Senin, 22 Juli 2013

Kamu, Teman ku :)


Apa arti kata ‘pertemanan’ bagi kalian?
Mungkin itulah kata yang sekarang menggelayut dipikiran ku saat ini. setelah sekian lama gak ngepost tulisan lagi, kali ini aku mau nulis lagi tentang sesuatu, dan semua ini terinspirasi dari salah satu teman ku. Aku menulis tulisan ini juga tentang dia, karena ya itu tadi, dia telah menginspirasi pikiran ku ini tentang banyak hal, apa itu??
Yuuuuk kita lihat, chek it out!!
Sebut saja namanya, Edward (karena aku penggemarnya Twilight Saga), dan aku juga gak mungkin bilang ‘sebut saja dia mawar’ karena dia itu cowok. Yah! Orang yang mau aku ceritain itu adalah seorang makhluk Tuhan dari kaum Adam. Ok, kita mulai...
Edward ini temen sekampus ku. Dulunya waktu semester satu, aku maleeeeeeeeeeeess banget liat dia, apa lagi ngobrol. Ogah nian deh pokoknya. Dia anaknya juga sering banget ngeledekin teman-teman yang lain, dan termasuk aku. Tapi anehnya, dia itu berani ngeledekin waktu dia lagi kumpul dengan in the genknya aja, tapi kalau dia lagi sendiri atau ketemu dengan aku di luar kampus, dia pasti senyum dengan aku. Malah dulu pernah kami seangkot, dan dia nyapa aku (sekilas tentang masa lalu kami :D ).
waktu berlalu, waktu itu seingat aku akhir semester satu dan lagi musim-musimnya final. Kayak biasanya Edward dengan genknya nongkrong di tempat tongkrongan(dulu aku gak tau kalau ternyata saat itu dia lagi belajar), lewatlah aku di depan dia, spontan genknya yang punya mulut kayak panci-panci itu ngeledekin aku dan beberapa teman ku. Aku sih, stay cool aja, secara aku ini kan emank cool  dan gak penting banget ngeladenin kaum-kaum kayak mereka itu. Lalu tiba-tiba aku deger dia buka suara, “Aku gak mau ngeledekin orang dulu deh. Ntar ilmu yang ada di kepala ku hilang”. Hhahahahhaha..... di situ aku merasa kalau dia itu sedikit agak lebih baik dari teman-temannya yang bermulut panci itu.
ok, lanjooooott!!!
Perjalanan kali ini berlanjut kesemester tiga.sifat suka ngeledek dia itu masih melekat dengan pasti, entah gimana awalnya tiba-tiba aja dia nyebut nama aku, bukan Rizka, tapi salah satu nama artis cewek yang sekarang lagi booming. Mulai dari saat itu, aku udah jarang dengar nama aku disebut ‘Rizka’ tapi berganti dengan nama si artis itu. subhanallah, itu kawan kebangetan banget deh.
lalu lagi-lagi musim  Final, dan kalau gak salah lagi lagi final MK Statistika (Kenapa aku selalu ngeliat dia itu pas Ujian, ya?), wadooh statistika euy, sepanjang aku mulai bisa mengeja, aku paling males dengan pelajaran hitung-hitungan ==” termasuk dengan pelajaran statistika itu. agak sedikit buka rahasia, kami pun bergotong-royong saling membantu teman-teman menyelesaikan ujian itu, hahhahha malu sendiri kalau ingat itu. disitu, si Edward ini kembali menunjukkan sisi ‘sedikit agak lebih baik’ dari teman-temannya yang bermulut panci. Dia yang alhamdulillah di karuniakan otak yang lumayan encer, ngebantuin teman-temannya menyelesaikan soal persoal statistika itu. Dia lebih mendahului menjawab soal untuk teman-temannya, ketimbang menjawab soal di lembar jawabannya sendiri. waktu itu ada satu kalimat yang muncul di benak ku. “Itu anak baiknya kok menjurus ke bego ya?”.
Semester demi semester pun berlalu. Gak ada yang terlalu special dari dia karena mungkin aku emang gak terlalu peduli dengan dia. Tapi, aku mulai memperhatikan dia di semester enam, saat aku tau gimana dia sebenarnya.
