
ceritanya????
Yuuuuuuuuuuukkk
chekidoooot!!!!!!!
Tadi
pagi (16 Desember 2013) di kampus ku ada acara sosialisasi gitu, acaranya
seputaran tentang kegiatan pertukaran mahasiswa gitu ke Eropa. Ke tujuh negara
selama enam bulan. WOWWWW!!!! Eropa genk, EROPA!! E-RO-PAAAHHH!!!
Jadilah
aku manusia yang kayak ikan kekurangan air, mengap-mengap gak jelas gitu. Secara
acara itu diselenggarakan di jam kuliah, dan di jam itu aku harus ‘tertahan’ di
ruang kelas dengan empat sisi tembok bercat putih polos *masih bau cat, karena
ruangannya baru di cat*.
Oh
MG!!!
Gimana
ini, gimana??!! Secara aku pengeeeeeeeeeeenn banget ikut acara sosialisasi itu,
yaah... walaupun tahun ini negara impian ku itu nggak perpatisipasi. Tapi nggak
masalah, yang penting Eropa. Ke Bosnia pun itu, aku mau. Yang penting Eropa dan
itu adalah kunci untuk ku bisa ke negara impian ku itu. Oh MY GOD!!! Help! Help.
Sebelum ke kampus aku sempat komat-kamit, berdoa agar bapak yang ngajar kuliah
ku itu nggak datang. Tapii..... jreeeeng jreeeeeeeeng!! Beliau yang biasanya
datang telat empat puluh lima menit dari jadwal kuliah itu, kali ini datang
tepat waktu apalagi mangkir kayak isi doa ku.
Tiba-tiba
muncul lah godaan itu, godaan untuk nggak masuk kuliah... dan disaat niat untuk
bolos kuliah itu udah membulat, sebulat bola piala dunia.... jreeeng jreeeng!!
“kak,
kita jadi presentasikan hari ini?”. Tanya adik leting ku yang kebetulan sekelas
dengan ku *dia yang ikut mata kuliah disemester ku, bukan aku ya yang ikut kuliah
di MK semesternya* hahahha.
Hah!!
Kenapa pula bocah yang satu ini ingat-ingatkan aku tentang presentasi itu. Memang
hari ini jadwal untuk presentasi.
Finally, gara-gara
ingat presentasi itu, aku menyeretkan kaki masuk kekelas. Di dalam hati aku
berdoa lagi, “Ya Allah....Tolong matikan
listrik, biar acara sosialisasinya di tunda sampai aku selesai kuliah”.
Ku
tunggu dan ku tunggu, ternyata listriknya masih meyala terang benderang. Aku berusaha
membesarkan jiwa dan raga, mungkin ini yang terbaik. Lalu aku berusaha untuk
fokus dengan prsentasi.
Dan
tau apa??
Bukannya
fokus, aku malah naik spaning pas presentasi. Mendadak tensi darah melejit jadi
160 per 90, gimana gak?
Pertama,
alasan aku masuk ke kelas karena biasanya dosen kami itu pasti ngacak manggil
nama kelompok yang prsentasi, jadi aku takutnya ntar kelompok ku yang di
panggil.
Ehh...
si bapak, malah milih untuk presentasi sesuai nomor urut kelompok. Dan sumpah! Aku
pengen nangis saat itu, karena aku berada di kelompok terakhir, kelompok 6. Kalau
tau gini kan, mending aku bolos dan ikut acara sosialisasi itu. Ooohhh.....
Eropaaaaa...
Dan
dengan emosi yang udah nyangkut di tenggorokan, aku bilang dengan dosen ku
untuk di acak aja kelompok mana yang tampil presentasi duluan. Awalnya si bapak
gak setuju, tapi alhamdulillah.... beliau mau juga.
Yihaaaaa!!!!
Selesai
ini aku bakal minta izin keluar. Mudah-mudahan diizinkan.
