Rabu, 02 Oktober 2013

Mereka ; Sang Motivator #1

            Haaaaay haaaaaaaaaaaaayy haaaaaaaaaaaaayyy!!!!!
            Hufh, maaf-maaf kalo agak geje gini ya, maklum lah anak muda yang lagi labil. *nah lo??!
Tulisan ini sebenarannya aku tulis disaat aku lagi banyak-banyaknya tugas yang harus aku selesaikan, mulai dari tugas nyuci piring dirumah, nyuci, dan segala antribut pekerjaan rumah tangga lainnya, sampe ke tugas yang buaaanyaaak di kampus. Aku kira selesai PKL dulu, tugas-tugas itu bakal insaf ngejar aku, eh ternyata nggak, malah makin gencar. Selesai PKL, aku dikejar dengan proposal penelitian, selesai proposal penelitian, dihajar lagi dengan sidang proposal yang buat aku selalu merasa mules tiap kali ingat itu. Nah, selesai itu, Cuma dua hari aku bisa bernapas lega, selanjutnya?? Aku harus ngerjain laporan PKL, yang mau nggak mau harus selesai dalam seminggu ini, kalo nggak selesai, aku siap-siap angkat koper kembali PKL. OH TIDAAAAAAAKKKK!!!!!!
Jadi, disela-sela nulis laporan PKL, ide-ide untuk nulis itu muncul. Aku bingung ini ilham atau godaan, kenapa ide-ide itu muncul disaat aku lagi banyak-banyaknya tugas, KENAPAAAA???
So, sebelum aku makin gila karena harus berhadapan dengan laporan PKL yang harus aku kebut selama 7 x 24 jam, dan daripada aku makin stres, jadi aku ambil jalan tengah aja deh, biar aman. Aku nulis tulisan ini, yaaaa.... itung-itung juga sebagai sesuatu yang dapat menghilangkan penat ku itu. Terlebih, kali ini aku mau nulis tentang beberapa orang yang bisa dibilang sebagai ‘Motivator’ aku.
Yaaap!!!
Karena kehadiran dan kemunculan mereka inilah, aku selalu bisa bergerak maju, menantang dunia *lebay nian bahasa mu nak?* memang agak alay bahasanya, tapi beneran loh, mereka-mereka itu memang kayak motivator aku untuk teruuuuuuuuuus dan teruuuuuuuuuuuusssssssss bergerak maju, untuk meraih cita-cita, karena nggak ada yang gak mungkin di dunia ini, right??
Dan siapakah mereka???
Sebelumnya aku mau bilang ke kalian-kalian yang membaca ini, mereka ini adalah orang lain selain keluarga aku*karena bagi ku, keluarga terutama my lovely mom, adalah motivator sepanjang masa dalam hidup ku*. Mereka Nggak ada hubungan darah dengan aku, hidup di dunia yang sama dengan ku, walau ada salah satu dari motivator aku ini, yang dalam prakteknya, kami ini gak pernah bertegur sapa. Siapa. Siapa. Siapa???
Inilah mereka...
·         TRR
Mungkin ini udah yang kesejuta kalinya, aku nulis tentang manusia bermata coklat kayu ini. yap!! Dia adalah salah satu motivator dalam hidup ku, dan dia jugalah yang aku sebut diawal tadi, hidup satu dunia tapi kami nggak saling menyapa, bukan karena dia gagu, tapi karenaaa..... hanya Allah yang tau kenapa *hhahaha...
Aku kenal dengan dia, sekitaran tahun 2007-an, udah agak lama juga ternyata. Secara teori, jaraaaaak kami itu dekaaaaaaaaaaatt banget, tiap hari ketemu, tapi ya itu, aku ini kan orangnya pemalu dan pendiam, jadi aku nggak berani mulai duluan menyapanya. Awalnya aku nggak terlalu peduli dengan manusia ini, walaupun aku udah memberi label kalao dia itu adalah manusia sombong. Jelaslah, kalo nggak sombong, apa juga namanya??
Kecuekan aku ke manusia yang satu ini, terus berlanjut hingga tahun 2009 awal. Waktu itu tiba-tiba aja orang disekitar aku pada heboh, apa gerangan-apa???
Usut punya usut ternyata aku tau sumber kehebohan itu, ternyata dia mau ke Amerika.
Hah??!!!
Kemana. Kemana???!!!
Oya, sebelumnya aku mau bilang kalau dia itu lebih tua empat tahun dari ku.
Kita lanjut lagi ya...
Waktu itu aku syok, saat tau kalau dia mau ke Amerika. Bukan mau jadi TKI ilegal, tapi dia mau lanjutin kuliah disana. Waduuuh!!!
