Jumat, 29 November 2013

Galau Is...


Kehujanan pas pulang kuliah sore tadi, tiba-tiba aja menghujani aku sebuah inspirasi untuk menulis sesuatu. Yaah! Sesuatu yang akhir-akhir ini lagi banyak melanda para AbeGe-AbeGe maupun para anak muda, nggak terkecuali sang penulis. Hahhaha
Ok, tulisan ini ditulis dengan diiringi lagu Galau yang dinyanyiin ama om Yovie n the Nuno, biar tambah komplit dah galaunya. Hhehe... baik-baik, kita menuju ke topik. Sebenarnya kata-kata “galau” ini udah mendarah daging dengan para jiwa muda yang sedang dilanda cinta *walau nggak bisa divonis juga kalau semua orang yang galau itu akibat cinta. Non. Non. Non. Ada banyak hal yang membuat kita “galau”. Bisa jadi aja karena bingung harus milih ini atau itu, galau dengan duit di dompet yang mulai menipis sedang kreditan baju belum lunas *ini jelas bukan pengalaman penulis ya, hhahah* dan masih banyak jenis galau-galau lainnya yang memang gak bisa dipunggkiri, galau akibat “urusan hati” begitu mendominasi akhir-akhir ini. “urusan hati” itu begitu kuat menancapkan eksistensinya akhir-akhir ini di jiwa anak muda, hingga menimbulkan efek sering bengong sendiri kayak sapi ompong, atau bad mood seharian yang nggak ketulungan, atau... nangis meraung-raung dikamar akibat apa? Ya ya ya, GA-LAU!!
Sebenarnya, kata “galau” itu udah lama bersliweran di kancah perbahasaan, malah lagu tante Titi DJ aja ada yang liriknya nyebut-nyebut kata “galau”, tapi entah kenapa disaat itu belum terlalu booming dengan istilah ini, malah terkesan nggak ngeh. Nah, siapakah yang pertama kali mempopulerkan istilah galau itu ke publik? Membuat seluruh remaja dan muda mudi seantero nusantara rame ngebuat status “galau tingkat dewa”. Emangnya dewa pernah galau?? Ckckckck
Menurut KBBI, Galau itu adalah keadaan pikiran yang kacau balau *waduh, habis di landa badai kali ya tu pikiran* . dan mungkin emang bener banget, kekacauan pikiran itulah yang membuat efek perubahan sikap yang drastis bagi para penderitanya. Efek tersebut bisa bermacam-macam, seperti yang aku sebut sebelumnya.
Ok.ok. aku nggak bisa bohong, kalau saat nulis ini aku juga sedang galau, galau akan sesuatu, galau akan pikiran yang gak pasti dan... sudah lah, hentikan sandiwara mu Anabella!! *Korban Telenovela, sorry sorry :D
Kali ini aku mau menceritakan “sedikit” cerita kegalauanku, dan kita akan “sedikit” mengambil hikmah dari rasa itu. Nggak ada yang sia-sia di muka bumi ini, right? Bahkan galau itu sendiri yang selama ini terkesan memberikan efek kurang baik, ternyata bisa juga memberikan sesuatu yang positif. Apa itu? Yuuk, simak cerita berbii. Hahahha
Cerita berawal dari awal semester tujuh....
Jreeeeng jreeeeeeeeng jreeeeeeeeeeeeeeeeeeeeng!!!
Mungkin semester ini adalah semester “TERGALAU” yang pernah aku lalui, selama aku melanglang buana dikancah perkuliahan. Karena apa? Karena cinta *Aseeeeeekkkkkk. Wkwkwkkwk. Ya, nggak bisa aku pungkiri aku adalah satu dari jutaan umat manusia diluaran sana, yang dilanda galau gara-gara urusan hati yang satu ini.  Dan ternyata, galau gara-gara urusan hati ini lebih nggak mengenakkan dari pada galau gara-gara mikirin utang. Beneran loh! Suwer deh berbii!!! Mungkin juga aku udah sering mengalami “galau” urusan hati, tapi galau kali ini bener-bener membuat aku galau *bahasa orang galau kadang emang agak beribet.
