Selalu ada makna dari
sebuah pertemuan, bukan? Karena aku tau Tuhan tidak sembarang menguntai,
memintal dan mengaitkan benang-benang merah tak kasat mata antara hamba-Nya
yang satu dengan hambaNya yang lain. Pun demikian dengan pertemuan kita, bila
memang itu bisa disebut pertemuan. Tapi coba ingat lagi, kapan kita pertama
kali betemu? Lalu apa makna dari pertemuan kita, yang entah bisa disebut sebuah
pertemuan. Makna yang penuh kerahasiaan dan aku rasa kerahasiaan itulah suatu
makna dari pertemuan kita. Ah... semuanya terasa semakin ambigu saja, semakin
tidak jelas, sama tidak jelasnya dengan perasaan ku terhadap mu.
Pernah ada yang bilang,
aku hanya penasaran dengan mu. Seperti cerita horor yang sering kita simak
dinegeri ini, ketika suatu “hantu” penasaran akan selalu muncul dan datang.
Lantas aku kembali bertanya, sepenasaran itukah aku? hingga aku harus datang
dan kembali muncul menghantui mu? Tapi aku rasa posisinya disini malah kau yang
menjadi hantu, selalu muncul sesuka hatimu, tanpa mau tau masih ada atau
tidaknya rasa itu.
Pernah (lagi) ada yang
bilang, aku hanya melihatmu dari fisik, dari eksistensimu seperti apa kau
dibalik nama yang kau sandang. Aku hanya terpukau dengan mu, dengan jejak-jejak
yang pernah kau tapaki dibelahan bumi yang berbeda dengan posisi tegak ku saat
ini. Negeri bersalju yang kau dan aku puji, tempat dimana kau bisa melihat
senja yang mungkin lebih indah dari senja di kampung halaman kita. Seterpukau
itukah aku? ku kira selama ini, aku hanya akan menghentikan langkah, menatap
langit penuh takjub ketika senja dan langit kelabu berangin itu datang,
ternyata kata mereka aku salah menerka. Aku juga begitu terpukaunya terhadapmu.
Ada lagi orang baru yang
datang, tidak hanya satu tapi ada beberapa yang membuat ku tertarik. Mulai dari
dia yang ku temui dalam sakit ku, dia yang kutemui dari silsilah keluarga,
bahkan dia yang ku perebutkan dengan teman sepermainan. Tertarik dengan yang lain
membuat ku mengira inilah dia jawaban kebenaran dari kepastian rasa dari apa
yang dulu mereka bilang. Benar kalau aku hanya penasaran dan terpukau dengan
mu.
Tapi nyatanya aku sungguh
keliru, ternyata jawabannya tidak sesederhana pilihan jawaban saat ujian
nasional yang kita bisa memilih A, B, C atau D. Jelas aku salah kira, karena
soal kali ini bukan buatan manusia, tapi buatan sang pemilik ruh dan raga
manusia. Aku sungguh tidak mengenal perasaan ini, lebih tepatnya belum bisa
memahami perasaan ini. Apa sebenarnya maunya, apa sebenarnya yang terjadi,
ketika sepertinya aku merasakan sesuatu yang sungguh berbeda (orang yang
katanya sedang jatuh cinta selalu mengatakan kalimat yang ini, kan?). tapi
kalau benar itu pernyataan klasik dari mereka yang sedang menggila dengan
cinta, lalu kenapa aku bisa menghilangkan nama-nama mereka lalu aku selalu
kembali kepada mu(lagi)? Perasaan ku selalu saja kembali lagi dan lagi kealamat
yang sama. Aku seperti berjalan di sebuah lorong buntu, berputar-putar mencari
jalan keluar dan hanya rumah mu yang satu-satunya berada diujung lorong buntu
itu, jelas saja bila hanya rumah itu-itu saja yang ku temui, padahal aku sudah
berputar-putar mencari jalan yang lain, tapi tetap saja buntu.
Rasa ku kepada mu sungguh
ambigu, membuat semua waktu ku tersita untuk mencari jawaban yang tak tau lagi
harus kemana ku berguru untuk mendapatkan jawabannya. Aku sungguh hampir tak
bernyawa ketika aku mencari jawaban dari diam mu yang tak pernah ada ditulis
dari kitab manapun.
Aku sungguh menangis
tergugu, ketika sebuah kabar baik datang disuatu dhuha dihari Jumat. Hari yang
penuh kebaikan, kan? Waktu ketika aku mendegar dari mereka, kau pulang ke kampung
halaman kita ini dari negeri nun diseberang sana. Diam ku, bukan seperti diam
mu ketika kita bertemu. Namun diam ku saat itu adalah ungkapan
ketidak-mengertianya aku yang harus bersikap seperti apa, karena jelas saja aku
harus menjaga sikap ku dihapan mereka, aku tidak ingin mereka tau sebahagia apa
hati ini yang padahal baru hanya mendegar kau berada disini saja sudah membuat
ku ingin bersujud syukur.
