Rabu, 23 Juli 2014

Bila Rasa ini disebut....

Bila rasa ini adalah rindu,
Itu adalah untuk mu.
Untuk insan yang dipertemukan dan dipisahkan pada waktu bersamaan.
Tanpa sapaan, tanpa janji untuk saling berjumpa lagi nanti.

Jika rasa ini adalah rindu,
Itu adalah untuk mu.
Pada kenyataan antara pisah dan jumpa, hanya disekat oleh membran tipis transparan.

Untuk letupan gelembung rindu dihati,
Pada kuncup-kuncup harap ingin bertemu.
Kau mampu mempertahankan eksistensi mu disini,
Dihati ini.
Dulu, seperti itulah cara mu hadir,
Ratusan hari sebelum saat ini, detik ini ketika aq kembali mengenang mu, yang hanya bisa hidup di angan,
Terkunci di kata untuk ku ucapkan "siapa dirimu" pada dunia.

Dulu kau datang, memberi kesan.
Mengangumkan.
Menyelamatkan ku dari luka bercerancangan,
Tentang cita yang terlupa,
Tentang cinta pada dia yang ternyata kekal tak dapat terseka.
Juga tentang kecewa, nelangsa....

Jika doa itu adalah harapku
Pastilah untuk kau dan aku.
Untuk waktu yang tepat, agar berkenan merengkuhkan waktu ku, waktu mu, dan menyimpul jadi satu.

Jika doa itu adalah harapku,
Aku mendoakan mu, ada atau tiadanya lagi kau disemesta.
Aku mendoakan mu, terisi atau hampanya hati mu.
Aku mendoakan mu, terucapkan atau terabaikan janji suci untuknya itu.
Aku mendoakan mu, untuk kembali datang menyelamatkan ku dari luka yang kembali ternganga,
Untuk logika yang menggeser akal sehat ku, yang terus memupuk rasa ini dan jika rasa ini disebut rindu,
Maka itu adalah untuk mu.....

Banda Aceh, 23 juli 2014.

Jumat, 14 Februari 2014

Seperti Senja, aku Menyebut mu....



Aku kembali merajut cerita,
Pada potongan singkat waktu sang senja.
Menyeka sukma dengan bisik kata tak terjamah aksara.
Membisu dan mendiam....
Seperti itulah ku lukiskan hadir mu...

Kau datang sungguh seperti senja.
Singkat namun meninggalkan kenangan yang mungkin tak terlupa oleh ingatan.
Dibawah naungan langit merah saga,
Dengan pantulan cahaya oranye keemasan,
Kau datang pada ku.
Dari belahan dunia yang tak pernah terduga.

Salah kah bila ku mencinta?
Pada waktu singkat senja, dan ternyata ada kau disana?
Kau hadir bagaikan gemuruh ombak memecah pantai.
Riuh, bergemuruh di dada ku, meneriakkan panji-panji nama mu.
Mengalihkan aku, yang dulu sempat terpasung dalam cerita lama beratas namakan cinta buta.

Tatapan mata mu, sungguh seperti senja.
Tenang dan menyiratkan seribu satu tanda tanya yang membuat ku hampir gila,
Berusaha menebak, mencari makna, menerka, menumbuhkan prasangka,
Senyatannya mungkin juga ada nama ku disana.
Mengisi jejak-jejak lembar kisah hidup mu,
Menggores dengan guratan-guratan kenangan antara kau dan aku, yang sempat dibekukan oleh kumpulan data dan piksel.
Namun sayangnya, itu tak ada...

Salahkan waktu?
Yang terlalu cepat berdetik, hingga waktu ini sungguh aku rasa begitu singkat?
Tapi, sepertinya tidak...
Takdir masih berbaik hati mempertemukan kau dan aku, yang jelas datang dari benua yang berbeda.
Menyimpulkan pita kisah antara kau dan aku, disini, di negeri asing ini.

Kau datang, sungguh seperti senja.
Tak bisa berdiam diri lebih lama dihadapku, sehingga aku bisa mengucap cinta.
Dan kini, aku hanya bisa berdiam dengan kata yang ku rasa mulai membeku.
Membiarkan kau berlalu, dengan rasa ikhlas yang ku punya.
Bukankah memang seperti ini, kata dari mereka terdahulu yang telah lebih dahulu mengecap segala asa dan cinta?
“Hakikat cinta adalah mengikhlaskan”
Dan, sudah seperti ini hakikat dari senja.
Hadir dengan penuh pesona pada waktu yang sungguh begitu singkat.

Kau, senja yang ku punya.
Tenggelam di ambang batas cakrawala.
Sampai berjumpa, sampai takdir mempertemukan kita lagi, pada senja yang berbeda namun dengan rasa yang sama.
Sampai jumpa cinta, semoga nanti Sang Maha Cinta kembali berkenan, mempertemukan kau dan aku, pada senja di suatu masa...

Leupung, Aceh Besar.

#Untuk cinta yang ada di suatu senja J

Sabtu, 11 Januari 2014

Rasa dalam Beku Kata



Aku yang semakin kacau,
Dengan apa ingin dan harapku yang terus tak mau bertemu dengan waktu.
Aku yang meracau dengan perasaan yang berserakan.
Berjalan berdarah, bernanah, memijak beling penuh nama mu yang tak bisa ku hindari.
Kemana harus ku berlari? Siapa yang harus ku caci dalam urusan ini?

Untuk mu, dan sungguh ini untuk mu.
Mencintai mu adalah hal terberat yang pernah aku lalui.
Saat aku harus merobek paksa segala bahagia ku, bila mata ku, mata mu, beradu pandang.
Ketika aku harus tersadar dari ilusi panjang tak karuan, yang terus menyerbu menyodorkan segala hal yang membuat logika ku menggila.Membasahi lusinan kertas dengan tinta air mata pada lembar kitab ku.

