Haaaaay haaaaaaaaaaaaayy
haaaaaaaaaaaaayyy!!!!!
Hufh, maaf-maaf kalo agak geje gini ya, maklum lah anak
muda yang lagi labil. *nah lo??!
Tulisan
ini sebenarannya aku tulis disaat aku lagi banyak-banyaknya tugas yang harus
aku selesaikan, mulai dari tugas nyuci piring dirumah, nyuci, dan segala antribut
pekerjaan rumah tangga lainnya, sampe ke tugas yang buaaanyaaak di kampus. Aku kira
selesai PKL dulu, tugas-tugas itu bakal insaf ngejar aku, eh ternyata nggak,
malah makin gencar. Selesai PKL, aku dikejar dengan proposal penelitian,
selesai proposal penelitian, dihajar lagi dengan sidang proposal yang buat aku
selalu merasa mules tiap kali ingat itu. Nah, selesai itu, Cuma dua hari aku
bisa bernapas lega, selanjutnya?? Aku harus ngerjain laporan PKL, yang mau
nggak mau harus selesai dalam seminggu ini, kalo nggak selesai, aku siap-siap
angkat koper kembali PKL. OH TIDAAAAAAAKKKK!!!!!!
Jadi,
disela-sela nulis laporan PKL, ide-ide untuk nulis itu muncul. Aku bingung ini
ilham atau godaan, kenapa ide-ide itu muncul disaat aku lagi banyak-banyaknya
tugas, KENAPAAAA???
So,
sebelum aku makin gila karena harus berhadapan dengan laporan PKL yang harus
aku kebut selama 7 x 24 jam, dan daripada aku makin stres, jadi aku ambil jalan
tengah aja deh, biar aman. Aku nulis tulisan ini, yaaaa.... itung-itung juga
sebagai sesuatu yang dapat menghilangkan penat ku itu. Terlebih, kali ini aku
mau nulis tentang beberapa orang yang bisa dibilang sebagai ‘Motivator’ aku.
Yaaap!!!
Karena
kehadiran dan kemunculan mereka inilah, aku selalu bisa bergerak maju,
menantang dunia *lebay nian bahasa mu nak?* memang agak alay bahasanya, tapi
beneran loh, mereka-mereka itu memang kayak motivator aku untuk teruuuuuuuuuus
dan teruuuuuuuuuuuusssssssss bergerak maju, untuk meraih cita-cita, karena
nggak ada yang gak mungkin di dunia ini,
right??
Dan siapakah
mereka???
Sebelumnya
aku mau bilang ke kalian-kalian yang membaca ini, mereka ini adalah orang lain selain
keluarga aku*karena bagi ku, keluarga terutama my lovely mom, adalah motivator
sepanjang masa dalam hidup ku*. Mereka Nggak ada hubungan darah dengan aku,
hidup di dunia yang sama dengan ku, walau ada salah satu dari motivator aku
ini, yang dalam prakteknya, kami ini gak pernah bertegur sapa. Siapa. Siapa. Siapa???
Inilah
mereka...
·
TRR
Mungkin
ini udah yang kesejuta kalinya, aku nulis tentang manusia bermata coklat kayu
ini. yap!! Dia adalah salah satu motivator dalam hidup ku, dan dia jugalah yang
aku sebut diawal tadi, hidup satu dunia tapi kami nggak saling menyapa, bukan
karena dia gagu, tapi karenaaa..... hanya Allah yang tau kenapa *hhahaha...
Aku kenal
dengan dia, sekitaran tahun 2007-an, udah agak lama juga ternyata. Secara teori,
jaraaaaak kami itu dekaaaaaaaaaaatt banget, tiap hari ketemu, tapi ya itu, aku
ini kan orangnya pemalu dan pendiam, jadi aku nggak berani mulai duluan
menyapanya. Awalnya aku nggak terlalu peduli dengan manusia ini, walaupun aku
udah memberi label kalao dia itu adalah manusia sombong. Jelaslah, kalo nggak
sombong, apa juga namanya??
Kecuekan
aku ke manusia yang satu ini, terus berlanjut hingga tahun 2009 awal. Waktu itu
tiba-tiba aja orang disekitar aku pada heboh, apa gerangan-apa???
Usut
punya usut ternyata aku tau sumber kehebohan itu, ternyata dia mau ke Amerika.
Hah??!!!
Kemana.
Kemana???!!!
Oya,
sebelumnya aku mau bilang kalau dia itu lebih tua empat tahun dari ku.
Kita
lanjut lagi ya...
Waktu
itu aku syok, saat tau kalau dia mau ke Amerika. Bukan mau jadi TKI ilegal,
tapi dia mau lanjutin kuliah disana. Waduuuh!!!