Di
saat kelompok kami tampil, lagi-lagi aku emosi. Kali ini tingkat dewa!! Belum tampil
aja, kelompok kami udah down gara-gara
si bapak itu mengucapkan sepatah kalimat yang benar-benar buat patah semangat. Belum
lagi dengan salah satu audiance yang
Subhanallah, sulit di ucapkan dengan kata-kata, gimana dia ‘berantusias’
bertanya, sampai-sampai aku keringatan. Bukan karena gak bisa menjawab, tapi
karena pertanyaan itu udah melebar kemana-mana. OH TUHAAAAN!!! Tolong matikan listriknya, matikan. Toloooongg!! Lagi-lagi
doa itu muncul, dan lagi-lagi, listrik masih tetap aman.
Singkat
cerita presentasi itu selesai juga. Huuufh, akhirnya. Sepanjang sejarah aku
kuliah, baru kali itu aku presentasi nggak fokus karena bebapa faktor. Faktor pertama
tentu aja acara sosialisasi itu. Faktor-faktor yang lain ya itu, aku kurang respect dengan suasana diskusi yang
menurut aku, kurang “asik”. Terlalu kaku, monoton, dan gitu lah pokoknya.
Di
saat niat ku untuk minta izin keluar kuliah itu muncul lagi, tiba-tiba......
Jreng-jreeeeeng!!!!
Aku
ngeliat bapak ketua panitia acara sosialisasi itu berjalan melewati kelas ku,
sampil pegang absen dan laptop! Lalu di susul dengan adik leting ku yang
kebetulan ikut acara sosialisasi itu.
Mendadak,
aku lemas. Acaranya udah selesai.
Ya
Rabiii.....
Salah
satu teman ku berbisik ke aku, “kalau emang rejeki kita ke Eropa, nggak ikut
acara sosialisasi pun kita bakal kesana”.
Aku
langsung mengaminkannya.
Itu
adalah sekelimit cerita ku tentang usaha ku untuk mengapai cita bisa ke Eropa. Ya!
Aku sangat-sangat ‘gila’ mau melanjutkan S2 ke sana, tepatnya ke PRANCIS !!.
yuuup!!! Udah hampir empat tahunan ini, aku pengeeeeen banget melanjutkan
kuliah ke Prancis. Memang sih, sekarang masih bingung, mau melanjutkan ke
jurusan apa. Secara aku tertarik ke bidang mikrobiologi dan juga tertarik ke
jurusan itu tu, teknik manufaktur. Entah kenapa, akhir-akhir ini aku ‘gila’
dengan ilmu yang ada unsur-unsur rancang merancang pabrik, dan tata letak. Bisa
jadi karena aku mendapatkan nilai “Vitamin anti sariawan” di mata kuliah tata
letak pas semester enam lalu, membuat aku penasaran abis dengan prinsip dari
ilmu itu. Atau bisa jadi juga karenaaa..... sudahlah lupakan. Hahhaha...!!!
Prancis!!
Oh... beneran, aku pengen banget kesana, melanjutkan kuliah disana. Memang sih,
sama kayak miih jurusan, aku juga masih bingung mau menargetkan kampus mana. Satu
sisi aku pengen melanjutkan study ke
universitas Montpillier, satu sisi aku juga tertarik kuliah di universitas Strasbourg.
Wuaaa... berawal dari pilem Laskar Pelangi yang aku nonton disaat SMA, aku jadi
penasaran dengan Prancis. Pernah aku tanya dengan salah satu dosen ku yang
alumni Prancis juga, aku tanya satu kalimat, eeeh.... beliau cerita banyak
tentang kehidupan sana, membuat aku malamnya nggak bisa tidur. Mendadak aku
udah bayangin berada di Prancis. Masya Allah. Hahaha.... dan aku juga ingat,
waktu itu aku lagi keluar kota ama emak, lagi jalan-jalan di mall mendadak mata ku ngelirik ke toko
yang ngejual asesoris cewek gitu, dan mata aku langsung tertuju kearah tas
tentengan warna biru yang ada gambar menara Eiffelnya. Disaat itu sih aku diam
aja, malah ngelewati toko itu dan terus belanja ama emak. Tapi, di saat kami
udah keluar dari mall, aku nggak
nahan ‘tuk nggak mampir ke toko itu. Akhirnya aku kembali ngajak emak ku untuk
masuk ke mall keliling mencari toko
asesoris tadi. Emak ku sempat nanya mau beli apa, tapi akunya diam aja. Baru deh,
waktu tiba di toko itu, aku langsung ngambil tas tentengan bergambar menara
Eiffel yang Cuma tinggal satu lagi. Emak ku Cuma bisa geleng-geleng kepala,
sambil pasrah ngeluarin uang dari dompet, karena aku udah langsung jalan ke
kasir, sebelum emak ku bilang kata-kata “Ngapain
lah beli yang gituan disini, yang ada berat isi koper. Udah beli di Banda Aceh
aja nanti”. Hhoho...