Di semester enam ini, kami ngambil mata kuliah pilihan yang sama. Dan mata kuliah itu ngewajibkan praktek ke lapangan gitu, Field trip kalau bahasa sekarangnya. Disini ternyata oh ternyata, aku mulai melihat ada sisi yang beda dari dia. sepanjang praktek itu yang makan waktu tiga hari dua malam, aku mulai menganggap dia beda. Mungkin kami emang jarang banget ngomong dengan dia, terlebih akhir-akhir ini ada gosip yang beredar antara kami yang buat kami semakin ‘malas’ saling ngomong. Oya, disini juga dia udah beda banget dari semester awal aku kenal dia, dia udah gak pernah ngeledekin aku lagi. mungkin, aku gak bisa cerita gimana detailnya kejadian yang terjadi sewaktu kami field trip itu karena kau gak mau dia ke GR an waktu membaca tulisan ini dan kami semakin gak pernah saling nyapa lagi :D , namun yang pasti di sinilah aku tau kalau dia itu ternyata baaaaaaiiiiiiiiiik banget, emang terkesan cuek dan ngak peduli dengan orang, tapi Subhanallah. Aku Terpukau dibuatnya J
Masih di semester enam, semester yang kami sebut semester ‘jalan-jalan’ karena selang satu bulan setelah kami field trip tiga hari dua malam itu, kami kembali melanjutkan perjalanan field trip. Kali ini tujuan kami adalah pabrik-pabrik yang ada di luar provinsi di tempat kami tinggal. Oya, sekedar info, sejak field trip pertama itu, Edward udah dekat dengan sakah satu sahabat aku, sebut aja namanya Mawar :D. tiap hari Mawar dengan Edward ini smsan, mulai dari bahasan seputaran kampus, sampe seputaran hal-hal yang gak penting banget mereka bahas. Aku melihat mereka ini klop banget, hampir enam semester gak dekat, tiba-tiba aja Cuma gara-gara sekelompok pas field trip mereka udah kayak kakak-adik (kemungkinan karena si Mawar ini anaknya rada-rada sarap dikit, dan belakangan ini aku tau si Edward gak kalah sarapnya dengan Mawar).
Kita lanjut lagi ke masa field trip ke-2. Disini aku jarang lihat Edward, karena sesuatu dan lain hal yang membuat dia jarang berada di rombongan kami. Di sini, aku masih ‘Terpukau’ dengan teman ku yang satu ini (aku udah menganggapnya teman sejak kepulangan dari Field trip pertama). Dan rasa ‘perteman’ ku itu kembali bertambah saat dia smsan dengan Mawar, ngajak kami nonton. Katanya agenda field trip kali ini terlalu monoton. OH MG!!! Emank dia bukan ngajak aku secara langsung, tapi aku senang kalau dia bersedia aku ikut dengan Mawar. Nyampe di bioskop, kami gagal nonton, kecewa berat cuy, gara-gara film yang mau kami nonton selesainya kemalaman sedangkan kami harus balik ke penginapan jam 10 malam. Jadi kami mutar arah, gak jadi nonton tapi makan es krim aja deh, oya kami perginya juga gak bertiga, tapi berlima, tiga cowok dan dua cewek-aku dan mawar-.
Saat makan es krim, dia duduk di depan ku. Tetap mau duduk di belakang, di depan, disamping dan di-di yang lainnya, kami tetap gak pernah bicara. Dia lebih banyak bicara dengan Mawar, karena hal yang aku sebut diatas tadi, mereka sama-sama Sarap. Hahahaha. Singkat cerita kami menghabiskan es krim itu dengan suka cita #alay nian bahasanya ==” tapi itulah yang aku rasa. Aku senang! Dan aku gak tau apa arti rasa senang aku itu.
Field trip berakhir dan lagi FINAL datang. Edward dan Mawar semakin kayak kakak-adik, sama-sama sarap, sama-sama gila. pokoknya kalau di dekat mereka, siap-siap deh ketawa gak berhenti. Aku agak lupa itu final mata kuliah apa, yang pasti aku ingat sebelum ujian aku, Mawar, Edward dan sahabat-sahabat kami , kami belajar bareng. Kejadian langka sepanjang semester satu sampe enam. Di saat kami sibuk komat-kamit belajar, aku ngeliat si Edward santai, sibuk dengan laptopnya.
“Kamu gak belajar?” tanya si Mawar dengan gaya khasnya.
Si Edward menggeleng, “Udah tadi pas subuh”.
Aku bengong, “WHATS?? DIA BELAJAR?! Aku aja jarang belajar di waktu subuh, lah dia??”. tapi aku Cuma bisa diam aja, gak mungkin dunk aku mengungkapkan kalimat yang ada dikepala aku itu.