Dan.... sebut saja namanya mr. XX, karena aku sama sekali nggak mau membuat dia terkenal secara dadakan karena pernah jadi topik di blog ini. Sebenarnya aku kenal dia sih udah dari awal semester enam.  Dia sering berkeliaran disekitar aku, bukan tebar pesona, tapi memang karena kami berada dibawah satu naungan, membuat kami sering berjumpa. Aku nggak pernah bicara dengan dia, walau aku banyak dengar “bisik-bisik tetangga” tentang dia, tentang kehidupannya, tentang kecerdasannya, dan tentang-tentang yang lainnya. Aku sama sekali cuek dengan dia, karena beberapa alasan yang nggak bisa aku jelaskan. Bahkan, disaat salah satu sahabat ku udah “heboh” dengan dia, aku masih biasa-biasa aja. Aku sama sekali nggak “melirik” dia, padahal dulu pernah kami sama-sama ikut kegiatan di luar kota gitu, kami sering berpapasan, tapi aku tetap nggak “seheboh” salah satu sahabat ku itu. Alasan ketidak hebohan ku adalah....*suatu alasan yang nggak bisa aku tuliskan. Hahhaha....
Lalu datang lah hari itu... hari dimana rasa aneh itu muncul. Kami kembali berada di dalam satu forum formal di kampus. Dan entah akunya yang keganjenan atau apa, nggak pake intro nggak pake pembuka, tiba-tiba aja jantung ku nge-break dance saat aku menatapnya *maaf ya, kalau bahasanya rada alay. Dan aku terpesona. Sepanjang sejarah aku hidup, aku itu jarang terpesona dengan orang, terlebih dengan perasaan yang luar biasa meluap-luap kayak sungai ciliwung yang meluap dikala musim hujan datang. I know... mungkin ada puluhan cowok di kampus ku yang “lebih” darinya, tapi semua itu memang relatif, kecakepan seseorang bukanlah harga mati untuk suatu rasa yang harus dituju untuk siapa. Tapi segala esensi dan eksistensinya itulah yang penting, bukan hanya sekedar menyandang nama dengan deretan embel-embel, tapi memang sesuatu yang “luar biasa” yang ku temui ada di dalam dirinya. Saat melihat dia ada di hadapan ku saat itu, aku sama sekali tidak mengedepankan “rasa aneh” yang tak aku pahami itu, karena aku melihatnya saat itu adalah sebagai orang luar biasa mempesona dengan cita dan mimpi yang ternyata sama dengan ku, lebih tepatnya mimpi dan cita ku, sedangkan dia telah merealisasikan mimpi dan cita-citanya itu yang ternyata sama dengan ku itu. Ngerti kan maksudnya?
Aku menentang segala pikiran aneh ku yang muncul menggelayut di kepala, dan entah ini sial atau apa, kami lagi-lagi harus terlibat dalam suatu urusan kampus. Nggak main-main, urusan kampus ini memakan waktu tiga hari berturut-turut, Oh MG!!! Nggak bisa aku ungkapkan dengan kata-kata, gimana perasaan ku selama tiga hari itu. Antara seuneng kesemsem, senyam senyum sendiri kayak orang gila dan antara pikiran yang menentang keras sebab satu alasan. Dan lagi-lagi, aku nggak bisa bilang alasan apa itu.