Aku aja belum pasti lewat di universitas di kota aku ini, lah dia?? maen terbang-terbang aja ke Negera patung Liberty itu.
Merasa iri?? Tentu dunk!!
Terlebih dengan kondisi secara teoritis antara dia dengan aku itu deeeekaaaaaaatttt banget, dan secara praktek jauuuuuuuuuuuuuuhhh banget, maka iri aku itu semakin bertambah. Iri disini bukanlah iri-iri ala sinentron yang sering nongol di tipi ya, yang nantinya pemeran antagonisnya menyelinap ke bandara, ngebocorin ban pesawat, terus pesawat yang dia tumpangi itu meledak. *hahhhaha, bisa nggak sih bannya di bocorin?* atau nanti akunya nambahin racun ke minuman si TRR ini, ntar dianya bakal mules terus bolak-balik ke toilet dan akhirnya ngebatalin berangkat ke Amerika, lantaran gak tahan naik pesawat nggak bisa bolak-balik ke toilet *heeeyya!! Sejak kapan di pesawat nggak ada toiletnya?*
Sudahlah, dari pada makin nggak jelas, mari kita perjelas. Jadi iri yang aku maksud disini adalah sebuah rasa iri yang.. hmmm... gimana ya mau aku bilangnya, aku merasa iri karena dia aja bisa lho kesana, so?? Kenapa aku nggak??!!
Mungkin itulah kalimat yang terus berputar-putar dikepala aku. Dan entah siapa yang mengomandokannya, tiba-tiba aja aku ngeadd FS-nya *jaman dulu belum terlalu familiar dengan FB*
Dan taraaaaaaaaaaaaaa!!!
Jadilah aku spy! Tiap ada ‘hal-hal’ baru yang dia posting, selalu aku yang jadi pembaca pertamanya. Hhahaha... dan kepala ku sempat nyut-nyutan saat ngeliat foto-foto dia yang berlatarkan salju, patung Liberty, Ohio university, dan lain sebagainya yang berbau-bau Amerika.
Ya Allah!!!
Aku pingin kesana, ya Rabb!! Aku pingiiiiiiiinnn!!!
Dia aja bisa, kenapa nggak???!!
Dan mulailah aku, bermimpi untuk meraih cita-cita, cita-cita setinggiiiiiiiii angkasa!
Saat itu, aku mutusin untuk bakal melanjutkan kuliah ke Korea *maklum, aku ini dulunya salah satu ELF *Everlasting Friends, para fansclubnya Super Junior* jadi wajar aja kalau aku milih negera gingseng itu.
Selain ngeliat-liat foto-foto di FS-nya, aku juga ngubek-ngubek catatannya. Ternyata banyak puisi-puisi yang dia postingkan di FS ataupun blognya. Aku masih ingat banget judul puisi dia yang pertama aku baca “ Kita Hanya Perlu Sedikit Waktu, Tidak Banyak Untuk Berbagi Cerita”. Puisinya itu kereeeeeeeeeeennn banget!! Bukan puisi alay kayak yang sering aku baca dari mereka-mereka gak sok pujangga.
Dari puisi-puisinya itu, perlahan namun pasti aku mulai menganguminya. Embel-embel sombong yang melekat di dirinya, perlahan pudar. Aku tau gimana dirinya yang sebenarnya, lewat tulisan-tulisannya itu. Dan perlahan-lahan, aku juga ikut-ikutan mulai nulis puisi kayak dia itu.
Yaaah!!!
Bisa dibilang, TRR ini adalah pelopor yang memancing ‘insting pujangga’ ku muncul kepermukaan. Jadilah aku sang penulis berlembar-lembar prosa. Tiap hari, selalu ada puisi-puisi dengan bahasa yang aku sendiri bingung mendefinisikan makna katanya. Hhahhaa. Entah itu prosa yang aku tulis untuknya, untuk mereka, atau... siapa dan apapun itu.
Jadi sekarang itu wajar aja deh, kalau aku ini pantang liat kertas kosong. Pasti ntar aku bakal nulis aksara-aksra indah itu. “Tulis tiap kata dalam bentuk aksara, karena segala bentuk ucap kata akan terlupa”. Di mulai dari dia-lah, aku mulai mencinta dunia tuliiiiiiiiiiiiiiiiiiiis menulis.  Sampai sekarang, udah puluhan puisi yang aku tulis, ntah itu di diary, blog, fs, fb, dan bahkan di buku-buku kuliah. Jadi jangan heran, kalau aku itu adalah salah satu manusia di kampus yang paling enggan meminjamkan catatanya ke kawan, bukan pelit dan bukan juga malas mencatat. Tapi karena entah itu di kulit bukunya, ntah di halaman paling belakangnya, pasti ada puisi-puisi aku itu, dan maluuuu euy, kalau ketauan. Hahahha.