Ujian pun berlangsung, dan si Edward bener-bener membuktikan kata-katanya. Kebetulan dia duduk di samping aku #hasil modus yang aku lakukan sehingga aku bisa duduk disebelah dia :D # dia menjawab soal ujian dengan lancaaaaaaaaaaaaaaaaarrr banget. Dan jadilah si Edward itu objek lirikan ku. Aku penasaran dengan bagaimana dia saat menjawab soal, jadi setelah menyelesaikan soal-soal di kertas ujian ku, kau beralih memperhatikan dia #tentu tanpa sepengetahuan dia# aku melihat dia, benar-benar tekun ngejawab soal, bahkan ampe keringatan dan kadang dia berhenti, berpikir dengan jidat yang berlipat, terus nulis lagi. subhanallah, aku harus mengakui satu hal ini, aku terharu ngeliat dia gitu. Ya, aku bener-bener meneteskan air mata terharu sewaktu melihat dia menjawab soal itu, alay memang, tapi itulah yang terjadi. Sudut pandang ku tentang dia berubah ketika itu juga.
Lalu, aku pun mencoba flashback tentang apa-apa aja yang udah terjadi sejak awal semester hingga semester enam ini. dan aku harus mengucap SUBHANALLAH lagi, saat aku sadar ternyata tiap hari dia berubah menjadi manusia yang baik hari demi harinya, dia berubah menjadi teman yang penuh perhatian, yang sayangnya selama ini luput dari perhatian ku.
Kayak film yang diputar ulang, bayangan-bayangan kebaikan yang udah dia lakukan ke aku terulang di ingatan ku silih berganti. Saat dia, ternyata sering banget memberikan aku kursi tempat duduknya, saat aku berdiri dan udah pegel. Dia rela berdiri, walaupun dia gak kasih kursi itu secara gamblang ke aku, tapi aku tau itu bentuk keperhatian dia ke aku #heeey, ini bukan GR ku aja ya. Semua orang ternyata mengatakan hal yang sama dengan pikiran ku ini# dia juga panik sewaktu aku belum menyelesaikan tugas kelompok, bahkan dia membantu menyelesaikannya. Dia juga pernah menyemangati ku untuk semangat membuat proposal PKL, membukakan kaca mobil saat aku bilang aku mual, dan dia dengan cueknya buka kaca jendela mobil sambil bilang gini dengan temanku yang juga ada di mobil ini, ‘ Buka aja ya kacanya, biar gak mual’. Serta masih banyak lagi bentuk keperhatianan dia untuk aku. Sekali lagi aku bilang ini bukan GR ku!!
Ternyata, selama ini dia menganggap ku sebagai temannya walau diawal pertemuan kami, kami agak kurang ramah dan saling menyapa. Ternyata walau pun kami jarang berbicara, jarang menyapa, dan katanya ke Mawar dia gak bicara dengan ku karena dia takut dengan ku, di luar semua itu aku tau, dia adalah teman yang baik. Seorang teman yang memiliki rasa ‘sayang’ besar kepada temannya dibalik kecuekannya. Rasa sayang yang besar yang dia tunjukkan kepada semua temannya. Seorang teman yang bersikap begitu sederhana namun memiliki sesuatu yang begitu sempurna. Memiliki kebaikan hati, yang ternyata selama ini luput dari perhatianku. Teman yang memiliki tingkah ‘gila’ dan selalu berhasil mengubah suasana hati menjadi lebih baik lagi.
Ternyata selama ini aku terlalu di’buta’kan oleh hal-hal sempurna yang membuat aku gak bisa melihat kebaikannya. Sekarang aku tau, makna dari kalimat yang sering orang-orang bilang. Kalimat ‘tak kenal maka tak sayang’. Kata-kata itu bener banget, dulu aku mungkin gak terlalu mengenal si Edward itu, hingga aku gak tau gimana sebenarnya dia, gimana sederhananya hidup dia. selama ini aku terlalu menganggap dia anak badung yang memiliki teman-teman bermulut panci. Semua itu luntur, karena kau berhasil melihat dia dari sisi yang lain. ‘Don't judge the book by its cover’ kayaknya kata-kata itu juga cocok untuk ku.
Sekarang aku dan si Edward itu masih gak saling bicara, tapi alhamdulillahnya kami berkumpul bersama teman-teman yang sama, sama gilanya. Aku bahagia bisa mengenal dia sebagai salah satu teman ku yang luar biasa, teman yang menginspirasiku dalam berbagai hal, teman yang berhasil membuat ku ‘TERPUKAU’. Teman yang luuuuaaar biasa!! :)
Inilah cerita ku tentang seorang teman ku, teman yang ku anggap begitu special karena dia telah menyentuh hidup ku dengan caranya yang unik :) :)