Untuk mu, insan separuh dunia ku.
Tau kah kau? Mencintai mu adalah hal terindah dan tergila yang harus ku telan dalam satu tarikan napas. Tak memberi jeda, untuk ku memisahkan yang mana nyata dan dusta.
Semuanya terus terpupuk, tersemai di relung hati dan sialnya tak bisa ku musnahkan.

Siapa yang salah kini?

Haruskah aku menyalahkan waktu? Yang mempertemukan kau dan aku, terlambat dari waktu jumpa mu dan dia?

Atau takdir? Yang telah curang mempermainkan kita?

Atau mungkin salah ku? 
Yang tlah salah bercita terlalu tinggi, bermimpi terlalu naif, dengan mimpi, cita, cinta dan asa ku yang ternyata semuanya bertumpu pada mu?
 Sungguh tak dapat ku palingkan semua ini.

Untuk mu, insan ciptaaNya yang tlah membuat ku jatuh cinta.
Ingin ku bercerita, tapi aku hanya mampu berprosa.
Karena aku tau, tak dapat lagi kau dengar apa yang bisa ku ucap, tentang segala esensi hati.

Ingin ku memandang mu, untuk waktu yang lebih lama. 
Namun aku tak bisa. karena dunia mu sungguh tak nyata untuk dapat ku seka.

Ingin ku, melipat jarak antara kau dan aku, agar tak ada lagi pembeda. Tapi senyatanya hanya tertinggal jeda, dan dia tlah sungguh nyata dikirimkan Oleh sang Kuasa untuk mampu mengubah semua dunia.
Mewarnai hidup mu, mengelamkan semesta ku dengan penuh dosa, bila aku berani mententang semua alur cerita dari skenario Sang Maha Esa, Dia yang yang Maha Mengetahui,
Tentang semua...
Semua dan semua, tentang kau yang ku temui, diujung senja yang harus tertelan oleh cakrawala dan cinta yang terhitamkan oleh malam.

Dan rasanya Aku yang semakin kacau,
Dengan apa ingin dan harapku yang terus tak mau bertemu dengan waktu.
Aku yang meracau dengan perasaan yang berserakan.
Yang hanya bisa memendam rasa dalam beku kata. Dan kau yang tak pernah tersentuh oleh nyata.....

Banda Aceh,
11 Januari 2014

Rabu, 25 Desember 2013

Kadang Bisa Jadi Ini Sebuah Prosa



Kadang...
Ada tempat-tempat yang tak harus kita datangi...
Bukan karena tak mampu tuk melangkah kesana.
Tapi karena memang kita belum bisa mendatangi tempat itu.

Kadang...
Ada peristiwa-peristiwa yang tak harus kita hadiri.
Bukan kita tak pantas untuk menjadi pemeran utama.
Tapi memantau dari balik kaca sepertinya lebih baik, agar tak ada goresan hati tentang makna dari sebuah kata luka.

Kadang...
Ada saatnya kita harus bersembunyi.
Bukan karena berjiwa pengecut.
Tapi karena waktu yang belum mempersiapkan kita tuk menjadi sosok yang lebih kuat, bila kita menghadapi sesuatu itu.

Kadang...
Ada hal-hal yang tak bisa tergapai di bumi ini.
Bukan karena tak layak untuk mendapatkannya, namun ada saatnya kita harus iklas dengan keadaan. Membiarkan semuanya berlalu, tanpa bisa kita hadari, karena waktu yang tak mau tahu menahu.
Dan rasanya, aku tlah seperti itu kini...
Yang harus iklas dengan semua yang ada.
Ada saatnya aq harus bersembunyi dari orang-orang yang tak bisa ku jumpai.
Bukan karena berjiwa pecundang, tapi aku memang tak bisa saling beradu pandang.
Aku tak mau, kalau nanti kau, dia dan mereka tau apa yang ada disini (hatiku) dan apa yang masih tersisa di semesta ini (aku) yang selalu tesadar akan cinta semu. Selalu terjebak diantara cinta tak kasat mata yang hampir membuatku tak berlogika.

Ini saatnya aku harus diam dalam satu bagian buku kehidupan,
Bukan tak mau mengakhiri cerita dengan bagian kau dan aku bersama.
Tapi senyatanya, kini bukan saat ku untuk menulis semua skenarionya, Dialah Yang Maha Mengetahui, yang kini mengambil bagian. Tak bisa ku tentang, tak bisa ku membangkang.

Iklas ku untuk merela semua.
Tentang diam ku, yang tak mungkin melangkah ke tempat itu.
Tentang aku yang terpaku, tak mungkin bisa menjadi pemeran utama, dalam satu bagian potongan kehidupan mu. Meskipun potongan puzzle kehidupanmu itu berceceran, berantakan, berhamburan, tetap, tak bisa tersisip nama ku disana.
Tentang aku yang harus bagai kafilah, bersembunyi karena aku yang tanpa sengaja tlah membawa nama dan bayang mu di ingatan. Sedang aku tau, itu tak patut untuk ku.
Tentang kau dan aku, yang mungkin kini hanya bisa menjadi seperti langit dan bumi.
Bumi untuk ku, yang selalu hanya bisa memandang mu dari kekerdilan ku, menatap ketinggian  yang tak mungkin bisa terjamah.
Juga kau yang hanya mampu memandang ku dari ketinggian mu.
Walau sebenarnya aku tahu,
Kadang tak ada makna berarti yang mampu kau simak,
Yang mampu kau baca dari apa yang telah terjadi. Untuk diam ku, sembunyi ku, dan iklas ku untuk kau yang secara rahasia ku cinta, dan pelan-pelan harus ku lupa...