Ternyata aku terkalahkan oleh rasa yang menggeser akal sehat ku keambang batas kegilaan. Aku terjebak dalam urusan hati, yang sayangnya harus aku tanggung sendiri. Seperti efek domino, seperti itulah yang terjadi selanjutnya, usai dari acara tiga hari itu, ada saja hal berturut-turut yang membuat ku harus terlibat dan berhadapan dengannya. Di saat ku mulai berusaha membuang semua urusan hati yang perlahan mulai membuat ku galau, adaaaaaaaa ajaaaaaaaaaaaaaaaa sesuatu yang membuat ku harus muncul dan berurusan dengannya. Mulai dari urusan kampus aku ketemu dengan dia, sampai ke luar kampus. Sering kali aku ketemu dia, atau Cuma sekedar ngeliat mobil dia yang terparkir di tempat-tempat yang aku kunjungi. Kalau aja “sesuatu alasan yang gak bisa aku sebutkan itu” nggak ada, udah pasti aku keGEERan dan menganggap kalau dia sedang “kepo”in aku, atau semesta yang sedang mendukung antara aku dan dia. Tapi sayangnya, tidak pemirsa sekalian. Non. Non. Non!!
Tercampaklah aku dalam lautan kegalauan. Ok, sekali lagi aku bilang, aku udah terbiasa dalam urusan galau masalah hati. Malah pernah tanpa sengaja aku lewat di salah satu gedung di kota ku yang sering di sewa untuk acara resepsi, dan tiba-tiba aja mata ku melihat ke nama yang bertengger manis di papan bunga di depan gedung itu, nama “gebetan” ku yang bersisian dengan nama orang yang gak aku kenal, dengan tulisan SELAMAT BAHAGIA segede gaban. Jujur, disaat itu aku galau. Tapi kadar kegalauannya itu nggak separah galau dengan si mr. XX ini. Entahlah, pesonanya begitu luar biasa.
Galau is.... sesuatu rasa yang nyaris membuat gila kalau nggak bisa dikelola secara dewasa. Galau terjadi karena otak nggak sanggup menjangkau suatu pikiran khayalan tingkat tinggi yang tak menentu dan berubah-ubah. Sesuatu yang lain dipikirkan dan lain kenyataan.  Galau terjadi karena hati yang terlampau banyak memupuk perasaan-persaan baik yang bisa jadi aja semua itu dusta. Dan itulah yang terjadi dengan ku saat ini. Galau berkepanjangan. Bisa jadi aja, cover seseorang itu bisa ketawa-ketiwi kayak pemain lenong, tapi hatinya yang galau, siapa yang tahu?
Namun, segalau-galaunnya rasa itu, pasti bisa di kelola secara bijak. Maksud ku, kita yang lagi galau dengan urusan hati ini nggak mesti harus ‘menikmati’ rasa galau itu dengan update status atau tweet dengan kata-kata alay yang buat seisi dunia maya tau apa yang sedang kita rasakan, atau bengong sendiri di bawah pohon kamboja, murung dan lain sebagainya.
Banyak hal positif yang bisa kita ambil dari rasa galau itu, guys! Contohnya aja aku nii ya. Aku mungkin emang galau pisan dengan perasaan ku ke mr. XX itu, sebab apa yang ku harapkan tak sejalan dengan kenyataan dan itu membuat ku galau. Tapi di balik semua itu, aku bisa mengambil hikmahnya. Dengan adanya rasa “galau” ku itu, berpuluh-puluh puisi tercipta, berlembar-lembar diary terisi setiap malam, belasan bakal novel ku yang akan aku kirimkan ke penerbit tercipta, dengan galau adalah ‘sumber’ inspirasi ku.
Mencintai dan galau, sepertinya itu emang udah sepaket dan sedang ngetrend saat ini. Untuk kesekian kalinya aku bilang, itu juga terjadi dengan ku. Mencintai mr. XX dan aku galau. Selain dampak positif dari kegalauan yang ku sebut di atas itu, ternyata masih banyak daftar ‘efek baik’ dari rasa galau. Dengan adanya galau, aku berusaha bangkit. Pernah aku cerita kan, mimpi ku itu sama dengan mr. XX itu, walaupun saat ini ia sudah merealisasikannya.  