Mungkin
sebagian orang memang menganggap ku agak gila. Tapi, terserah lah mereka mau
bilang apa. Karena bagi ku, nggak ada yang gak mungkin di dunia ini kalau kita
berusaha, iya kan?
Man
Jadda Wa Jadda!!
Rêver,
En Priant, En Essayant, Le Succès!!!!
Dirumah,
emak dan kakak ku lah yang paling paham ‘kegilaan’ ku. Semua asesoris ku pasti
ada unsur-unsur prancisnya. malah pernah aku gambar menara Eiffel di karton dan
rencananya aku tempel di dinding, tapi gak jadi, gara-gara gambarnya jadi kayak
tower yang baru di guncang gempa. Hahahha
Lalu,
kayak judul tulisan ini CITA, CINTA, EROPA.
Dimana
cintanya???
Hahahhah...
kelaaaammm!!!
Udah
aku bilang kan, ngejar cita dulu biar dapat cinta. Sekarang aku mau fokus dulu
ama karier, keungan dan.... dan..... yayayaya....
Aku
sedang ‘merindukan’ seseorang *Eheeeeeeeeeeeeeeemmmmm!!! Hahahha, benar-benar
nggak jelas pembahasan yang ini *malu-malu*
Aku
sedang merindukan ‘dy’ yang udah lama nggak aku jumpa. Walaupun aku masih bingung,
entah merindukan dia sebagai teman atau.... hahhaha... sambung sendiri
kelanjutannya. Moga besok ketemu *berasa jadi anak SMA lagi. Hahahhahahaha
Tapi
apapun ‘rasa’ itu, yaaah, biarin aja deh. Biarkan bagaimana semestinya. Kalau iya
ini suatu “rasa”, yuk kita ke Eropa. Lah, ngapain??! Yaah, meniti cita
dooong!!! Masa jualan omelet dan jus?? Hahahahaha. *pembahasan udah semakin
nggak jelas*
Dari
pada aku semakin ngawur dengan pembahasan ini, mending di akhiri aja deh. Yang
jelas aku minta doanya, doakan aku bisa meraih cita dan cinta di Eropa. Amiiiiiiiiinnn!!!
J
Oya,
di halaman berikutnya insya Allah aku mau ngebahas tentang motivator ke dua ku,
dan sii mr. Semangka. Hahahha...
So,
tetap kepoin blog ku yaaaa.......
Label:
Edisi Cita
Lokasi:
Banda Aceh, Aceh, Indonesia
Minggu, 01 Desember 2013
Senja Yang Terlupa...
Senja yang terlupa,
Terkubur bersama cerita yang
hanya mampu menjadi rahasia.
Tertahan dalam kata, bersama satu
juta warna yang tak lagi ku rasa bermakna.
Bagai senja yang terlupa.
Ku biarkan semuanya menguap ke
udara. Berbaur bersama debu-debu kosmik tak bermassa.
Biarlah tak mengapa, bila aku
kini hidup terlupa oleh semesta.
Seperti senja yang terlupa dan
tertutup oleh nebula mega,
Atau tersapu oleh malam yang
mulai datang dari kaki-kaki langit cakrawala.