Banda Aceh
25 Desember 2013.



Senin, 16 Desember 2013

Cita, Cinta, Eropa...




Akuuu kembaliiiiii..... yuhuuu, disaat kepala ini mampet dengan urusan-urusan ‘duniawi’, tugas yang menimbun mengalahkan timbunan sampah di TPS, diwaktu deadline-deadline yang benar-benar akan membuat aku ‘dead’, dan syelaluu saja, ide untuk nulis itu muncul, menggelayut di pikiran dan pelupuk mata. Akhirnya aku pasrah dengan semua yang ada, akhirnya aku milih untuk nulis ‘tulisan’ ku ini, dari pada kebawa mimpi, gak enak makan dan gak enak badan? Mending aku tumpahkan semuanya disini.
Ok, kali ini mungkin judul dan temanya agak beda, yaitu....
Eeeeeeng iiiiiiiiiiiiiiiiiiiing eeeeeeeeeeeeeeeengggg!!!!

Cita, Cinta, Eropa!!!
Lah, kok tumben judulnya beda?? Biasanya pasti syeeeelalllluuuuu.... ngebahas cinto-cintoan sajo, gak pake cita dan lebih-lebih eropa?
So? Why???
Yayaya...! aku tau aku ini anak muda yang selalu nggak bisa jauh dari yang namanaya urusan hati, tapiiii... kali ini aku nggak mau Cuma ngebahas masalah cinto-cintoan, kali ini aku mau ngebahas tentang cita ku juga, dan itu nggak kalah penting urusannya, malah itu masuk di prioritas pertama dalam hidup. Dan untuk Eropa? Jelaaaaassss!!! Aku mau meniti cita di benua Eropa sana.  Dan aku juga tau, cita dan cinta itu selalu nyatu, nggak pernah lepas satu sama lain. Ada cita pasti ada cinta, walaupun belum tentu ada cinta ada cita. Hhehe...
Motivator ku pernah nulis di blognya yang sempat aku kepoin, si mr. Motivator itu nulisnya gini “Cita dan Cinta itu selalu nyatu, berawal dari cita dan membuahkan cinta”. Setelah aku pikir-pikir, kok bener juga ya? Hhehehe. Oya, mengenai sang motivator yang satu ini belum sempat aku ceritain siapa jati dirinya yang sesungguhnya *bahasa mu naakk ==” * si mr. Motivator ku ini adalah motivator kedua ku setelah TRR. Seseorang yang mengagumkan dan penuh ‘karisma’. Nanti deh, kapan-kapan aku cerita khusus tentang dia.
Ok, kita tinggalin sejenak tentang mr. Motivator itu. Kita kembali ke kata-kata yang di tulis di blognya. Hmmm... jadi aku cerita sedikit tentang si ‘beliau’ ini, jadi beliau ini nulis kata-kata itu di blognya, nah, ternyata dan ternyata si motivator ini benar-benar orang yang sangat-sangat memperjuangkan cita-citanya. Dan berawal dari itulah, muncul ini ‘CITA, CINTA. EROPA’.
Gimana ceritanya????
Yuuuuuuuuuuukkk chekidoooot!!!!!!!

