Minggu, 29 Maret 2015

Aku Mengenalmu




Aku mengenalmu lewat kata,
Setelah ku tau diam mu tak menyisakan jawab dari tanyaku.
Aku mengenalmu lewat cita,
setelah dulu pernah ada masa dalam hidupku yang membuatku tersungkur, terjerembab merutuk dunia.

Aku mengenalmu dengan cara ku,
Meski bahkan aku sangsi kau juga mengenalku.
Aku mengenalmu dalam tulisan ku,
Saat ku tau waktu masih belum mau mempertemukan takdir antara kau dan aku. kita masih ada pada dua jalan yang berbeda.

Pada senja. Pada waktu kau dan aku puja.
Aku kembali membolak-balik catatan yang dulu pernah ada kau disana.
Pada jeda, pada helaan napas letih mu terhadap dunia.
Aku kira aku gila, yang hanya bisa mencintaimu lewat kata.
Tlah ku duga, kau masih bisu dan buta. Hingga kau hanya bisa diam saat mata ku mata mu bertemu.

Aku mengenalmu lewat senja,
Pada waktu semesta berubah memesona.
Ada hadirku yang tak kau duga dan akan ada cinta rahasia yang tak pernah kau sangka,
Itu adalah cara ku menyentuhmu...
Saat ku rasa getir dan manis itu tak lagi berasa.
Ketika bayangan dan siluet itu terlihat persis sama.
Dan waktu dimana surya terbit di saat fajar dan terbenam ketika senja seolah tiada beda.

Aku mengenalmu lewat doa.
Setelah ku catat begitulah cara terindah dalam mencinta.
Aku menitip mu pada-Nya.
Saat ku rasa rindu kian menyesakkan dada.
Ketika ku sangka besok atau lusa kau kan bersama dia yang kau tuju dan aku harus merenggang jiwa atas luka yang ternganga, karena terlampau lama menunggu dan berakhir semu.
Aku menitip napas dan rinduku pada-Nya.
Ketika sendu dan perdu itu seolah sama.
Saat biru dan kelabu seolah tak berwarna.
Ketika batu dan debu itu tak lagi bermassa.
Dan saat ucap bahasa tak lagi bermakna.

Aku mencintaimu dalam doa.
Saat tak lagi terjamah mata ku melihat bayang mu.
Aku merahasiakan mu dari dunia,
Agar kelak mendapat ridha dari mereka yang turut bahagia.

Aku mencintamu dan mereka tak perlu tau seberapa lama aku harus menunggu datang mu.
Aku mengharapkan mu dan aku tak mau memaksa waktu.
Aku mengagungkan nama-Nya, bersyukur atas lahir ku, lahir mu. Atas terjaganya kau dan aku, masih membiarkan kau, aku, bertemu dan membuat ku haru.

Seperti itulah cara ku mengenalmu.
Entah itu lewat kata, lewat cita dan dengan cara yang tergila.
Seperti itulah cara ku mencinta.
Menemui mu saat senja dan menitipmu dalam doa.
Dan seperti itulah aku mengenal dan mencinta Sang Pencipta, atas berkenannya Dia menghidupkan kau, aku dan kita di dunia.


Banda Aceh.

29 Maret 2015.

-Rizka Try Gustina "TRR"-

Selasa, 24 Maret 2015

Pemahaman Waktu Tunggu #1

Selalu ada makna dari sebuah pertemuan, bukan? Karena aku tau Tuhan tidak sembarang menguntai, memintal dan mengaitkan benang-benang merah tak kasat mata antara hamba-Nya yang satu dengan hambaNya yang lain. Pun demikian dengan pertemuan kita, bila memang itu bisa disebut pertemuan. Tapi coba ingat lagi, kapan kita pertama kali betemu? Lalu apa makna dari pertemuan kita, yang entah bisa disebut sebuah pertemuan. Makna yang penuh kerahasiaan dan aku rasa kerahasiaan itulah suatu makna dari pertemuan kita. Ah... semuanya terasa semakin ambigu saja, semakin tidak jelas, sama tidak jelasnya dengan perasaan ku terhadap mu.