Aku aja
belum pasti lewat di universitas di kota aku ini, lah dia?? maen
terbang-terbang aja ke Negera patung Liberty itu.
Merasa
iri?? Tentu dunk!!
Terlebih
dengan kondisi secara teoritis antara dia dengan aku itu deeeekaaaaaaatttt
banget, dan secara praktek jauuuuuuuuuuuuuuhhh banget, maka iri aku itu semakin
bertambah. Iri disini bukanlah iri-iri ala sinentron yang sering nongol di tipi
ya, yang nantinya pemeran antagonisnya menyelinap ke bandara, ngebocorin ban
pesawat, terus pesawat yang dia tumpangi itu meledak. *hahhhaha, bisa nggak sih
bannya di bocorin?* atau nanti akunya nambahin racun ke minuman si TRR ini,
ntar dianya bakal mules terus bolak-balik ke toilet dan akhirnya ngebatalin
berangkat ke Amerika, lantaran gak tahan naik pesawat nggak bisa bolak-balik ke
toilet *heeeyya!! Sejak kapan di pesawat nggak ada toiletnya?*
Sudahlah,
dari pada makin nggak jelas, mari kita perjelas. Jadi iri yang aku maksud
disini adalah sebuah rasa iri yang.. hmmm... gimana ya mau aku bilangnya, aku
merasa iri karena dia aja bisa lho kesana, so?? Kenapa aku nggak??!!
Mungkin
itulah kalimat yang terus berputar-putar dikepala aku. Dan entah siapa yang
mengomandokannya, tiba-tiba aja aku ngeadd FS-nya *jaman dulu belum terlalu
familiar dengan FB*
Dan taraaaaaaaaaaaaaa!!!
Jadilah
aku spy! Tiap ada ‘hal-hal’ baru yang dia posting, selalu aku yang jadi pembaca
pertamanya. Hhahaha... dan kepala ku sempat nyut-nyutan saat ngeliat foto-foto
dia yang berlatarkan salju, patung Liberty, Ohio university, dan lain
sebagainya yang berbau-bau Amerika.
Ya Allah!!!
Aku pingin
kesana, ya Rabb!! Aku pingiiiiiiiinnn!!!
Dia aja
bisa, kenapa nggak???!!
Dan mulailah
aku, bermimpi untuk meraih cita-cita, cita-cita setinggiiiiiiiii angkasa!
Saat
itu, aku mutusin untuk bakal melanjutkan kuliah ke Korea *maklum, aku ini dulunya
salah satu ELF *Everlasting Friends, para fansclubnya Super Junior* jadi wajar
aja kalau aku milih negera gingseng itu.
Selain
ngeliat-liat foto-foto di FS-nya, aku juga ngubek-ngubek catatannya. Ternyata banyak
puisi-puisi yang dia postingkan di FS ataupun blognya. Aku masih ingat banget
judul puisi dia yang pertama aku baca “ Kita Hanya Perlu Sedikit Waktu, Tidak
Banyak Untuk Berbagi Cerita”. Puisinya itu kereeeeeeeeeeennn banget!! Bukan puisi
alay kayak yang sering aku baca dari mereka-mereka gak sok pujangga.
Dari
puisi-puisinya itu, perlahan namun pasti aku mulai menganguminya. Embel-embel
sombong yang melekat di dirinya, perlahan pudar. Aku tau gimana dirinya yang
sebenarnya, lewat tulisan-tulisannya itu. Dan perlahan-lahan, aku juga
ikut-ikutan mulai nulis puisi kayak dia itu.
Yaaah!!!
Bisa
dibilang, TRR ini adalah pelopor yang memancing ‘insting pujangga’ ku muncul
kepermukaan. Jadilah aku sang penulis berlembar-lembar prosa. Tiap hari, selalu
ada puisi-puisi dengan bahasa yang aku sendiri bingung mendefinisikan makna
katanya. Hhahhaa. Entah itu prosa yang aku tulis untuknya, untuk mereka,
atau... siapa dan apapun itu.
Jadi
sekarang itu wajar aja deh, kalau aku ini pantang liat kertas kosong. Pasti ntar
aku bakal nulis aksara-aksra indah itu. “Tulis
tiap kata dalam bentuk aksara, karena segala bentuk ucap kata akan terlupa”.
Di mulai dari dia-lah, aku mulai mencinta dunia tuliiiiiiiiiiiiiiiiiiiis
menulis. Sampai sekarang, udah puluhan
puisi yang aku tulis, ntah itu di diary, blog, fs, fb, dan bahkan di buku-buku
kuliah. Jadi jangan heran, kalau aku itu adalah salah satu manusia di kampus
yang paling enggan meminjamkan catatanya ke kawan, bukan pelit dan bukan juga
malas mencatat. Tapi karena entah itu di kulit bukunya, ntah di halaman paling
belakangnya, pasti ada puisi-puisi aku itu, dan maluuuu euy, kalau ketauan. Hahahha.