Tadi pagi (16 Desember 2013) di kampus ku ada acara sosialisasi gitu, acaranya seputaran tentang kegiatan pertukaran mahasiswa gitu ke Eropa. Ke tujuh negara selama enam bulan. WOWWWW!!!! Eropa genk, EROPA!! E-RO-PAAAHHH!!!
Jadilah aku manusia yang kayak ikan kekurangan air, mengap-mengap gak jelas gitu. Secara acara itu diselenggarakan di jam kuliah, dan di jam itu aku harus ‘tertahan’ di ruang kelas dengan empat sisi tembok bercat putih polos *masih bau cat, karena ruangannya baru di cat*.
Oh MG!!!
Gimana ini, gimana??!! Secara aku pengeeeeeeeeeeenn banget ikut acara sosialisasi itu, yaah... walaupun tahun ini negara impian ku itu nggak perpatisipasi. Tapi nggak masalah, yang penting Eropa. Ke Bosnia pun itu, aku mau. Yang penting Eropa dan itu adalah kunci untuk ku bisa ke negara impian ku itu. Oh MY GOD!!! Help! Help. Sebelum ke kampus aku sempat komat-kamit, berdoa agar bapak yang ngajar kuliah ku itu nggak datang. Tapii..... jreeeeng jreeeeeeeeng!! Beliau yang biasanya datang telat empat puluh lima menit dari jadwal kuliah itu, kali ini datang tepat waktu apalagi mangkir kayak isi doa ku.
Tiba-tiba muncul lah godaan itu, godaan untuk nggak masuk kuliah... dan disaat niat untuk bolos kuliah itu udah membulat, sebulat bola piala dunia.... jreeeng jreeeng!!
“kak, kita jadi presentasikan hari ini?”. Tanya adik leting ku yang kebetulan sekelas dengan ku *dia yang ikut mata kuliah disemester ku, bukan aku ya yang ikut kuliah di MK semesternya* hahahha.
Hah!! Kenapa pula bocah yang satu ini ingat-ingatkan aku tentang presentasi itu. Memang hari ini jadwal untuk presentasi.
Finally, gara-gara ingat presentasi itu, aku menyeretkan kaki masuk kekelas. Di dalam hati aku berdoa lagi, “Ya Allah....Tolong matikan listrik, biar acara sosialisasinya di tunda sampai aku selesai kuliah”.
Ku tunggu dan ku tunggu, ternyata listriknya masih meyala terang benderang. Aku berusaha membesarkan jiwa dan raga, mungkin ini yang terbaik. Lalu aku berusaha untuk fokus dengan prsentasi.
Dan tau apa??
Bukannya fokus, aku malah naik spaning pas presentasi. Mendadak tensi darah melejit jadi 160 per 90, gimana gak?
Pertama, alasan aku masuk ke kelas karena biasanya dosen kami itu pasti ngacak manggil nama kelompok yang prsentasi, jadi aku takutnya ntar kelompok ku yang di panggil.
Ehh... si bapak, malah milih untuk presentasi sesuai nomor urut kelompok. Dan sumpah! Aku pengen nangis saat itu, karena aku berada di kelompok terakhir, kelompok 6. Kalau tau gini kan, mending aku bolos dan ikut acara sosialisasi itu. Ooohhh..... Eropaaaaa...
Dan dengan emosi yang udah nyangkut di tenggorokan, aku bilang dengan dosen ku untuk di acak aja kelompok mana yang tampil presentasi duluan. Awalnya si bapak gak setuju, tapi alhamdulillah.... beliau mau juga.
Yihaaaaa!!!!
Selesai ini aku bakal minta izin keluar. Mudah-mudahan diizinkan.
Di saat kelompok kami tampil, lagi-lagi aku emosi. Kali ini tingkat dewa!! Belum tampil aja, kelompok kami udah down gara-gara si bapak itu mengucapkan sepatah kalimat yang benar-benar buat patah semangat. Belum lagi dengan salah satu audiance yang Subhanallah, sulit di ucapkan dengan kata-kata, gimana dia ‘berantusias’ bertanya, sampai-sampai aku keringatan. Bukan karena gak bisa menjawab, tapi karena pertanyaan itu udah melebar kemana-mana. OH TUHAAAAN!!! Tolong matikan listriknya, matikan. Toloooongg!! Lagi-lagi doa itu muncul, dan lagi-lagi, listrik masih tetap aman.
Singkat cerita presentasi itu selesai juga. Huuufh, akhirnya. Sepanjang sejarah aku kuliah, baru kali itu aku presentasi nggak fokus karena bebapa faktor. Faktor pertama tentu aja acara sosialisasi itu. Faktor-faktor yang lain ya itu, aku kurang respect dengan suasana diskusi yang menurut aku, kurang “asik”. Terlalu kaku, monoton, dan gitu lah pokoknya.
Di saat niat ku untuk minta izin keluar kuliah itu muncul lagi, tiba-tiba......
Jreng-jreeeeeng!!!!
Aku ngeliat bapak ketua panitia acara sosialisasi itu berjalan melewati kelas ku, sampil pegang absen dan laptop!  Lalu di susul dengan adik leting ku yang kebetulan ikut acara sosialisasi itu.
Mendadak, aku lemas. Acaranya udah selesai.
Ya Rabiii.....
Salah satu teman ku berbisik ke aku, “kalau emang rejeki kita ke Eropa, nggak ikut acara sosialisasi pun kita bakal kesana”.
Aku langsung mengaminkannya.
Itu adalah sekelimit cerita ku tentang usaha ku untuk mengapai cita bisa ke Eropa. Ya! Aku sangat-sangat ‘gila’ mau melanjutkan S2 ke sana, tepatnya ke PRANCIS !!. yuuup!!! Udah hampir empat tahunan ini, aku pengeeeeen banget melanjutkan kuliah ke Prancis. Memang sih, sekarang masih bingung, mau melanjutkan ke jurusan apa. Secara aku tertarik ke bidang mikrobiologi dan juga tertarik ke jurusan itu tu, teknik manufaktur. Entah kenapa, akhir-akhir ini aku ‘gila’ dengan ilmu yang ada unsur-unsur rancang merancang pabrik, dan tata letak. Bisa jadi karena aku mendapatkan nilai “Vitamin anti sariawan” di mata kuliah tata letak pas semester enam lalu, membuat aku penasaran abis dengan prinsip dari ilmu itu. Atau bisa jadi juga karenaaa..... sudahlah lupakan. Hahhaha...!!!
Prancis!! Oh... beneran, aku pengen banget kesana, melanjutkan kuliah disana. Memang sih, sama kayak miih jurusan, aku juga masih bingung mau menargetkan kampus mana. Satu sisi aku pengen melanjutkan study ke universitas Montpillier, satu sisi aku juga tertarik kuliah di universitas Strasbourg. Wuaaa... berawal dari pilem Laskar Pelangi yang aku nonton disaat SMA, aku jadi penasaran dengan Prancis. Pernah aku tanya dengan salah satu dosen ku yang alumni Prancis juga, aku tanya satu kalimat, eeeh.... beliau cerita banyak tentang kehidupan sana, membuat aku malamnya nggak bisa tidur. Mendadak aku udah bayangin berada di Prancis. Masya Allah. Hahaha.... dan aku juga ingat, waktu itu aku lagi keluar kota ama emak, lagi jalan-jalan di mall mendadak mata ku ngelirik ke toko yang ngejual asesoris cewek gitu, dan mata aku langsung tertuju kearah tas tentengan warna biru yang ada gambar menara Eiffelnya. Disaat itu sih aku diam aja, malah ngelewati toko itu dan terus belanja ama emak. Tapi, di saat kami udah keluar dari mall, aku nggak nahan ‘tuk nggak mampir ke toko itu. Akhirnya aku kembali ngajak emak ku untuk masuk ke mall keliling mencari toko asesoris tadi. Emak ku sempat nanya mau beli apa, tapi akunya diam aja. Baru deh, waktu tiba di toko itu, aku langsung ngambil tas tentengan bergambar menara Eiffel yang Cuma tinggal satu lagi. Emak ku Cuma bisa geleng-geleng kepala, sambil pasrah ngeluarin uang dari dompet, karena aku udah langsung jalan ke kasir, sebelum emak ku bilang kata-kata “Ngapain lah beli yang gituan disini, yang ada berat isi koper. Udah beli di Banda Aceh aja nanti”. Hhoho...
Mungkin sebagian orang memang menganggap ku agak gila. Tapi, terserah lah mereka mau bilang apa. Karena bagi ku, nggak ada yang gak mungkin di dunia ini kalau kita berusaha, iya kan?
Man Jadda Wa Jadda!!
Rêver, En Priant, En Essayant, Le Succès!!!!
Dirumah, emak dan kakak ku lah yang paling paham ‘kegilaan’ ku. Semua asesoris ku pasti ada unsur-unsur prancisnya. malah pernah aku gambar menara Eiffel di karton dan rencananya aku tempel di dinding, tapi gak jadi, gara-gara gambarnya jadi kayak tower yang baru di guncang gempa. Hahahha
Lalu, kayak judul tulisan ini CITA, CINTA, EROPA.
Dimana cintanya???
Hahahhah... kelaaaammm!!!
Udah aku bilang kan, ngejar cita dulu biar dapat cinta. Sekarang aku mau fokus dulu ama karier, keungan dan.... dan..... yayayaya....
Aku sedang ‘merindukan’ seseorang *Eheeeeeeeeeeeeeeemmmmm!!! Hahahha, benar-benar nggak jelas pembahasan yang ini *malu-malu*
Aku sedang merindukan ‘dy’ yang udah lama nggak aku jumpa. Walaupun aku masih bingung, entah merindukan dia sebagai teman atau.... hahhaha... sambung sendiri kelanjutannya. Moga besok ketemu *berasa jadi anak SMA lagi. Hahahhahahaha
Tapi apapun ‘rasa’ itu, yaaah, biarin aja deh. Biarkan bagaimana semestinya. Kalau iya ini suatu “rasa”, yuk kita ke Eropa. Lah, ngapain??! Yaah, meniti cita dooong!!! Masa jualan omelet dan jus?? Hahahahaha. *pembahasan udah semakin nggak jelas*
Dari pada aku semakin ngawur dengan pembahasan ini, mending di akhiri aja deh. Yang jelas aku minta doanya, doakan aku bisa meraih cita dan cinta di Eropa. Amiiiiiiiiinnn!!!
J
Oya, di halaman berikutnya insya Allah aku mau ngebahas tentang motivator ke dua ku, dan sii mr. Semangka. Hahahha...
So, tetap kepoin blog ku yaaaa.......