Selain menularkan efek ‘suka menulis puisi’ TRR ini juga menularkan efek suka berkhayal, yang ujung-ujungnya aku salurukan dengan menulis cerpen dan novel. Sekarang udah ada belasan cerpen yang aku buat dan udah beberapa yang aku kirimkan ke media, dan untuk novel? Udah ada beberapa juga yang aku buat, tapi masih belum punya kesempatan untuk melemparkannya ke penerbit. Doakan sajo, aku bisa menjadi penulis novel best seller.
Sekarang, TRR itu udah balik lagi ke sini. Tuuuh, tiap hari dia kembali menampakkan batang hidungnya ke aku. Tapi yaah, mau itu tahun 2009 atau tahun 2013, kondisinya masih tetap sama. Kami masih belum bisa bertegur sapa. But, bagiku itu nggak masalah. Yang pasti, dia adalah salah satu orang yang menularkan efek positif untuk ku, guru yang mengajarkan aku tentang indahnya menulis semua yang kita rasakan dalam bentuk prosa. Dan dia jugalah yang membuat aku berani bermimpi, untuk bisa melihat dunia dari sisi lain, walaupun di awal-awal kuliah, aku berputar haluan untuk pindah negera tujuan, dari Korea pindah ke Prancis, lalu ke Australia dan sekarang ke Prancis lagi. hhahahha...
Dari dia jugalah, buat aku rajin menghapal vocab bahasa inggris yang dulu ogah banget aku lakukan. Dari dia, aku juga kenal lagunya INXS feat Sona dengan judul “Afterglow”. Lagu itu dari tahun 2010 sampai sekarang masih ada di playlist ku. Juga, aku semakin menyukai ‘senja’...
Kenapa aku bisa suka senja?
Karena senja itu bagiku begitu indah, singkat namun menawan. Pinter-pinter cara kitannya aja gimana melihatnya. Sama kayak hidup. Aku mau di hidupku yang Cuma satu kali ini, menjadi sesuatu yang ‘menawan’ bagi semua orang yang melihat ku dengan caranya.
Mungkin sebagian orang lebih menyukai pagi, sampe-sampe ada istilah ‘selamat pagi, semangat pagi’ yang di ucapkan bahkan disaat jamnya pocong beraksi, yaaah, memang betul, pagi itu adalah masa-masa anak manusia memulai harapan dengan menggantungkan segala doanya. Nah, tapi bagi ku, senja itu juga berarti, karena senja adalah waktu kita untuk mensyukuri apa yang telah kita dapati, dan apa yang belum bisa kita raih, bukankah dengan selalu bersyukur kita akan semakin dekat dengan Sang Rabbi??
Dan untuk motivator ku, TRR.... aku tau dia pasti nggak pernah bakal tau kalau aku ini menjadikan dia salah satu motivator ku *beribet amat dah bahasanya* tapi, apapun itu, aku tetap menganggapnya motivator. Karena dialah yang pertama kali mengenalkan ku akan mimpi dan cita-cita yang setinggi apapun dapat diraih kalau kita berusaha. Dari dia aku juga belajar untuk berjuang mengejar mimpi, dan... dari dia juga aku bisa merangkai berjuta kata membentuk prosa, entah itu tentang cinta, cita atau kecewa...
Aku suka dengan kata-kata yang aku dapatin sewaktu aku les di masa-masa SMA dulu, ini nih kata-katanya :
“Cinta nggak bakal bersatu, bila hanya 1 hati yang berbicara.
 Gak bakal ada bunyi tepuk tangan, bila hanya 1 tangan yang menepuk.
 Dan kita nggak bakal pernah tau dunia itu bulat, kalau kita nggak pernah   melihatnya dari atas.
Dan cita, nggak bakal menjadi nyata kalau kita nggak menjemputnya”

Mungkin itu cerita aku tentang motivator ku part 1 ini, di part 2 nanti aku bakal cerita tentang orang yang buat aku nggak bisa tidur siang malam, karena saking semangatnya kuliah dan cepat-cepat melanjutkan S2 ke negara ‘X’ itu. gimana ceritanya?? Tetap kepo-in blog aku yooo...
Mari kita tutup cerita hari ini, insya Allah aku bakal ngelanjutin part 2_y. Dan sekarang aku mau lanjutin nulis laporan PKL dulu yaaa!!
Byeee byeeeee!!!!
:)

Banda Aceh, 2 oktober 2013
Waktu dimana kepala
 seperti sedang kelelep gara-gara tugas yang bejibun

hahhaha.......