Selasa, 24 Maret 2015

Pemahaman Waktu Tunggu #1

Selalu ada makna dari sebuah pertemuan, bukan? Karena aku tau Tuhan tidak sembarang menguntai, memintal dan mengaitkan benang-benang merah tak kasat mata antara hamba-Nya yang satu dengan hambaNya yang lain. Pun demikian dengan pertemuan kita, bila memang itu bisa disebut pertemuan. Tapi coba ingat lagi, kapan kita pertama kali betemu? Lalu apa makna dari pertemuan kita, yang entah bisa disebut sebuah pertemuan. Makna yang penuh kerahasiaan dan aku rasa kerahasiaan itulah suatu makna dari pertemuan kita. Ah... semuanya terasa semakin ambigu saja, semakin tidak jelas, sama tidak jelasnya dengan perasaan ku terhadap mu.

Pernah ada yang bilang, aku hanya penasaran dengan mu. Seperti cerita horor yang sering kita simak dinegeri ini, ketika suatu “hantu” penasaran akan selalu muncul dan datang. Lantas aku kembali bertanya, sepenasaran itukah aku? hingga aku harus datang dan kembali muncul menghantui mu? Tapi aku rasa posisinya disini malah kau yang menjadi hantu, selalu muncul sesuka hatimu, tanpa mau tau masih ada atau tidaknya rasa itu.
Pernah (lagi) ada yang bilang, aku hanya melihatmu dari fisik, dari eksistensimu seperti apa kau dibalik nama yang kau sandang. Aku hanya terpukau dengan mu, dengan jejak-jejak yang pernah kau tapaki dibelahan bumi yang berbeda dengan posisi tegak ku saat ini. Negeri bersalju yang kau dan aku puji, tempat dimana kau bisa melihat senja yang mungkin lebih indah dari senja di kampung halaman kita. Seterpukau itukah aku? ku kira selama ini, aku hanya akan menghentikan langkah, menatap langit penuh takjub ketika senja dan langit kelabu berangin itu datang, ternyata kata mereka aku salah menerka. Aku juga begitu terpukaunya terhadapmu.
Ada lagi orang baru yang datang, tidak hanya satu tapi ada beberapa yang membuat ku tertarik. Mulai dari dia yang ku temui dalam sakit ku, dia yang kutemui dari silsilah keluarga, bahkan dia yang ku perebutkan dengan teman sepermainan. Tertarik dengan yang lain membuat ku mengira inilah dia jawaban kebenaran dari kepastian rasa dari apa yang dulu mereka bilang. Benar kalau aku hanya penasaran dan terpukau dengan mu.
Tapi nyatanya aku sungguh keliru, ternyata jawabannya tidak sesederhana pilihan jawaban saat ujian nasional yang kita bisa memilih A, B, C atau D. Jelas aku salah kira, karena soal kali ini bukan buatan manusia, tapi buatan sang pemilik ruh dan raga manusia. Aku sungguh tidak mengenal perasaan ini, lebih tepatnya belum bisa memahami perasaan ini. Apa sebenarnya maunya, apa sebenarnya yang terjadi, ketika sepertinya aku merasakan sesuatu yang sungguh berbeda (orang yang katanya sedang jatuh cinta selalu mengatakan kalimat yang ini, kan?). tapi kalau benar itu pernyataan klasik dari mereka yang sedang menggila dengan cinta, lalu kenapa aku bisa menghilangkan nama-nama mereka lalu aku selalu kembali kepada mu(lagi)? Perasaan ku selalu saja kembali lagi dan lagi kealamat yang sama. Aku seperti berjalan di sebuah lorong buntu, berputar-putar mencari jalan keluar dan hanya rumah mu yang satu-satunya berada diujung lorong buntu itu, jelas saja bila hanya rumah itu-itu saja yang ku temui, padahal aku sudah berputar-putar mencari jalan yang lain, tapi tetap saja buntu.