Minggu, 01 Desember 2013

Senja Yang Terlupa...


Senja yang terlupa,
Terkubur bersama cerita yang hanya mampu menjadi rahasia.
Tertahan dalam kata, bersama satu juta warna yang tak lagi ku rasa bermakna.

Bagai senja yang terlupa.
Ku biarkan semuanya menguap ke udara. Berbaur bersama debu-debu kosmik tak bermassa.
Biarlah tak mengapa, bila aku kini hidup terlupa oleh semesta.
Seperti senja yang terlupa dan tertutup oleh nebula mega,
Atau tersapu oleh malam yang mulai datang dari kaki-kaki langit cakrawala.

Aku tak hanya hidup dalam mencinta,
Tak hanya terjebak dalam opera takdir yang hanya bisa membuat ku terluka,
Sebab cinta yang kurasa, bukanlah yang biasa.
Sebab orang yang ku cinta, tak bisa lagi ku jangkau untuk bisa bersama.
Senyatanya gila ku lakukan, itu hanya akan mencampakkan ku pada neraka dunia.
Karena hati, tak mungkin berpaling dari kata Sang Pencipta.

Untuk kau, aku, dia, dan kita.
Yang hidup pada satu masa kehidupan yang dituliskan sang Pemilik Cinta.
Ini memang cerita nyata, yang hanya bisa menjadi potongan kisah sepihak ku saja.
Cerita tentang aku yang menunggu potongan kisah ku terpungut oleh mu.
Terkutip untuk kau jadikan pelengkap kehidupan. Tapi sayang, itu hanya angan.

Kau, aku, kita. Berbeda.
Hidup dalam jeda dunia yang terbentang berjuta hasta.
Aku hanya bagian dari mereka, ilalang, batu jalanan, yang hanya kau pandangi sekilas.
Lalu kan tergoyang oleh angin, atau tersepak di jalan sebagai pecundang.

Aku hanya bagian dari mereka,
Yang terjebak dalam ego manusia yang kan membuat binasa.
Bagian dari potongan sejarah peredaran semesta, dengan cinta yang tak bisa terucap menjadi kata.
Sebab aku, hanyalah wanita yang tak mempunyai kuasa.
Sebab aku hanyalah wanita yang harus mengerti, tak semuannya harus dimiliki.

Dan bagai senja yang terlupa,
Begitulah aku harus hidup kini, membungkus semua angan, memenjarakan semua bayangan. Memasung getar hati, tiap kali aku melihat mu dihadap ku.
Mengiklaskan semua kenyataan,
Tentang kau, yang tertulis pasti menjadi bagian dalam satu bab kehidupan ku.
Namun tak pernah ku dapati kau hadir dalam kuncup akhir perjalanan hidup ku.
Sebab, kau buta akan cinta yang berusaha ku ungkap tiap kali mata mu, mata ku, mata kita beradu pandang.
Sebab kau tuli, akan degup ritme jantung yang tak mau berdebar seperti biasa.
Sebab Sang Penulis skenario Kehidupan, memang tak mencipta kan ku tuk menjadi pemeran utama dalam kitab mu.