Aku tak hanya hidup dalam
mencinta,
Tak hanya terjebak dalam opera
takdir yang hanya bisa membuat ku terluka,
Sebab cinta yang kurasa, bukanlah
yang biasa.
Sebab orang yang ku cinta, tak
bisa lagi ku jangkau untuk bisa bersama.
Senyatanya gila ku lakukan, itu
hanya akan mencampakkan ku pada neraka dunia.
Karena hati, tak mungkin
berpaling dari kata Sang Pencipta.
Untuk kau, aku, dia, dan kita.
Yang hidup pada satu masa kehidupan
yang dituliskan sang Pemilik Cinta.
Ini memang cerita nyata, yang
hanya bisa menjadi potongan kisah sepihak ku saja.
Cerita tentang aku yang menunggu
potongan kisah ku terpungut oleh mu.
Terkutip untuk kau jadikan
pelengkap kehidupan. Tapi sayang, itu hanya angan.
Kau, aku, kita. Berbeda.
Hidup dalam jeda dunia yang terbentang
berjuta hasta.
Aku hanya bagian dari mereka, ilalang,
batu jalanan, yang hanya kau pandangi sekilas.
Lalu kan tergoyang oleh angin,
atau tersepak di jalan sebagai pecundang.
Aku hanya bagian dari mereka,
Yang terjebak dalam ego manusia
yang kan membuat binasa.
Bagian dari potongan sejarah
peredaran semesta, dengan cinta yang tak bisa terucap menjadi kata.
Sebab aku, hanyalah wanita yang
tak mempunyai kuasa.
Sebab aku hanyalah wanita yang
harus mengerti, tak semuannya harus dimiliki.
Dan bagai senja yang terlupa,
Begitulah aku harus hidup kini,
membungkus semua angan, memenjarakan semua bayangan. Memasung getar hati, tiap
kali aku melihat mu dihadap ku.
Mengiklaskan semua kenyataan,
Tentang kau, yang tertulis pasti
menjadi bagian dalam satu bab kehidupan ku.
Namun tak pernah ku dapati kau
hadir dalam kuncup akhir perjalanan hidup ku.
Sebab, kau buta akan cinta yang
berusaha ku ungkap tiap kali mata mu, mata ku, mata kita beradu pandang.
Sebab kau tuli, akan degup ritme
jantung yang tak mau berdebar seperti biasa.
Sebab Sang Penulis skenario
Kehidupan, memang tak mencipta kan ku tuk menjadi pemeran utama dalam kitab mu.
Bagai senja yang terlupa.
Ku biarkan semuanya menguap ke
udara. Berbaur bersama debu-debu kosmik tak bermassa.
Hidup haruslah menerima, akan
semua takdir yang tlah kita sepakati denganNYA, dulu.... sebelum mampu
kaki-kaki ini menginjak semesta.
Tak bisa ku langkar, tak bisa ku
ingkar.
Hidup haruslah mengiklaskan,
mengiklaskan hal yang mungkin tak bisa teraih walau tlah berusaha.
Tak harus menangis, tak harus
kecewa.
Hidup haruslah bersyukur, akan
kehadiran kau, aku, dia, kita dan mereka yang hidup dalam satu masa kehidupan.
Bersyukur akan nafas yang tlah dihembusiNYA pada raga.
Bersyukur akan cinta yang tlah di
anugerahkanNYA, walau kini hanya bisa menjadi rahasia,
Sebab waktu dan takdir yang tak
mau berkawan.
Biarlah, tak mengapa.
Sebab... senja pasti kan terlupa.
Terganti oleh malam yang mulai
datang, menutup semua cerita.
Tentang cinta rahasia di suatu
senja yang harus dilupa.....
Banda Aceh,
2 November 2013
#Masih tentang cerita cinta
rahasia untuk seorang anak manusia....
Jumat, 29 November 2013
Galau Is...