Pernah ada yang bilang, aku hanya penasaran dengan mu. Seperti cerita horor yang sering kita simak dinegeri ini, ketika suatu “hantu” penasaran akan selalu muncul dan datang. Lantas aku kembali bertanya, sepenasaran itukah aku? hingga aku harus datang dan kembali muncul menghantui mu? Tapi aku rasa posisinya disini malah kau yang menjadi hantu, selalu muncul sesuka hatimu, tanpa mau tau masih ada atau tidaknya rasa itu.
Pernah (lagi) ada yang bilang, aku hanya melihatmu dari fisik, dari eksistensimu seperti apa kau dibalik nama yang kau sandang. Aku hanya terpukau dengan mu, dengan jejak-jejak yang pernah kau tapaki dibelahan bumi yang berbeda dengan posisi tegak ku saat ini. Negeri bersalju yang kau dan aku puji, tempat dimana kau bisa melihat senja yang mungkin lebih indah dari senja di kampung halaman kita. Seterpukau itukah aku? ku kira selama ini, aku hanya akan menghentikan langkah, menatap langit penuh takjub ketika senja dan langit kelabu berangin itu datang, ternyata kata mereka aku salah menerka. Aku juga begitu terpukaunya terhadapmu.
Ada lagi orang baru yang datang, tidak hanya satu tapi ada beberapa yang membuat ku tertarik. Mulai dari dia yang ku temui dalam sakit ku, dia yang kutemui dari silsilah keluarga, bahkan dia yang ku perebutkan dengan teman sepermainan. Tertarik dengan yang lain membuat ku mengira inilah dia jawaban kebenaran dari kepastian rasa dari apa yang dulu mereka bilang. Benar kalau aku hanya penasaran dan terpukau dengan mu.
Tapi nyatanya aku sungguh keliru, ternyata jawabannya tidak sesederhana pilihan jawaban saat ujian nasional yang kita bisa memilih A, B, C atau D. Jelas aku salah kira, karena soal kali ini bukan buatan manusia, tapi buatan sang pemilik ruh dan raga manusia. Aku sungguh tidak mengenal perasaan ini, lebih tepatnya belum bisa memahami perasaan ini. Apa sebenarnya maunya, apa sebenarnya yang terjadi, ketika sepertinya aku merasakan sesuatu yang sungguh berbeda (orang yang katanya sedang jatuh cinta selalu mengatakan kalimat yang ini, kan?). tapi kalau benar itu pernyataan klasik dari mereka yang sedang menggila dengan cinta, lalu kenapa aku bisa menghilangkan nama-nama mereka lalu aku selalu kembali kepada mu(lagi)? Perasaan ku selalu saja kembali lagi dan lagi kealamat yang sama. Aku seperti berjalan di sebuah lorong buntu, berputar-putar mencari jalan keluar dan hanya rumah mu yang satu-satunya berada diujung lorong buntu itu, jelas saja bila hanya rumah itu-itu saja yang ku temui, padahal aku sudah berputar-putar mencari jalan yang lain, tapi tetap saja buntu.

Rasa ku kepada mu sungguh ambigu, membuat semua waktu ku tersita untuk mencari jawaban yang tak tau lagi harus kemana ku berguru untuk mendapatkan jawabannya. Aku sungguh hampir tak bernyawa ketika aku mencari jawaban dari diam mu yang tak pernah ada ditulis dari kitab manapun.
Aku sungguh menangis tergugu, ketika sebuah kabar baik datang disuatu dhuha dihari Jumat. Hari yang penuh kebaikan, kan? Waktu ketika aku mendegar dari mereka, kau pulang ke kampung halaman kita ini dari negeri nun diseberang sana. Diam ku, bukan seperti diam mu ketika kita bertemu. Namun diam ku saat itu adalah ungkapan ketidak-mengertianya aku yang harus bersikap seperti apa, karena jelas saja aku harus menjaga sikap ku dihapan mereka, aku tidak ingin mereka tau sebahagia apa hati ini yang padahal baru hanya mendegar kau berada disini saja sudah membuat ku ingin bersujud syukur.
Aku sungguh menangis tergugu penuh haru dalam lipatan tirai penghalang pandangan kau dan aku, ketika aku melihatmu berdiri tegak tanpa cacat sedikitpun. Aku sungguh bersyukur kepada Tuhan, karena sungguh tlah menjaga mu dari tak terjangkaunya kau dengan pandangan mata ku. Bahkan hebatnya, Tuhan masih bersedia mengirimkan napas kepada kau dan aku, hingga aku bisa melihat mu di dhuha Jumat yang sendu ini. Ah... mengapa perasaan ambigu menahun ini selalu membuatku melankolis dan mengapa kau selalu muncul disaat aku memendam rindu?