Bagai senja yang terlupa.
Ku biarkan semuanya menguap ke udara. Berbaur bersama debu-debu kosmik tak bermassa.
Hidup haruslah menerima, akan semua takdir yang tlah kita sepakati denganNYA, dulu.... sebelum mampu kaki-kaki ini menginjak semesta.
Tak bisa ku langkar, tak bisa ku ingkar.
Hidup haruslah mengiklaskan, mengiklaskan hal yang mungkin tak bisa teraih walau tlah berusaha.
Tak harus menangis, tak harus kecewa.
Hidup haruslah bersyukur, akan kehadiran kau, aku, dia, kita dan mereka yang hidup dalam satu masa kehidupan. Bersyukur akan nafas yang tlah dihembusiNYA pada raga.
Bersyukur akan cinta yang tlah di anugerahkanNYA, walau kini hanya bisa menjadi rahasia,
Sebab waktu dan takdir yang tak mau berkawan.
Biarlah, tak mengapa.
Sebab... senja pasti kan terlupa.
Terganti oleh malam yang mulai datang, menutup semua cerita.
Tentang cinta rahasia di suatu senja yang harus dilupa.....

Banda Aceh,
2 November 2013
#Masih tentang cerita cinta rahasia untuk seorang anak manusia....


Jumat, 29 November 2013

Galau Is...