Kehujanan
pas pulang kuliah sore tadi, tiba-tiba aja menghujani aku sebuah inspirasi
untuk menulis sesuatu. Yaah! Sesuatu yang akhir-akhir ini lagi banyak melanda
para AbeGe-AbeGe maupun para anak muda, nggak terkecuali sang penulis. Hahhaha
Ok,
tulisan ini ditulis dengan diiringi lagu Galau yang dinyanyiin ama om Yovie n
the Nuno, biar tambah komplit dah galaunya. Hhehe... baik-baik, kita menuju ke
topik. Sebenarnya kata-kata “galau” ini udah mendarah daging dengan para jiwa
muda yang sedang dilanda cinta *walau nggak bisa divonis juga kalau semua orang
yang galau itu akibat cinta. Non. Non. Non. Ada banyak hal yang membuat kita
“galau”. Bisa jadi aja karena bingung harus milih ini atau itu, galau dengan
duit di dompet yang mulai menipis sedang kreditan baju belum lunas *ini jelas
bukan pengalaman penulis ya, hhahah* dan masih banyak jenis galau-galau lainnya
yang memang gak bisa dipunggkiri, galau akibat “urusan hati” begitu mendominasi
akhir-akhir ini. “urusan hati” itu begitu kuat menancapkan eksistensinya
akhir-akhir ini di jiwa anak muda, hingga menimbulkan efek sering bengong
sendiri kayak sapi ompong, atau bad mood seharian
yang nggak ketulungan, atau... nangis meraung-raung dikamar akibat apa? Ya ya
ya, GA-LAU!!
Sebenarnya,
kata “galau” itu udah lama bersliweran di kancah perbahasaan, malah lagu tante
Titi DJ aja ada yang liriknya nyebut-nyebut kata “galau”, tapi entah kenapa
disaat itu belum terlalu booming dengan
istilah ini, malah terkesan nggak ngeh. Nah, siapakah yang pertama kali mempopulerkan
istilah galau itu ke publik? Membuat
seluruh remaja dan muda mudi seantero nusantara rame ngebuat status “galau tingkat dewa”. Emangnya dewa
pernah galau?? Ckckckck
Menurut
KBBI, Galau itu adalah keadaan pikiran yang kacau balau *waduh, habis di landa
badai kali ya tu pikiran* . dan mungkin emang bener banget, kekacauan pikiran
itulah yang membuat efek perubahan sikap yang drastis bagi para penderitanya.
Efek tersebut bisa bermacam-macam, seperti yang aku sebut sebelumnya.
Ok.ok.
aku nggak bisa bohong, kalau saat nulis ini aku juga sedang galau, galau akan
sesuatu, galau akan pikiran yang gak pasti dan... sudah lah, hentikan sandiwara
mu Anabella!! *Korban Telenovela, sorry sorry :D
Kali
ini aku mau menceritakan “sedikit” cerita kegalauanku, dan kita akan “sedikit”
mengambil hikmah dari rasa itu. Nggak ada yang sia-sia di muka bumi ini, right? Bahkan galau itu sendiri yang
selama ini terkesan memberikan efek kurang baik, ternyata bisa juga memberikan
sesuatu yang positif. Apa itu? Yuuk, simak cerita berbii. Hahahha
Cerita
berawal dari awal semester tujuh....
Jreeeeng
jreeeeeeeeng jreeeeeeeeeeeeeeeeeeeeng!!!
Mungkin
semester ini adalah semester “TERGALAU” yang pernah aku lalui, selama aku
melanglang buana dikancah perkuliahan. Karena apa? Karena cinta
*Aseeeeeekkkkkk. Wkwkwkkwk. Ya, nggak bisa aku pungkiri aku adalah satu dari
jutaan umat manusia diluaran sana, yang dilanda galau gara-gara urusan hati
yang satu ini. Dan ternyata, galau
gara-gara urusan hati ini lebih nggak mengenakkan dari pada galau gara-gara
mikirin utang. Beneran loh! Suwer deh berbii!!! Mungkin juga aku udah sering
mengalami “galau” urusan hati, tapi galau kali ini bener-bener membuat aku
galau *bahasa orang galau kadang emang agak beribet.