Naaah!!! Itulah yang sedang aku lakukan sekarang, merealisasikan mimpi ku itu. Tiap kali aku hampir ‘mewek’ gara-gara lost control kegalauan, sesuatu dari diri ku membisik kan kepada ku, mengatakan kalau galau itu adalah ‘anugerah’ dari Allah yang harus disyukuri keadaannya. Mencintai Mr. XX juga memberikan efek baik untuk ku, walaupun itu adalah cinta sendiri yang harus ku tanggung. Mencintainya menjadikan ku seseorang yang nggak cengeng dalam meraih mimpi. Seseorang yang mengajarkan ku tentang makna dari sebuah kalimat, Nggak ada yang nggak mungkin di dunia ini kalau kita memperjuangkannya dengan sungguh-sungguh. Bahasa Arabnya, Man Jadda Wa Jadda, atau kalau bahasa Prancisnya, Tu Peux Si Tu Veux-ada kemauan ada jalan.
 Mencintainya, benar-benar ‘menghidupkan’ mimpi-mimpi ku, membuat aku nabung ekstra keras dan ngejar berbagai beasiswa untuk biaya kursus bahasa, itu tuh, bahasa dari negara impian ku nanti. Dan biaya kursus itu nggak tanggung-tanggung Cin, sebanding dengan biaya SPP ku satu semester. Tapi Alhamdulillah, biaya untuk kursus itu udah terkumpul * udah aku bilang kan, nggak ada yang nggak mungkin* walaupun sekarang aku masih belum nemu tempat kursus bahasa itu ada di kota ku ini, dan Mr. XX bersedia mengajariku bahasa itu, karena kebetulan dia juga jago bahasa itu, hahhahahhaha.... tapi aku lebih milih cari lembaga kursus aja deh, biar bisa dapat sertifikatnya yang sama kayak sertifikat TOEFL,  lagian aku nggak mau lebih jauh melanggar "alasan yang gak bisa aku sebutkan itu".
Mencintai seseorang, memang harus memberikan efek yang baik bagi orang yang mencintainya kan? Dan itulah yang terjadi dengan ku. Meski itu adalah rasa “sebelah pihak”, nggak masalah. Suwer deh, nggak masalah. Mencintai seseorang itu, harus bisa menjadi motivasi bagi kita untuk menjadi yang lebih baik lagi. Saat ini, sugesti itulah yang sedang aku tanam dibenak, memutar haluan, menjadikan mr. XX itu hanya orang yang memberiku motivasi secara tidak langsung meski itu masih dalam tahapan USAHA. Dan rasa galau yang ditimbulkan dari perasaan ku kepada Mr. XX ini benar-benar dahsyat. Galau yang bermanfaat.
Bukankah, novel-novel best seller, puisi-puisi dan lirik lagu yang menyentuh hati itu munculnya dari rasa galau? Yah, rasa galau itu membuat ‘bakat’ yang tak kita sadari keberadaannya itu, aktif. Bakat untuk menulis, dan menceritakan sesuatu dengan bahasa yang indah dan menjadi karya seni yang menabjubkan!
So, mulai sekarang, bagi kalian yang galau, teruslah bergalau-galau ria, ciptakan puluhan karya seni itu. Berhenti-lah untuk mewek, nangis, Cuma gara-gara galau. Udah nggak jamannya lagi lho, menyikapi galau dengan berbagai hal yang nggak penting seperti itu. Jadikan galau itu sebagai “Anugerah” yang harus kita nikmati secara benar, bukan “Musibah” yang harus kita ratapi. Karena galau itu seperti kopi, pahit kalau kalian nggak bisa menikmatinya dengan benar. Sedangkan cinta itu sama kayak cokelat, manis dan pahit. Namun rasa itulah yang membuat kalian nggak bisa berhenti untuk menikmati sebatang cokelat.
Galau is.... COOL!!!!
Apapun rasa itu, syukuri lah. Nikmatilah sebagai anugerah Allah, karena nggak ada yang sia-sia di muka bumi ini, rasa galau pun bisa berubah menjadi sumber inspirasi penuh seni, kalau kalian pintar-pintar menyikapinya. Try it...