Kehujanan pas pulang kuliah sore tadi, tiba-tiba aja menghujani aku sebuah inspirasi untuk menulis sesuatu. Yaah! Sesuatu yang akhir-akhir ini lagi banyak melanda para AbeGe-AbeGe maupun para anak muda, nggak terkecuali sang penulis. Hahhaha
Ok, tulisan ini ditulis dengan diiringi lagu Galau yang dinyanyiin ama om Yovie n the Nuno, biar tambah komplit dah galaunya. Hhehe... baik-baik, kita menuju ke topik. Sebenarnya kata-kata “galau” ini udah mendarah daging dengan para jiwa muda yang sedang dilanda cinta *walau nggak bisa divonis juga kalau semua orang yang galau itu akibat cinta. Non. Non. Non. Ada banyak hal yang membuat kita “galau”. Bisa jadi aja karena bingung harus milih ini atau itu, galau dengan duit di dompet yang mulai menipis sedang kreditan baju belum lunas *ini jelas bukan pengalaman penulis ya, hhahah* dan masih banyak jenis galau-galau lainnya yang memang gak bisa dipunggkiri, galau akibat “urusan hati” begitu mendominasi akhir-akhir ini. “urusan hati” itu begitu kuat menancapkan eksistensinya akhir-akhir ini di jiwa anak muda, hingga menimbulkan efek sering bengong sendiri kayak sapi ompong, atau bad mood seharian yang nggak ketulungan, atau... nangis meraung-raung dikamar akibat apa? Ya ya ya, GA-LAU!!
Sebenarnya, kata “galau” itu udah lama bersliweran di kancah perbahasaan, malah lagu tante Titi DJ aja ada yang liriknya nyebut-nyebut kata “galau”, tapi entah kenapa disaat itu belum terlalu booming dengan istilah ini, malah terkesan nggak ngeh. Nah, siapakah yang pertama kali mempopulerkan istilah galau itu ke publik? Membuat seluruh remaja dan muda mudi seantero nusantara rame ngebuat status “galau tingkat dewa”. Emangnya dewa pernah galau?? Ckckckck
Menurut KBBI, Galau itu adalah keadaan pikiran yang kacau balau *waduh, habis di landa badai kali ya tu pikiran* . dan mungkin emang bener banget, kekacauan pikiran itulah yang membuat efek perubahan sikap yang drastis bagi para penderitanya. Efek tersebut bisa bermacam-macam, seperti yang aku sebut sebelumnya.
Ok.ok. aku nggak bisa bohong, kalau saat nulis ini aku juga sedang galau, galau akan sesuatu, galau akan pikiran yang gak pasti dan... sudah lah, hentikan sandiwara mu Anabella!! *Korban Telenovela, sorry sorry :D
Kali ini aku mau menceritakan “sedikit” cerita kegalauanku, dan kita akan “sedikit” mengambil hikmah dari rasa itu. Nggak ada yang sia-sia di muka bumi ini, right? Bahkan galau itu sendiri yang selama ini terkesan memberikan efek kurang baik, ternyata bisa juga memberikan sesuatu yang positif. Apa itu? Yuuk, simak cerita berbii. Hahahha
Cerita berawal dari awal semester tujuh....
Jreeeeng jreeeeeeeeng jreeeeeeeeeeeeeeeeeeeeng!!!
Mungkin semester ini adalah semester “TERGALAU” yang pernah aku lalui, selama aku melanglang buana dikancah perkuliahan. Karena apa? Karena cinta *Aseeeeeekkkkkk. Wkwkwkkwk. Ya, nggak bisa aku pungkiri aku adalah satu dari jutaan umat manusia diluaran sana, yang dilanda galau gara-gara urusan hati yang satu ini.  Dan ternyata, galau gara-gara urusan hati ini lebih nggak mengenakkan dari pada galau gara-gara mikirin utang. Beneran loh! Suwer deh berbii!!! Mungkin juga aku udah sering mengalami “galau” urusan hati, tapi galau kali ini bener-bener membuat aku galau *bahasa orang galau kadang emang agak beribet.
Dan.... sebut saja namanya mr. XX, karena aku sama sekali nggak mau membuat dia terkenal secara dadakan karena pernah jadi topik di blog ini. Sebenarnya aku kenal dia sih udah dari awal semester enam.  Dia sering berkeliaran disekitar aku, bukan tebar pesona, tapi memang karena kami berada dibawah satu naungan, membuat kami sering berjumpa. Aku nggak pernah bicara dengan dia, walau aku banyak dengar “bisik-bisik tetangga” tentang dia, tentang kehidupannya, tentang kecerdasannya, dan tentang-tentang yang lainnya. Aku sama sekali cuek dengan dia, karena beberapa alasan yang nggak bisa aku jelaskan. Bahkan, disaat salah satu sahabat ku udah “heboh” dengan dia, aku masih biasa-biasa aja. Aku sama sekali nggak “melirik” dia, padahal dulu pernah kami sama-sama ikut kegiatan di luar kota gitu, kami sering berpapasan, tapi aku tetap nggak “seheboh” salah satu sahabat ku itu. Alasan ketidak hebohan ku adalah....*suatu alasan yang nggak bisa aku tuliskan. Hahhaha....
Lalu datang lah hari itu... hari dimana rasa aneh itu muncul. Kami kembali berada di dalam satu forum formal di kampus. Dan entah akunya yang keganjenan atau apa, nggak pake intro nggak pake pembuka, tiba-tiba aja jantung ku nge-break dance saat aku menatapnya *maaf ya, kalau bahasanya rada alay. Dan aku terpesona. Sepanjang sejarah aku hidup, aku itu jarang terpesona dengan orang, terlebih dengan perasaan yang luar biasa meluap-luap kayak sungai ciliwung yang meluap dikala musim hujan datang. I know... mungkin ada puluhan cowok di kampus ku yang “lebih” darinya, tapi semua itu memang relatif, kecakepan seseorang bukanlah harga mati untuk suatu rasa yang harus dituju untuk siapa. Tapi segala esensi dan eksistensinya itulah yang penting, bukan hanya sekedar menyandang nama dengan deretan embel-embel, tapi memang sesuatu yang “luar biasa” yang ku temui ada di dalam dirinya. Saat melihat dia ada di hadapan ku saat itu, aku sama sekali tidak mengedepankan “rasa aneh” yang tak aku pahami itu, karena aku melihatnya saat itu adalah sebagai orang luar biasa mempesona dengan cita dan mimpi yang ternyata sama dengan ku, lebih tepatnya mimpi dan cita ku, sedangkan dia telah merealisasikan mimpi dan cita-citanya itu yang ternyata sama dengan ku itu. Ngerti kan maksudnya?
Aku menentang segala pikiran aneh ku yang muncul menggelayut di kepala, dan entah ini sial atau apa, kami lagi-lagi harus terlibat dalam suatu urusan kampus. Nggak main-main, urusan kampus ini memakan waktu tiga hari berturut-turut, Oh MG!!! Nggak bisa aku ungkapkan dengan kata-kata, gimana perasaan ku selama tiga hari itu. Antara seuneng kesemsem, senyam senyum sendiri kayak orang gila dan antara pikiran yang menentang keras sebab satu alasan. Dan lagi-lagi, aku nggak bisa bilang alasan apa itu.