Selain
menularkan efek ‘suka menulis puisi’ TRR ini juga menularkan efek suka
berkhayal, yang ujung-ujungnya aku salurukan dengan menulis cerpen dan novel. Sekarang
udah ada belasan cerpen yang aku buat dan udah beberapa yang aku kirimkan ke
media, dan untuk novel? Udah ada beberapa juga yang aku buat, tapi masih belum
punya kesempatan untuk melemparkannya ke penerbit. Doakan sajo, aku bisa
menjadi penulis novel best seller.
Sekarang,
TRR itu udah balik lagi ke sini. Tuuuh, tiap hari dia kembali menampakkan
batang hidungnya ke aku. Tapi yaah, mau itu tahun 2009 atau tahun 2013,
kondisinya masih tetap sama. Kami masih belum bisa bertegur sapa. But, bagiku itu nggak masalah. Yang pasti,
dia adalah salah satu orang yang menularkan efek positif untuk ku, guru yang
mengajarkan aku tentang indahnya menulis semua yang kita rasakan dalam bentuk
prosa. Dan dia jugalah yang membuat aku berani bermimpi, untuk bisa melihat
dunia dari sisi lain, walaupun di awal-awal kuliah, aku berputar haluan untuk
pindah negera tujuan, dari Korea pindah ke Prancis, lalu ke Australia dan
sekarang ke Prancis lagi. hhahahha...
Dari
dia jugalah, buat aku rajin menghapal vocab bahasa inggris yang dulu ogah
banget aku lakukan. Dari dia, aku juga kenal lagunya INXS feat Sona dengan
judul “Afterglow”. Lagu itu dari tahun 2010 sampai sekarang masih ada di playlist ku. Juga, aku semakin menyukai ‘senja’...
Kenapa
aku bisa suka senja?
Karena
senja itu bagiku begitu indah, singkat namun menawan. Pinter-pinter cara
kitannya aja gimana melihatnya. Sama kayak hidup. Aku mau di hidupku yang Cuma satu
kali ini, menjadi sesuatu yang ‘menawan’ bagi semua orang yang melihat ku
dengan caranya.
Mungkin
sebagian orang lebih menyukai pagi, sampe-sampe ada istilah ‘selamat pagi,
semangat pagi’ yang di ucapkan bahkan disaat jamnya pocong beraksi, yaaah,
memang betul, pagi itu adalah masa-masa anak manusia memulai harapan dengan
menggantungkan segala doanya. Nah, tapi bagi ku, senja itu juga berarti, karena
senja adalah waktu kita untuk mensyukuri apa yang telah kita dapati, dan apa
yang belum bisa kita raih, bukankah dengan selalu bersyukur kita akan semakin
dekat dengan Sang Rabbi??
Dan untuk
motivator ku, TRR.... aku tau dia pasti nggak pernah bakal tau kalau aku ini
menjadikan dia salah satu motivator ku *beribet amat dah bahasanya* tapi,
apapun itu, aku tetap menganggapnya motivator. Karena dialah yang pertama kali
mengenalkan ku akan mimpi dan cita-cita yang setinggi apapun dapat diraih kalau
kita berusaha. Dari dia aku juga belajar untuk berjuang mengejar mimpi, dan...
dari dia juga aku bisa merangkai berjuta kata membentuk prosa, entah itu
tentang cinta, cita atau kecewa...
Aku suka
dengan kata-kata yang aku dapatin sewaktu aku les di masa-masa SMA dulu, ini
nih kata-katanya :
“Cinta nggak bakal bersatu, bila hanya 1
hati yang berbicara.
Gak
bakal ada bunyi tepuk tangan, bila hanya 1 tangan yang menepuk.
Dan
kita nggak bakal pernah tau dunia itu bulat, kalau kita nggak pernah melihatnya dari atas.
Dan cita, nggak bakal menjadi nyata
kalau kita nggak menjemputnya”
Mungkin
itu cerita aku tentang motivator ku part 1 ini, di part 2 nanti aku bakal
cerita tentang orang yang buat aku nggak bisa tidur siang malam, karena saking
semangatnya kuliah dan cepat-cepat melanjutkan S2 ke negara ‘X’ itu. gimana
ceritanya?? Tetap kepo-in blog aku yooo...
Mari
kita tutup cerita hari ini, insya Allah aku bakal ngelanjutin part 2_y. Dan sekarang
aku mau lanjutin nulis laporan PKL dulu yaaa!!
Byeee
byeeeee!!!!
:)
Banda
Aceh, 2 oktober 2013
Waktu
dimana kepala
seperti sedang kelelep gara-gara tugas yang
bejibun
hahhaha.......