Banda Aceh, 29 November 2013.

*Ketika penulisnya sedang galau, dan menumpahkannya dalam bentuk tulisan :D

Rabu, 27 November 2013

Yang Berusaha Ku Lupa...


Jangan lupa, kita hidup mencinta di dunia.
Tebungkus berjuta kali senja membentuk cerita,
Tentang kau, yang ku pungut ketika senja mulai memudar cahaya.
Juga tentang sajak bersyair rindu yang terus menunggu,
Akan kuncup-kuncup waktu dan takdir bersua walau itu entah kapan.

Jangan lupa, tentang sebuah asa yang menggebu untuk di renda.
Tentang mimpi setinggi angkasa, untuk bisa ke negeri sejuta warna.
Juga tentang kau, yang perlahan mulai membuat ku gila.
Entah ini atas nama cinta, atau dusta yang nanti kan ku dapati aku kembali kecewa.

Oh Tuhan....
Aku mencintanya, sungguh...
Walau aku tahu ini tak pantas bagi ku atasnya, dan senyatanya ini sungguh sangat menyiksa.
Mencipta sembab yang berkepanjangan hingga membuat ku demam.
Demam terus berlari di dalam hujan bayangannya yang terus menyergap.
Dan ini sungguh sangat memuakkan.

Dan kau,...
Yang tertimbun dalam deret kata dalam lembar-lembar kitab yang kau ku penai dengan hadirmu.
Mengukir berjuta bayang semu, mengaburkan pandangan dengan air mata.
Menyimpan lama dalam bagian hidup ku, tak bisa ku cerita,
Karna aku tlah terlambat untuk menemui mu,
Di akhir penantian panjang perjalanan hidup mu, Aku belum menginjak semesta, ketika kau datang dengan pesona menawar cinta.

Jangan lupa, kita hidup mencinta di dunia.
Jangan lupakan, tentang sebuah asa yang menggebu untuk di renda.
Juga tentang kau, yang hampir membuat ku gila.
Maaf, bila kini aku lancang memasukkan nama mu dalam pikiran ku.
Sebab ku tak mampu melawan sebuah rasa yang tak bisa di jelaskan.
Sebab ku tak sanggup lagi membentengi keakuanku...
Sebab, aku tlah jatuh cinta.

Kini, biarkan lah aku menikmatinya dalam diam yang membelenggukan ku...
Karna tak ada satu pun mampu ku ceritakan tentang mu.
Biarlah aku menyimpan mu rapat, walau kian waktu berdetik, kian ku rasa tubuhku terenggang seperti tak bernyawa.
Cukup jadikan kau sebagai rahasia, yang tak akan pernah mengudara.
Sungguh, aku tak mau lagi berandai, agar waktu berbaik hati kembali berputar dan mempertemukan kau dan aku, kita, pada orkes cinta yang sama.
Sungguh! Itu akan semakin menggelapkan dunia ku, ketika aku harus terbangun dan kembali mengumpulkan mimpi-mimpi penuh kenaifan,
Dan aku kembali menampung air mata dalam cawan kenyataan.

Hiduplahh kau, dengannya. Bersama. Bahagia.
Walau munafik ku katakan aku baik-baik saja.
Tapi biarlah tak mengapa, tlah terlampau sering ku jalani hidup hampir binasa karena cinta.
Bukan karena kasta, atau usia.
Juga bukan sebab kau, aku, kita terlambat berjumpa.
Namun karena kau, dia, dan mereka, yang tlah membentuk potongan cerita sang Kuasa yang tak dapat ku tentang semuanya.