Ternyata aku terkalahkan oleh rasa yang menggeser akal sehat ku keambang batas kegilaan. Aku terjebak dalam urusan hati, yang sayangnya harus aku tanggung sendiri. Seperti efek domino, seperti itulah yang terjadi selanjutnya, usai dari acara tiga hari itu, ada saja hal berturut-turut yang membuat ku harus terlibat dan berhadapan dengannya. Di saat ku mulai berusaha membuang semua urusan hati yang perlahan mulai membuat ku galau, adaaaaaaaa ajaaaaaaaaaaaaaaaa sesuatu yang membuat ku harus muncul dan berurusan dengannya. Mulai dari urusan kampus aku ketemu dengan dia, sampai ke luar kampus. Sering kali aku ketemu dia, atau Cuma sekedar ngeliat mobil dia yang terparkir di tempat-tempat yang aku kunjungi. Kalau aja “sesuatu alasan yang gak bisa aku sebutkan itu” nggak ada, udah pasti aku keGEERan dan menganggap kalau dia sedang “kepo”in aku, atau semesta yang sedang mendukung antara aku dan dia. Tapi sayangnya, tidak pemirsa sekalian. Non. Non. Non!!
Tercampaklah aku dalam lautan kegalauan. Ok, sekali lagi aku bilang, aku udah terbiasa dalam urusan galau masalah hati. Malah pernah tanpa sengaja aku lewat di salah satu gedung di kota ku yang sering di sewa untuk acara resepsi, dan tiba-tiba aja mata ku melihat ke nama yang bertengger manis di papan bunga di depan gedung itu, nama “gebetan” ku yang bersisian dengan nama orang yang gak aku kenal, dengan tulisan SELAMAT BAHAGIA segede gaban. Jujur, disaat itu aku galau. Tapi kadar kegalauannya itu nggak separah galau dengan si mr. XX ini. Entahlah, pesonanya begitu luar biasa.
Galau is.... sesuatu rasa yang nyaris membuat gila kalau nggak bisa dikelola secara dewasa. Galau terjadi karena otak nggak sanggup menjangkau suatu pikiran khayalan tingkat tinggi yang tak menentu dan berubah-ubah. Sesuatu yang lain dipikirkan dan lain kenyataan.  Galau terjadi karena hati yang terlampau banyak memupuk perasaan-persaan baik yang bisa jadi aja semua itu dusta. Dan itulah yang terjadi dengan ku saat ini. Galau berkepanjangan. Bisa jadi aja, cover seseorang itu bisa ketawa-ketiwi kayak pemain lenong, tapi hatinya yang galau, siapa yang tahu?
Namun, segalau-galaunnya rasa itu, pasti bisa di kelola secara bijak. Maksud ku, kita yang lagi galau dengan urusan hati ini nggak mesti harus ‘menikmati’ rasa galau itu dengan update status atau tweet dengan kata-kata alay yang buat seisi dunia maya tau apa yang sedang kita rasakan, atau bengong sendiri di bawah pohon kamboja, murung dan lain sebagainya.
Banyak hal positif yang bisa kita ambil dari rasa galau itu, guys! Contohnya aja aku nii ya. Aku mungkin emang galau pisan dengan perasaan ku ke mr. XX itu, sebab apa yang ku harapkan tak sejalan dengan kenyataan dan itu membuat ku galau. Tapi di balik semua itu, aku bisa mengambil hikmahnya. Dengan adanya rasa “galau” ku itu, berpuluh-puluh puisi tercipta, berlembar-lembar diary terisi setiap malam, belasan bakal novel ku yang akan aku kirimkan ke penerbit tercipta, dengan galau adalah ‘sumber’ inspirasi ku.
Mencintai dan galau, sepertinya itu emang udah sepaket dan sedang ngetrend saat ini. Untuk kesekian kalinya aku bilang, itu juga terjadi dengan ku. Mencintai mr. XX dan aku galau. Selain dampak positif dari kegalauan yang ku sebut di atas itu, ternyata masih banyak daftar ‘efek baik’ dari rasa galau. Dengan adanya galau, aku berusaha bangkit. Pernah aku cerita kan, mimpi ku itu sama dengan mr. XX itu, walaupun saat ini ia sudah merealisasikannya.  Naaah!!! Itulah yang sedang aku lakukan sekarang, merealisasikan mimpi ku itu. Tiap kali aku hampir ‘mewek’ gara-gara lost control kegalauan, sesuatu dari diri ku membisik kan kepada ku, mengatakan kalau galau itu adalah ‘anugerah’ dari Allah yang harus disyukuri keadaannya. Mencintai Mr. XX juga memberikan efek baik untuk ku, walaupun itu adalah cinta sendiri yang harus ku tanggung. Mencintainya menjadikan ku seseorang yang nggak cengeng dalam meraih mimpi. Seseorang yang mengajarkan ku tentang makna dari sebuah kalimat, Nggak ada yang nggak mungkin di dunia ini kalau kita memperjuangkannya dengan sungguh-sungguh. Bahasa Arabnya, Man Jadda Wa Jadda, atau kalau bahasa Prancisnya, Tu Peux Si Tu Veux-ada kemauan ada jalan.
 Mencintainya, benar-benar ‘menghidupkan’ mimpi-mimpi ku, membuat aku nabung ekstra keras dan ngejar berbagai beasiswa untuk biaya kursus bahasa, itu tuh, bahasa dari negara impian ku nanti. Dan biaya kursus itu nggak tanggung-tanggung Cin, sebanding dengan biaya SPP ku satu semester. Tapi Alhamdulillah, biaya untuk kursus itu udah terkumpul * udah aku bilang kan, nggak ada yang nggak mungkin* walaupun sekarang aku masih belum nemu tempat kursus bahasa itu ada di kota ku ini, dan Mr. XX bersedia mengajariku bahasa itu, karena kebetulan dia juga jago bahasa itu, hahhahahhaha.... tapi aku lebih milih cari lembaga kursus aja deh, biar bisa dapat sertifikatnya yang sama kayak sertifikat TOEFL,  lagian aku nggak mau lebih jauh melanggar "alasan yang gak bisa aku sebutkan itu".
Mencintai seseorang, memang harus memberikan efek yang baik bagi orang yang mencintainya kan? Dan itulah yang terjadi dengan ku. Meski itu adalah rasa “sebelah pihak”, nggak masalah. Suwer deh, nggak masalah. Mencintai seseorang itu, harus bisa menjadi motivasi bagi kita untuk menjadi yang lebih baik lagi. Saat ini, sugesti itulah yang sedang aku tanam dibenak, memutar haluan, menjadikan mr. XX itu hanya orang yang memberiku motivasi secara tidak langsung meski itu masih dalam tahapan USAHA. Dan rasa galau yang ditimbulkan dari perasaan ku kepada Mr. XX ini benar-benar dahsyat. Galau yang bermanfaat.
Bukankah, novel-novel best seller, puisi-puisi dan lirik lagu yang menyentuh hati itu munculnya dari rasa galau? Yah, rasa galau itu membuat ‘bakat’ yang tak kita sadari keberadaannya itu, aktif. Bakat untuk menulis, dan menceritakan sesuatu dengan bahasa yang indah dan menjadi karya seni yang menabjubkan!
So, mulai sekarang, bagi kalian yang galau, teruslah bergalau-galau ria, ciptakan puluhan karya seni itu. Berhenti-lah untuk mewek, nangis, Cuma gara-gara galau. Udah nggak jamannya lagi lho, menyikapi galau dengan berbagai hal yang nggak penting seperti itu. Jadikan galau itu sebagai “Anugerah” yang harus kita nikmati secara benar, bukan “Musibah” yang harus kita ratapi. Karena galau itu seperti kopi, pahit kalau kalian nggak bisa menikmatinya dengan benar. Sedangkan cinta itu sama kayak cokelat, manis dan pahit. Namun rasa itulah yang membuat kalian nggak bisa berhenti untuk menikmati sebatang cokelat.
Galau is.... COOL!!!!
Apapun rasa itu, syukuri lah. Nikmatilah sebagai anugerah Allah, karena nggak ada yang sia-sia di muka bumi ini, rasa galau pun bisa berubah menjadi sumber inspirasi penuh seni, kalau kalian pintar-pintar menyikapinya. Try it...

Banda Aceh, 29 November 2013.

*Ketika penulisnya sedang galau, dan menumpahkannya dalam bentuk tulisan :D