Dan....
sebut saja namanya mr. XX, karena aku sama sekali nggak mau membuat dia
terkenal secara dadakan karena pernah jadi topik di blog ini. Sebenarnya aku
kenal dia sih udah dari awal semester enam.
Dia sering berkeliaran disekitar aku, bukan tebar pesona, tapi memang
karena kami berada dibawah satu naungan, membuat kami sering berjumpa. Aku
nggak pernah bicara dengan dia, walau aku banyak dengar “bisik-bisik tetangga”
tentang dia, tentang kehidupannya, tentang kecerdasannya, dan tentang-tentang
yang lainnya. Aku sama sekali cuek dengan dia, karena beberapa alasan yang
nggak bisa aku jelaskan. Bahkan, disaat salah satu sahabat ku udah “heboh”
dengan dia, aku masih biasa-biasa aja. Aku sama sekali nggak “melirik” dia,
padahal dulu pernah kami sama-sama ikut kegiatan di luar kota gitu, kami sering
berpapasan, tapi aku tetap nggak “seheboh” salah satu sahabat ku itu. Alasan
ketidak hebohan ku adalah....*suatu alasan yang nggak bisa aku tuliskan.
Hahhaha....
Lalu
datang lah hari itu... hari dimana rasa aneh itu muncul. Kami kembali berada di
dalam satu forum formal di kampus. Dan entah akunya yang keganjenan atau apa,
nggak pake intro nggak pake pembuka, tiba-tiba aja jantung ku nge-break dance
saat aku menatapnya *maaf ya, kalau bahasanya rada alay. Dan aku terpesona.
Sepanjang sejarah aku hidup, aku itu jarang terpesona dengan orang, terlebih
dengan perasaan yang luar biasa meluap-luap kayak sungai ciliwung yang meluap
dikala musim hujan datang. I know... mungkin
ada puluhan cowok di kampus ku yang “lebih” darinya, tapi semua itu memang
relatif, kecakepan seseorang bukanlah harga mati untuk suatu rasa yang harus
dituju untuk siapa. Tapi segala esensi dan eksistensinya itulah yang penting,
bukan hanya sekedar menyandang nama dengan deretan embel-embel, tapi memang
sesuatu yang “luar biasa” yang ku temui ada di dalam dirinya. Saat melihat dia
ada di hadapan ku saat itu, aku sama sekali tidak mengedepankan “rasa aneh”
yang tak aku pahami itu, karena aku melihatnya saat itu adalah sebagai orang
luar biasa mempesona dengan cita dan mimpi yang ternyata sama dengan ku, lebih
tepatnya mimpi dan cita ku, sedangkan dia telah merealisasikan mimpi dan
cita-citanya itu yang ternyata sama dengan ku itu. Ngerti kan maksudnya?
Aku
menentang segala pikiran aneh ku yang muncul menggelayut di kepala, dan entah
ini sial atau apa, kami lagi-lagi harus terlibat dalam suatu urusan kampus.
Nggak main-main, urusan kampus ini memakan waktu tiga hari berturut-turut, Oh
MG!!! Nggak bisa aku ungkapkan dengan kata-kata, gimana perasaan ku selama tiga
hari itu. Antara seuneng kesemsem, senyam senyum sendiri kayak orang gila dan
antara pikiran yang menentang keras sebab satu alasan. Dan lagi-lagi, aku nggak
bisa bilang alasan apa itu.
Ternyata
aku terkalahkan oleh rasa yang menggeser akal sehat ku keambang batas kegilaan.
Aku terjebak dalam urusan hati, yang sayangnya harus aku tanggung sendiri.
Seperti efek domino, seperti itulah yang terjadi selanjutnya, usai dari acara
tiga hari itu, ada saja hal berturut-turut yang membuat ku harus terlibat dan
berhadapan dengannya. Di saat ku mulai berusaha membuang semua urusan hati yang
perlahan mulai membuat ku galau, adaaaaaaaa ajaaaaaaaaaaaaaaaa sesuatu yang
membuat ku harus muncul dan berurusan dengannya. Mulai dari urusan kampus aku
ketemu dengan dia, sampai ke luar kampus. Sering kali aku ketemu dia, atau Cuma
sekedar ngeliat mobil dia yang terparkir di tempat-tempat yang aku kunjungi.
