Penghujung
Tahuuunnn!!
Saat
dimana kita kembali ngecek semua target impian kita yang berharap akan terwujud
di tahun ini. Dan begitu juga dengan aku, mulailah aku mengubek-ngubek diary
yang pada malam tahun baru tahun 2014 lalu aku tulis dengan lusinan impian ku. Dan
hasilnya....
Jreeeeeeng
jreeeeeeeeeeeeeng jreeeeeeeeeeeenggg!!!!
Mendadak
ada angin gurun yang lewat. Semuanya sepi, sunyi, senyap. Lalu mendadak
panci-panci yang bergantungan di dapur berjatuhan. Ya Ampun, dari begitu
banyaknya target, hanya sekitar 15% yang bisa terwujud. Oh... oh...
oh....!! kalau kata seseorang yang aku
kenal, dia pasti bakal ngomong gini “Tahun ini bukan shio_y kamu, jadi wajar
aja”.
“What???!!,
shio??” alis ku jadi naik sebelah, aku bukanlah orang yang percaya akan hal-hal
yang begituan.
So,
dimana letak kesalahannya??
Mungkin
saja belum rejeki, mungkin saja belum saatnya semua mimpi aku itu terwujud. Dan
menyinggung tentang mimpi, sebenarnya hal itulah yang bakal aku ceritakan
disini. Yap!! Disini!
Rasanya,
seluruh isi sejagad ini juga tau, aku dengan segala mimpi yang mereka bilang
kelewat tinggi ini. Kalau bahasa Acehnya “Cet
langet” alias ngecat langit. Lah, langit kok di cat ya??? Hahaha...
yayaya... itu adalah istilah untuk hal-hal yang gak bakal terwujud. Mimpi yang
kelewat tinggi, yang kalau nggak terwujud, terjatuh, kebanting dan
ujung-ujungnya sakitnya tuuuuhhh disiniiiii (pake soundtrack lagu dangdut yang lagi ngehits akhir-akhir ini).
Tapi...aku
bukanlah orang yang gampang terpengaruh akan omongan-omongan dari mereka-mereka
itu. Dan.... kembali lagi ke diary ku tadi, mungkin emang iya masih banyak
hal-hal yang belum bisa terwujud di tahun ini, tapi tahun depan masih ada 365
hari lagi untuk aku menggapai mimpi, bersama mereka.
Eheeemmm...
mereka?? Siapa tuuuuuhhhh??/!!
Pernah
dengar istilah atau pepatah yang bilang “kalau kita berteman dengan penjual
minyak wangi, kitanya juga bakal ikutan wangi”. Nah... hal itulah yang aku
alami dan jalani.
Kata
salah satu sahabat aku dikampus,” di dunia ini ada dua golongan orang dalam
mendapatkan kesuksesan. Ada golongan orang yang beruntung, dan ada orang yang
berusaha”, dan sepertinya kami berada di golongan itu.
Dulu,
aku punya seorang motivator yang membuka mata ku, mengubah paradigma tentang
bagaimana mimpi itu harus diraih, tentang bagaimana kita harus berusaha. Yayaya,
walaupun si beliau motivator itu adalah orang yang nggak pernah berkomunikasi
langsung dengan ku. Tapi aku menganggapnya seperti kalian-kalian ini lah, yang
mengidolakan motivator-motivator ternama yang sering muncul di layar Tv. Tapi aku
memiliki motivator yang sering ku lihat di depan mata. Dari dia lah aku mulai
berani membangun mimpi yang makin lama semakin tinggi.
Terlepas
dari si beliau motivator itu (karena mendadak dia harus hilang dari pandangan),
aku menemukan motivator yang lain. Seseorang yang keren banget proses periah
mimpinya. Dan untungnya kali ini aku bisa bertukar cerita dengannya, aku bisa
menanyakan ini itu dengan dia, yang kebetulan adalah peraih mimpi di negeri
yang juga ku impi-impikan. Di negera dengan bangunan kerangka besi setinggi 301
meter itu (info dari wikipedia). Ohoooo!!! Dengan semangat’45 aku beruhasa
untuk bisa (suatu hari nanti ) kesana. Mulai dari belajar bahasa-nya secara
otodidak, dan juga ikut salah satu beasiswa dari perhimpunan mahasiswa
indonesia yang ada di negera itu. Tapiiiii.... lagi-lagi.... belum beruntung. Lagi
lagi target itu tercoret dari deretan target yang tertulis di diary.
Lalu,
karena sesuatu dan lain hal, aku juga harus melepaskan kepergian sang motivator
kedua ini dari hati (bahasanya kagak nahan) hahaha.... dan... ada saja jalan
untuk kita tetap semangat. Aku menemukan motivator yang lain. Berbeda dari
motivator sebelumnya yang pernah menginjakkan kaki di benua Amerika dan Eropa,
sang beliau ini menginjakkan kaki kearah selatan dunia. Cari sajalah sendiri di
peta, dimana dia berada. Disini lah, semua perjuangan benar-benar dikerahkan. Dengan
menargetkan segalanya secara terperinci, mulai dari target wisuda di
pertengahan tahun, belajar bahasa (lagi dan lagi) untuk tiket utama biar bisa
keluar negeri.