Selalu ada makna dari sebuah pertemuan, bukan? Karena aku tau Tuhan tidak sembarang menguntai, memintal dan mengaitkan benang-benang merah tak kasat mata antara hamba-Nya yang satu dengan hambaNya yang lain. Lalu satu tanya ku yang lain muncul, untuk apa kau pulang ke kampung pinggiran ini? Padahal jelas tak ada suatu momen yang special, bahkan Ramadhan pun masih beberapa bulan lagi datang didepan pagar kita.
Jangan!... jangan beri jawaban bila itu jawaban dari pertanyaan yang selama ini aku takuti. Tak usah saja kau pulang, bila ingin mengatakan kalau kau kini ingin menemui dia yang selama ini selalu diaminkan oleh Manusia-manusia langit dan para malaikat ketika namanya kau sebut diujung doa kepada Sang Pengabul Doa itu.Jangan jadikan aku pecundang yang harus bersembunyi dibalik tiap bait prosa yang ku cipta untuk mu. Jangan buat lembaran catatan tentang mu itu membasah lagi. Karena sungguh bukan itu yang ku cari.
Lagi, satu senja tlah terlewati. Senja kali ini masih sama seperti senja-senja seribu petang sebelum petang ini. Aku masih tetap memahat perasaan-perasaan ambigu yang bahkan aku sendiri belum mengerti. Aku masih harus menghela napas panjang penuh pemahaman, ketika kau lewat dihadap ku namun kau masih menganggap ku semu. Mungkin, doaku untuk mu masih mengalahi doa mu untuk dia yang entah itu membuat mu kini bahagia hingga kau melupa akan hadir ku yang bahkan jaraknya tak lebih dari lima hasta dari keberadaan mu.
Aku harus lebih melapangkan dada saat suara bisik rendah mereka yang mulai mencela, menganggap ku gila yang masih berputar-putar dengan pengharapan usang dari nama yang sama. Hanya senyum yang kusisa kan untuk mereka, bisa saja saat ini mereka belum merasa atau sudah merasa tapi berakhir kecewa hingga mereka memilih cara mengubur luka dengan mencela.
Semua cerita ku kali ini hanya tentang perasaan ambigu dan waktu, yang jelas tak mungkin bisa kupercepat atau kuperlambat. ini hanya hikayat yang bisa jadi besok atau lusa kan usang termakan zaman, tentang diam, tentang penantian, tentang harapan dan pastinya hidup memang tak selalu menyugukan kenyataan yang sama seperti permintaan harapan, bukan? Tentang penantian yang tak akan kau dapati di kalender mana pun, kapan tanggal merahnya sebuah penantian itu. Semua ini hanyalah masalah waktu, karena jelas Tuhan tak akan menyia-nyiakan sebuah harapan. Jawaban dari rahasia itu telah disiapkan, membuatku harus menyiapkan diri bagaimana menyikapi, bagaimana aku harus mengendalikan semua perasaan ini.
Ah...rasanya senja akan beranjak pergi, terganti gelap dan temaramnya sinar bulan. Lagi, ini hanya masalah waktu dan ketetapan Tuhan yang memang sudah begini adanya, tak dapat kita ganggu gugat dan akan selalu ada kau diujung sana yang kunanti. Berdoa saja, agar manusia-manusia langit dan para malaikat mengaminkan doa ku dan doa mu. Minta saja kemurahan hati Tuhan, untuk memintal dan mengaitkan benang-benang merah tak kasat mata antara kau aku dan kita, karena hanya Tuhan yang tau kalau seandainya nama “dia” yang kau maksud dalam doa mu itu bisa saja nama ku...
Bersambung...

Banda Aceh, 23 Maret 2015

Sabtu, 21 Maret 2015

Masih Tentang Cerita Lama



Senja kali ini, mengingatkan ku pada mu.
Ketika aku menatap langit oranye merah keemasan itu, dan aku mencoba bercerita tentang sebait dua bait prosa yang tertuju untuk mu.

Buka lagi catatan lama, ketika dulu aku mengangumi mu.
Dengar lagi cerita usang tentang mu, yang ternyata masih belum mau terlekang oleh zaman. Tentang hikayat panjang perjalan cinta maya ku, juga tentang bagaimana aku setelah waktu itu, waktu aku memilih nama-nama yang lain selain nama mu, yang hanya membuat ku berputar-putar pada bundaran harapan yang tak akan berujung kenyataan.

Namun nyatanya aku salah mendefinisikan rasa, aku salah menebak prasangka yang dulu ku kira tak mengapa bila aku meninggalkan bayang mu. Dulu ku kira, ini hanya kagum yang tercipta dari mereka yang belia yang memiliki cita.

Lalu, perasaan apa lagi ini?
Ketika waktu kembali menghadapkan kau aku dan kita untuk detik waktu yang sama lagi.
Mereka bilang, ini hanya euphoria ku saja, bahagia ku yang terlampau parah ketika aku bisa melihat mu lagi disaat dhuha.

Senja kali ini, mengingatkan ku pada mu.
Ketika bungkusan kepingan harapan itu kembali harus terburai dan tercecer. 
Padahal kau tau, tlah lama aku membungkus, menyimpulnya dengan ikatan yang kuat.
Senyatanya itu hanya bual ku, yang tlah membungkusmu dalam rapatnya kenangan masa lalu.
Lantas, untuk apa aku kembali menangis haru ketika kau dan aku kembali bertemu? Padahal aku jelas tau, waktu masih tak mau tau tentang aku dan tentang apa yang ada disini (hati) ku dan bisa saja itu masih tentang mu.