Kalau aja “sesuatu alasan yang gak bisa aku sebutkan itu” nggak ada, udah pasti
aku keGEERan dan menganggap kalau dia sedang “kepo”in aku, atau semesta yang sedang
mendukung antara aku dan dia. Tapi sayangnya, tidak pemirsa sekalian. Non. Non.
Non!!
Tercampaklah
aku dalam lautan kegalauan. Ok, sekali lagi aku bilang, aku udah terbiasa dalam
urusan galau masalah hati. Malah pernah tanpa sengaja aku lewat di salah satu
gedung di kota ku yang sering di sewa untuk acara resepsi, dan tiba-tiba aja
mata ku melihat ke nama yang bertengger manis di papan bunga di depan gedung
itu, nama “gebetan” ku yang bersisian dengan nama orang yang gak aku kenal,
dengan tulisan SELAMAT BAHAGIA segede gaban. Jujur, disaat itu aku galau. Tapi
kadar kegalauannya itu nggak separah galau dengan si mr. XX ini. Entahlah,
pesonanya begitu luar biasa.
Galau
is.... sesuatu rasa yang nyaris membuat gila kalau nggak bisa dikelola secara
dewasa. Galau terjadi karena otak nggak sanggup menjangkau suatu pikiran
khayalan tingkat tinggi yang tak menentu dan berubah-ubah. Sesuatu yang lain
dipikirkan dan lain kenyataan. Galau
terjadi karena hati yang terlampau banyak memupuk perasaan-persaan baik yang bisa
jadi aja semua itu dusta. Dan itulah yang terjadi dengan ku saat ini. Galau
berkepanjangan. Bisa jadi aja, cover seseorang itu bisa ketawa-ketiwi kayak
pemain lenong, tapi hatinya yang galau, siapa yang tahu?
Namun,
segalau-galaunnya rasa itu, pasti bisa di kelola secara bijak. Maksud ku, kita
yang lagi galau dengan urusan hati ini nggak mesti harus ‘menikmati’ rasa galau
itu dengan update status atau tweet dengan kata-kata alay yang buat seisi dunia
maya tau apa yang sedang kita rasakan, atau bengong sendiri di bawah pohon
kamboja, murung dan lain sebagainya.
Banyak
hal positif yang bisa kita ambil dari rasa galau itu, guys! Contohnya aja aku nii ya. Aku mungkin emang galau pisan
dengan perasaan ku ke mr. XX itu, sebab apa yang ku harapkan tak sejalan dengan
kenyataan dan itu membuat ku galau. Tapi di balik semua itu, aku bisa mengambil
hikmahnya. Dengan adanya rasa “galau” ku itu, berpuluh-puluh puisi tercipta,
berlembar-lembar diary terisi setiap malam, belasan bakal novel ku yang akan
aku kirimkan ke penerbit tercipta, dengan galau adalah ‘sumber’ inspirasi ku.
Mencintai
dan galau, sepertinya itu emang udah sepaket dan sedang ngetrend saat ini. Untuk kesekian kalinya aku bilang, itu juga terjadi
dengan ku. Mencintai mr. XX dan aku galau. Selain dampak positif dari kegalauan
yang ku sebut di atas itu, ternyata masih banyak daftar ‘efek baik’ dari rasa
galau. Dengan adanya galau, aku berusaha bangkit. Pernah aku cerita kan, mimpi
ku itu sama dengan mr. XX itu, walaupun saat ini ia sudah merealisasikannya. Naaah!!! Itulah yang sedang aku lakukan sekarang, merealisasikan mimpi ku itu.
Tiap kali aku hampir ‘mewek’ gara-gara lost
control kegalauan, sesuatu dari diri ku membisik kan kepada ku, mengatakan
kalau galau itu adalah ‘anugerah’ dari Allah yang harus disyukuri keadaannya.