Tapi
hasilnya???!!!!
Satu
pun, tidak berjalan sesuai rencana.
Jadwal
wisuda ku melorot entah kemana-mana, bahkan saat aku nulis catatan ini pun aku
belum sidang. Oh Tuhan! Dan itu... syarat utama aku bisa mendapatkan beasiswa
keluar negeri selain nilai yang harus bersinar-sinar kayak bintang kejora. Bahasa!
Aku juga belum bisa mencapai target berbahasa yang ditentukan.
Rasanya
udah nggak sanggup lagi ngeliat tulisan berderet-deret di diary itu. Beberapa suara
sumbang juga sempat terdengar, yang bilang nggak bakal bisa terwujud semua
mimpi-mimpi itu “Bek cet langet hai nong”.
Hampir
aja bahkan sempat hidup di pertengahan tahun kayak zombie gitu, hilang semangat, karena apa
yang ditargetkan tahun ini emang beneran nihil, jauh dari apa yang ditarget
kan. Mendadak muncullah sosok itu....
Taraaaaa!!!!!
Dia adalah dia yang nggak mau aku
sebutkan namanya disini, untuk menghindari kenarsisannya menjadi akut. Hahaha...
mungkin bener kalimat berbahasa Prancis itu “Tu peux, Si tu veux” yang artinya
ada niat ada jalan. Seperti cerita ku di paragraf sebelumnya, kalau berteman
dengan penjual minyak wangi, kita juga bakal ketularan wangi. Dan beneeeerr!!!
Dia ini kita namai saja motivator
ke-4 ku, sang penggapai mimpi di benua selatan juga. Dan juga tergolong ke
golongan orang ke-dua dalam meraih kesuksesan, golongan orang-orang yang
berusaha. Mimpi-mimpi tentang masa depan itu kembali muncul kepermukaan,
semangat itu kembali berkobar. Kini malah, bukan hanya aku yang berkobar-kobar
ingin meraih cita ke negeri-negeri eropa itu, tapi juga sahabat-sahabat
tercinto, bersama-sama kami udah kayak orang gila di kampus, buku berbahasa
inggris selalu di tangan, nonton filem India aja udah pake teks bahasa Inggris,
malah minjam novel bahasa Inggris. Semua seminar tentang beasiswa ke luar
negeri kami ikuti (sekalian ajang mengumpulkan tas jinjing dan notebook). Pokoknya semua mimpi dan
cita-cita itu kembali hidup, dan kini adalah masanya kami berusaha.
Mungkin,
bisa jadi saja tahun ini belum waktunya, seperti deretan target di diary ku
yang benar-benar hanya sekedar tulisan, tapi besok atau lusa?
Mungkin
saat ini Allah sedang merangkum segala
asa, usaha dan doa ku juga doa sahabat-sahabat ku. Karena apa? Karena kami
adalah golongan orang-orang yang berusaha, golongan orang-orang yang akan
merasakan bagaimana indahnya nanti menjemput cita dengan kedua tangan ini. Besok
atau lusa, bisa saja kami sudah menginjakkan kaki di Eropa.
Sekarang,
di alam nyata ini, kami masih berusaha, ada yang sedang keplintir dengan
deadline sidang, ada yang sedang jungkir balik dengan proses penelitian yang
panjang, juga ada yang sedang mati-matian mengajari beberapa orang dara jelita bahasa Inggris agar
bisa sama-sama menginjakkan kaki di pinggiran sungai Seine, jalan-jalan kenegeri berkincir angin, berfoto di depan jam raksasa atau main-main ke gedung putih. Hahaha..semoga,
segala usaha ini akan membuah kan hasil, karena nggak bakal ada yang sia-sia di
muka bumi ini. Dan tetap dengan motto hidup ku “Nothing is imposible in the
world”, “Man jadda wa jadda”. Jadilah kita orang-orang yang selalu merasakan
karuniaNya dalam tiap indahnya usaha yang kita jalani.
Tanggal
5 dan 6 januari 2015 ini aku dan para
pejuang mimpi ke eropa itu bakal ikut tes penentuan nasib (rada horor gitu
bahasanya). Hahaha, tes Toefl, masih di kampus, tapi gregetnya udah kayak ikut
ITP dan yang ikutnya adalah om Obama. Hehehe.. semoga segala usaha itu akan
menampakkan hasilnya, semua bakal indah pada waktunya.
So,
mari tutup tahun 2014 dengan segala rasa syukur, meski masih banyak mimpi yang
hanya bisa menjadi sekedar mimpi. Tapi jangan nyerah, masih ada 365 hari lagi
di tahun 2015 untuk berusaha, untuk bermimpi, untuk meraih cita dan cinta. kita tidak akan tahu bagaimana bentuk dunia, bila tidak melihatnya dari atas, so Hayuuuuukkkk
tulis lebih banyak lagi mimpi di diary, dan Allah lah yang akan mengurus
semuanya.
Semangaaaattt!!
Tahun baru!!!!
Semoga
cita ku, cita mu, dan cita kita terwujud ditahun 2015 ini. Amiiiiiinnn!!!!
