Senja kali ini, mengingatkan ku pada
mu.
Ketika aku menatap langit oranye merah
keemasan itu, dan aku mencoba bercerita tentang sebait dua bait prosa yang tertuju
untuk mu.
Buka lagi catatan lama, ketika dulu
aku mengangumi mu.
Dengar lagi cerita usang tentang mu,
yang ternyata masih belum mau terlekang oleh zaman. Tentang hikayat panjang
perjalan cinta maya ku, juga tentang bagaimana aku setelah waktu itu, waktu aku
memilih nama-nama yang lain selain nama mu, yang hanya membuat ku berputar-putar
pada bundaran harapan yang tak akan berujung kenyataan.
Namun nyatanya aku salah
mendefinisikan rasa, aku salah menebak prasangka yang dulu ku kira tak mengapa
bila aku meninggalkan bayang mu. Dulu ku kira, ini hanya kagum yang tercipta
dari mereka yang belia yang memiliki cita.
Lalu, perasaan apa lagi ini?
Ketika waktu kembali menghadapkan kau
aku dan kita untuk detik waktu yang sama lagi.
Mereka bilang, ini hanya euphoria ku
saja, bahagia ku yang terlampau parah ketika aku bisa melihat mu lagi disaat
dhuha.
Senja kali ini, mengingatkan ku pada
mu.
Ketika bungkusan kepingan harapan itu
kembali harus terburai dan tercecer.
Padahal kau tau, tlah lama aku membungkus,
menyimpulnya dengan ikatan yang kuat.
Senyatanya itu hanya bual ku, yang
tlah membungkusmu dalam rapatnya kenangan masa lalu.
Lantas, untuk apa aku
kembali menangis haru ketika kau dan aku kembali bertemu? Padahal aku jelas
tau, waktu masih tak mau tau tentang aku dan tentang apa yang ada disini (hati)
ku dan bisa saja itu masih tentang mu.
Sebut saja aku dungu, bila kau mau.
Ketika aku harus menatap mu dengan
tatapan sendu, dan tak akan pernah ada ucap kata yang mencair dari bekunya rasa
yang selama ini tersisa. Dan lagi aku harus menerima, bila ternyata semua masih
tetap sama seperti dulu, ribuan hari sebelum hari ini, ketika aku seperti
manusia tak lagi bernyawa dihadapmu.
Aku kacau dan bahkan aku rasa mulai
meracau.
Saat ku tau logika dan akal sehat ku
tlah tergeser oleh bayang mu. Bagai hantu kini kau datang, hadir dalam tiap
ingatan dan pikiran ku. Lelap maupun sadar ku.
Bahkan aku melupa, kasta yang nyata
ketika aku sungguh berani menjadikan kau raja tanpa singasana dan tiara. Raja di
tanah lapang pengharapan ku yang nanti kan membuat ku binasa terkikis oleh fakta yang sama sekali tak membuat ku menjadi apa-apa di semesta ku bersama mu.
Senja kali ini, mengingatkan ku pada
mu.
Saat aku kembali membuka catatan lama yang ternyata masih tentang isi yang sama.
Hadir dan diam mu, sungguh tak akan
menyisakan apa-apa, karena tak ada satu kitab pun yang menjelaskan tentang
bagaimana hadir ku dihadap mu, juga demikan terhadap mu, tak akan pernah kau
jumpai bagaimana hadir mu dihadap ku, karena buta dan gagu mu terhadap aksara
yang tlah jelas adanya.
Lalu, untuk apa kau kini datang lagi?
Ketika aku tlah berhasil memetikan
segenap rasa itu, setelah sadar ku karena ujung takdir mu dan takdir ku tak
akan bertemu. Saat tlah kelu lidah ini mengecap getir pahitnya pengharapan yang
selamanya kan menjadi semu.
Untuk apa kau hadir, bila semua masih
tetap seperti ilalang, batu jalanan dan angin lalu?
Kau tau, hadir mu saat ini sungguh
membuat aku menduga, tlah berakhir kah waktu tunggu ku untuk mu? Karena ku tau,
kau dan aku tak lagi belia, hari ku, hari mu tlah mulai menua
Bisa saja, besok atau lusa salah satu
dari kita, entah itu kau ataupun aku harus berhadapan dengan takdir, memenuhi
janji-janji yang dulu tlah terikrar ketika kaki-kaki ini belum menginjak
dibumi. Menemui dia, bahagia lalu meninggalkan salah satu dari kita dengan luka
yang ternganga.
Atau bisa saja besok atau lusa, salah
satu dari kita tak lagi bernyawa, tak kan lagi bisa berjumpa hingga akhirnya
semuanya harus terlupa sebagai sebuah nama dan cerita.
Dan kepada Mu, Sang Pemegang Takdir.
Hanya kau yang tau, seperti apa itu
takdir ku dan takdirnya harus berakhir. Ingin ku menyimpulkannya sendiri, tapi
aku hanya insan dungu yang masih tak tau apa itu yang terbaik bagi ku,baginya,
nelangsa dan tawanya.
Inginku mengambil penaMu, dan
menuliskannya dalam lembar kisah kehidupanku, tentang aku yang menjadi pemeran
utama dan dia yang kuharapkan. tapi aku tak mampu, kau adalah penulis skenario
terbaik kehidupan, sungguh tak ku ragu.
Dan untuk mu, insan yang tlah mencuri
jeda dalam satu fase kehidupan ku.
Aku mengagumi mu seperti aku mengagumi
senja, lancang bila aku menyebutnya cinta. Karena ku takut kan ada kecewa yang
tercipta. Pada pengharapan, pada penantian, juga pada kenyataan.
Haru dan syukurku menggenap satu
ketika waktu kembali menghadapkan mu didepan ku.
Meski takdir tlah begitu angkuh
mengacuhkan keberadaan sesuatu yang tersimpan dihati ku, biarlah tak mengapa
karena mungkin tlah memang seperti itu ketetapan dunia.
Inginku memaknai mu lebih dari sebaik
dua bait dalam prosa, tapi ku rasa semua kan tetap percuma. Aku tak mau lagi
kecewa, pada pengharapan, pada penantian, juga pada kenyataan yang kan mencipta
luka.
Dan bila kata mereka ini hanya
euphoria ku pada nyata yang membawa mu kembali pada detik yang sama, biarlah ku
nikmati semua ini. Biar aku menangis haru mensyukuri kebaikan sang Pemilik
kehidupan masih berkenan mengirimkan ruh kepada kau dan aku. Biarkanlah aku
memaknai hadir mu, seperti aku memaknai hadir surya dikaki cakrawala petang
ini, hingga nanti semuanya berlalu dan hanya kan menyisakan senyap tanpa kata.
Banda Aceh, 21 Maret 2015