Jangan lupa, tentang sebuah asa yang menggebu untuk di renda.
Tentang mimpi setinggi angkasa, untuk bisa ke negeri sejuta warna.
Untuk itulah aku hidup hari ini,
Mungkin aku tlah terlambat dengan mu.
namun cita ku tetap menafasiku dengan harapan, suka, dan segenap esensi yang kan dapat membuat ku melupa,
tentang kau dan rahasia,
bahwa aku pernah mencinta.....


Banda Aceh, 27 November 2013.
*Dalam bingung, antara cinta dan cita yang terbungkus dan kau yang jadi lakon utamanya.


Sabtu, 23 November 2013

Setenang Langit Senja

Diam ku tak kan bermakna apa-apa,
Bila kini aku tak lagi bisa melipat jarak, memberi jeda untuk semua,
Tentang debaran yang penuh rahasia, entah ini nyata atau dusta,
Namun yang pasti....
Aku tlah jatuh cinta.
Kepada mu, lelaki yang menatap ku dengan tatapan setenang langit senja.
Membisu kan semesta, dan membiarkan hanya ada suara gemuruh degup jantung yang melemahkan logika, menggeser akal sehat ku, dan meruntuhkan semua malu ku.

Senyum mu, membuat ku terbelenggu pada pemikiran ku sendiri, yang terus memaknai hadir mu, memupuk prasangka. Tanpa peduli, waktu berpihak atau bahkan merenda memusnahkan asa.
Sebab ku, tlah jatuh cinta...
Pada sosok sederhana dengan tatapan setenang langit senja.
Berhadapan dengan mu, membuat ku bagai manusia gagu. Membuat ku terpaku dengan otak membatu. Membiarkan rasa yang tlah lama terlupa oleh zaman itu, kembali hadir menjalari rongga dada. Melupakan ku tentang bagaimana itu rasa getir pahit yang harus ku kecap atas nama kecewa.

Ingin ku jejali tiap jengkal hati mu, namun sayangnya, aku hanya manusia biasa yang tak mempunyai kuasa. Walau senyatanya tak ada satu kitab pun yang mampu menjelaskan tentang isi hati mu pada ku.

Takdir kah ini?
Bila kita dipertemukan pada rima yang sama, namun senyatanya aku harus dilibas oleh fakta?
Dan ini sungguh sangat menyiksa.
Bila kini ku terpaksa memasungkan kata, memenjarakan bayang mu di pelupuk mata. Menelan tiap hasta harapan yang mulai terbungkus dalam tiap deret doa yang selama ini terus saja ku syairkan di hadapan Sang Pencipta pada sepertiga malam yang dijanjikanNya.

Bukan karena Jiwa tak lagi beraga, sebab ternyata ada namanya. Yang menggelapkan dunia ku seketika dan mencipta beban yang hingga untuk menarik napas pun aku tak lagi bisa.

Takdir kah ini?
Yang tega tak mempertemukan kau dan aku sebelum ada dia? Atau, waktu kah yang tlah curang mempercepat waktu lahirnya, sedang aku harus tertinggal pada peredaran dekade selanjutnya? Atau ini... memang sudah jalanNya, untuk kau, aku, dia dan kita yang hidup sebagai pemeran utama dalam skenario ciptaan Sang Maha Cinta?

Wahai engkau, manusia ciptaanNya yang menatap ku dengan tatapan setenang langit senja.

Maaf bila kini aku jatuh cinta pada mu.

Mencintaimu dalam diam yang memasungku menjadi tak bernyawa, atau demi rasa terpendam yang tertumpah.Kini aku menjelma menjadi gadis rapuh yang menatapi cawan yang terpenuhi oleh air mataku. Bukan karena kasta atau usia, namun karena dia.

Ku harap kau mengerti, ini sebuah prosa sederhana
Tentang cinta, kecewa, dan tatapan setenang langit senja, yang ku bungkus dalam rahasia, walau mungkin aku tahu tak pernah ada waktu untuk mu menyimak semuanya...


Banda Aceh, 24 November 2013.