Mencintai Mr. XX juga memberikan efek baik untuk ku, walaupun itu adalah cinta
sendiri yang harus ku tanggung. Mencintainya menjadikan ku seseorang yang nggak
cengeng dalam meraih mimpi. Seseorang yang mengajarkan ku tentang makna dari
sebuah kalimat, Nggak ada yang nggak
mungkin di dunia ini kalau kita memperjuangkannya dengan sungguh-sungguh.
Bahasa Arabnya, Man Jadda Wa Jadda,
atau kalau bahasa Prancisnya, Tu Peux Si
Tu Veux-ada kemauan ada jalan.
Mencintainya, benar-benar ‘menghidupkan’
mimpi-mimpi ku, membuat aku nabung ekstra keras dan ngejar berbagai beasiswa
untuk biaya kursus bahasa, itu tuh, bahasa dari negara impian ku nanti. Dan
biaya kursus itu nggak tanggung-tanggung Cin, sebanding dengan biaya SPP ku
satu semester. Tapi Alhamdulillah, biaya untuk kursus itu udah terkumpul * udah
aku bilang kan, nggak ada yang nggak mungkin* walaupun sekarang aku masih belum
nemu tempat kursus bahasa itu ada di kota ku ini, dan Mr. XX bersedia mengajariku bahasa itu, karena kebetulan dia juga jago bahasa itu, hahhahahhaha.... tapi aku lebih milih cari lembaga kursus aja deh, biar bisa dapat sertifikatnya yang sama kayak sertifikat TOEFL, lagian aku nggak mau lebih jauh melanggar "alasan yang gak bisa aku sebutkan itu".
Mencintai
seseorang, memang harus memberikan efek yang baik bagi orang yang mencintainya
kan? Dan itulah yang terjadi dengan ku. Meski itu adalah rasa “sebelah pihak”,
nggak masalah. Suwer deh, nggak masalah. Mencintai seseorang itu, harus bisa
menjadi motivasi bagi kita untuk menjadi yang lebih baik lagi. Saat ini,
sugesti itulah yang sedang aku tanam dibenak, memutar haluan, menjadikan mr. XX
itu hanya orang yang memberiku motivasi secara tidak langsung meski itu masih
dalam tahapan USAHA. Dan rasa galau yang ditimbulkan dari perasaan ku kepada
Mr. XX ini benar-benar dahsyat. Galau yang bermanfaat.
Bukankah,
novel-novel best seller, puisi-puisi
dan lirik lagu yang menyentuh hati itu munculnya dari rasa galau? Yah, rasa
galau itu membuat ‘bakat’ yang tak kita sadari keberadaannya itu, aktif. Bakat
untuk menulis, dan menceritakan sesuatu dengan bahasa yang indah dan menjadi
karya seni yang menabjubkan!
So,
mulai sekarang, bagi kalian yang galau, teruslah bergalau-galau ria, ciptakan
puluhan karya seni itu. Berhenti-lah untuk mewek, nangis, Cuma gara-gara galau.
Udah nggak jamannya lagi lho, menyikapi galau dengan berbagai hal yang nggak
penting seperti itu. Jadikan galau itu sebagai “Anugerah” yang harus kita
nikmati secara benar, bukan “Musibah” yang harus kita ratapi. Karena galau itu
seperti kopi, pahit kalau kalian nggak bisa menikmatinya dengan benar.
Sedangkan cinta itu sama kayak cokelat, manis dan pahit. Namun rasa itulah yang
membuat kalian nggak bisa berhenti untuk menikmati sebatang cokelat.
Galau
is.... COOL!!!!
Apapun
rasa itu, syukuri lah. Nikmatilah sebagai anugerah Allah, karena nggak ada yang
sia-sia di muka bumi ini, rasa galau pun bisa berubah menjadi sumber inspirasi
penuh seni, kalau kalian pintar-pintar menyikapinya. Try it...
Banda
Aceh, 29 November 2013.
*Ketika
penulisnya sedang galau, dan menumpahkannya dalam bentuk tulisan :D
Langganan:
Postingan (Atom)



.jpg)