Sebut saja aku dungu, bila kau mau.

Ketika aku harus menatap mu dengan tatapan sendu, dan tak akan pernah ada ucap kata yang mencair dari bekunya rasa yang selama ini tersisa. Dan lagi aku harus menerima, bila ternyata semua masih tetap sama seperti dulu, ribuan hari sebelum hari ini, ketika aku seperti manusia tak lagi bernyawa dihadapmu.

Aku kacau dan bahkan aku rasa mulai meracau.

Saat ku tau logika dan akal sehat ku tlah tergeser oleh bayang mu. Bagai hantu kini kau datang, hadir dalam tiap ingatan dan pikiran ku. Lelap maupun sadar ku.

Bahkan aku melupa, kasta yang nyata ketika aku sungguh berani menjadikan kau raja tanpa singasana dan tiara. Raja di tanah lapang pengharapan ku yang nanti kan membuat ku binasa terkikis oleh fakta yang sama sekali tak membuat ku menjadi apa-apa di semesta ku bersama mu.

Senja kali ini, mengingatkan ku pada mu.
Saat aku kembali membuka catatan  lama yang ternyata masih tentang isi yang sama.
Hadir dan diam mu, sungguh tak akan menyisakan apa-apa, karena tak ada satu kitab pun yang menjelaskan tentang bagaimana hadir ku dihadap mu, juga demikan terhadap mu, tak akan pernah kau jumpai bagaimana hadir mu dihadap ku, karena buta dan gagu mu terhadap aksara yang tlah jelas adanya.

Lalu, untuk apa kau kini datang lagi?

Ketika aku tlah berhasil memetikan segenap rasa itu, setelah sadar ku karena ujung takdir mu dan takdir ku tak akan bertemu. Saat tlah kelu lidah ini mengecap getir pahitnya pengharapan yang selamanya kan menjadi semu.

Untuk apa kau hadir, bila semua masih tetap seperti ilalang, batu jalanan dan angin lalu?

Kau tau, hadir mu saat ini sungguh membuat aku menduga, tlah berakhir kah waktu tunggu ku untuk mu? Karena ku tau, kau dan aku tak lagi belia, hari ku, hari mu tlah mulai menua
Bisa saja, besok atau lusa salah satu dari kita, entah itu kau ataupun aku harus berhadapan dengan takdir, memenuhi janji-janji yang dulu tlah terikrar ketika kaki-kaki ini belum menginjak dibumi. Menemui dia, bahagia lalu meninggalkan salah satu dari kita dengan luka yang ternganga.  
Atau bisa saja besok atau lusa, salah satu dari kita tak lagi bernyawa, tak kan lagi bisa berjumpa hingga akhirnya semuanya harus terlupa sebagai sebuah nama dan cerita.

Dan kepada Mu, Sang Pemegang Takdir.
Hanya kau yang tau, seperti apa itu takdir ku dan takdirnya harus berakhir. Ingin ku menyimpulkannya sendiri, tapi aku hanya insan dungu yang masih tak tau apa itu yang terbaik bagi ku,baginya, nelangsa dan tawanya.

Inginku mengambil penaMu, dan menuliskannya dalam lembar kisah kehidupanku, tentang aku yang menjadi pemeran utama dan dia yang kuharapkan. tapi aku tak mampu, kau adalah penulis skenario terbaik kehidupan, sungguh tak ku ragu.

Dan untuk mu, insan yang tlah mencuri jeda dalam satu fase kehidupan ku.
Aku mengagumi mu seperti aku mengagumi senja, lancang bila aku menyebutnya cinta. Karena ku takut kan ada kecewa yang tercipta. Pada pengharapan, pada penantian, juga pada kenyataan.

Haru dan syukurku menggenap satu ketika waktu kembali menghadapkan mu didepan ku.
Meski takdir tlah begitu angkuh mengacuhkan keberadaan sesuatu yang tersimpan dihati ku, biarlah tak mengapa karena mungkin tlah memang seperti itu ketetapan  dunia.
Inginku memaknai mu lebih dari sebaik dua bait dalam prosa, tapi ku rasa semua kan tetap percuma. Aku tak mau lagi kecewa, pada pengharapan, pada penantian, juga pada kenyataan yang kan mencipta luka.

Dan bila kata mereka ini hanya euphoria ku pada nyata yang membawa mu kembali pada detik yang sama, biarlah ku nikmati semua ini. Biar aku menangis haru mensyukuri kebaikan sang Pemilik kehidupan masih berkenan mengirimkan ruh kepada kau dan aku. Biarkanlah aku memaknai hadir mu, seperti aku memaknai hadir surya dikaki cakrawala petang ini, hingga nanti semuanya berlalu dan hanya kan menyisakan senyap tanpa kata.


Banda Aceh, 21 Maret 2015