Aku sungguh menangis
tergugu penuh haru dalam lipatan tirai penghalang pandangan kau dan aku, ketika
aku melihatmu berdiri tegak tanpa cacat sedikitpun. Aku sungguh bersyukur
kepada Tuhan, karena sungguh tlah menjaga mu dari tak terjangkaunya kau dengan
pandangan mata ku. Bahkan hebatnya, Tuhan masih bersedia mengirimkan napas
kepada kau dan aku, hingga aku bisa melihat mu di dhuha Jumat yang sendu ini.
Ah... mengapa perasaan ambigu menahun ini selalu membuatku melankolis dan
mengapa kau selalu muncul disaat aku memendam rindu?
Selalu ada makna dari
sebuah pertemuan, bukan? Karena aku tau Tuhan tidak sembarang menguntai,
memintal dan mengaitkan benang-benang merah tak kasat mata antara hamba-Nya yang
satu dengan hambaNya yang lain. Lalu satu tanya ku yang lain muncul, untuk apa
kau pulang ke kampung pinggiran ini? Padahal jelas tak ada suatu momen yang
special, bahkan Ramadhan pun masih beberapa bulan lagi datang didepan pagar
kita.
Jangan!... jangan beri
jawaban bila itu jawaban dari pertanyaan yang selama ini aku takuti. Tak usah
saja kau pulang, bila ingin mengatakan kalau kau kini ingin menemui dia yang
selama ini selalu diaminkan oleh Manusia-manusia langit dan para malaikat
ketika namanya kau sebut diujung doa kepada Sang Pengabul Doa itu.Jangan
jadikan aku pecundang yang harus bersembunyi dibalik tiap bait prosa yang ku
cipta untuk mu. Jangan buat lembaran catatan tentang mu itu membasah lagi.
Karena sungguh bukan itu yang ku cari.
Lagi, satu senja tlah
terlewati. Senja kali ini masih sama seperti senja-senja seribu petang sebelum
petang ini. Aku masih tetap memahat perasaan-perasaan ambigu yang bahkan aku
sendiri belum mengerti. Aku masih harus menghela napas panjang penuh pemahaman,
ketika kau lewat dihadap ku namun kau masih menganggap ku semu. Mungkin, doaku
untuk mu masih mengalahi doa mu untuk dia yang entah itu membuat mu kini
bahagia hingga kau melupa akan hadir ku yang bahkan jaraknya tak lebih dari
lima hasta dari keberadaan mu.
Aku harus lebih
melapangkan dada saat suara bisik rendah mereka yang mulai mencela, menganggap
ku gila yang masih berputar-putar dengan pengharapan usang dari nama yang sama.
Hanya senyum yang kusisa kan untuk mereka, bisa saja saat ini mereka belum
merasa atau sudah merasa tapi berakhir kecewa hingga mereka memilih cara
mengubur luka dengan mencela.
Semua cerita ku kali ini
hanya tentang perasaan ambigu dan waktu, yang jelas tak mungkin bisa kupercepat
atau kuperlambat. ini hanya hikayat yang bisa jadi besok atau lusa kan usang termakan
zaman, tentang diam, tentang penantian, tentang harapan dan pastinya hidup
memang tak selalu menyugukan kenyataan yang sama seperti permintaan harapan,
bukan? Tentang penantian yang tak akan kau dapati di kalender mana pun, kapan tanggal
merahnya sebuah penantian itu. Semua ini hanyalah masalah waktu, karena jelas
Tuhan tak akan menyia-nyiakan sebuah harapan. Jawaban dari rahasia itu telah
disiapkan, membuatku harus menyiapkan diri bagaimana menyikapi, bagaimana aku
harus mengendalikan semua perasaan ini.
Ah...rasanya senja akan
beranjak pergi, terganti gelap dan temaramnya sinar bulan. Lagi, ini hanya
masalah waktu dan ketetapan Tuhan yang memang sudah begini adanya, tak dapat
kita ganggu gugat dan akan selalu ada kau diujung sana yang kunanti. Berdoa
saja, agar manusia-manusia langit dan para malaikat mengaminkan doa ku dan doa
mu. Minta saja kemurahan hati Tuhan, untuk memintal dan mengaitkan
benang-benang merah tak kasat mata antara kau aku dan kita, karena hanya Tuhan
yang tau kalau seandainya nama “dia” yang kau maksud dalam doa mu itu bisa saja
nama ku...
Bersambung...
Banda Aceh, 23 Maret 2015

Tidak ada komentar:
Posting Komentar