Rasa ku kepada mu sungguh ambigu, membuat semua waktu ku tersita untuk mencari jawaban yang tak tau lagi harus kemana ku berguru untuk mendapatkan jawabannya. Aku sungguh hampir tak bernyawa ketika aku mencari jawaban dari diam mu yang tak pernah ada ditulis dari kitab manapun.
Aku sungguh menangis tergugu, ketika sebuah kabar baik datang disuatu dhuha dihari Jumat. Hari yang penuh kebaikan, kan? Waktu ketika aku mendegar dari mereka, kau pulang ke kampung halaman kita ini dari negeri nun diseberang sana. Diam ku, bukan seperti diam mu ketika kita bertemu. Namun diam ku saat itu adalah ungkapan ketidak-mengertianya aku yang harus bersikap seperti apa, karena jelas saja aku harus menjaga sikap ku dihapan mereka, aku tidak ingin mereka tau sebahagia apa hati ini yang padahal baru hanya mendegar kau berada disini saja sudah membuat ku ingin bersujud syukur.
Aku sungguh menangis tergugu penuh haru dalam lipatan tirai penghalang pandangan kau dan aku, ketika aku melihatmu berdiri tegak tanpa cacat sedikitpun. Aku sungguh bersyukur kepada Tuhan, karena sungguh tlah menjaga mu dari tak terjangkaunya kau dengan pandangan mata ku. Bahkan hebatnya, Tuhan masih bersedia mengirimkan napas kepada kau dan aku, hingga aku bisa melihat mu di dhuha Jumat yang sendu ini. Ah... mengapa perasaan ambigu menahun ini selalu membuatku melankolis dan mengapa kau selalu muncul disaat aku memendam rindu?

Selalu ada makna dari sebuah pertemuan, bukan? Karena aku tau Tuhan tidak sembarang menguntai, memintal dan mengaitkan benang-benang merah tak kasat mata antara hamba-Nya yang satu dengan hambaNya yang lain. Lalu satu tanya ku yang lain muncul, untuk apa kau pulang ke kampung pinggiran ini? Padahal jelas tak ada suatu momen yang special, bahkan Ramadhan pun masih beberapa bulan lagi datang didepan pagar kita.
Jangan!... jangan beri jawaban bila itu jawaban dari pertanyaan yang selama ini aku takuti. Tak usah saja kau pulang, bila ingin mengatakan kalau kau kini ingin menemui dia yang selama ini selalu diaminkan oleh Manusia-manusia langit dan para malaikat ketika namanya kau sebut diujung doa kepada Sang Pengabul Doa itu.Jangan jadikan aku pecundang yang harus bersembunyi dibalik tiap bait prosa yang ku cipta untuk mu. Jangan buat lembaran catatan tentang mu itu membasah lagi. Karena sungguh bukan itu yang ku cari.
Lagi, satu senja tlah terlewati. Senja kali ini masih sama seperti senja-senja seribu petang sebelum petang ini. Aku masih tetap memahat perasaan-perasaan ambigu yang bahkan aku sendiri belum mengerti. Aku masih harus menghela napas panjang penuh pemahaman, ketika kau lewat dihadap ku namun kau masih menganggap ku semu. Mungkin, doaku untuk mu masih mengalahi doa mu untuk dia yang entah itu membuat mu kini bahagia hingga kau melupa akan hadir ku yang bahkan jaraknya tak lebih dari lima hasta dari keberadaan mu.
Aku harus lebih melapangkan dada saat suara bisik rendah mereka yang mulai mencela, menganggap ku gila yang masih berputar-putar dengan pengharapan usang dari nama yang sama. Hanya senyum yang kusisa kan untuk mereka, bisa saja saat ini mereka belum merasa atau sudah merasa tapi berakhir kecewa hingga mereka memilih cara mengubur luka dengan mencela.
Semua cerita ku kali ini hanya tentang perasaan ambigu dan waktu, yang jelas tak mungkin bisa kupercepat atau kuperlambat. ini hanya hikayat yang bisa jadi besok atau lusa kan usang termakan zaman, tentang diam, tentang penantian, tentang harapan dan pastinya hidup memang tak selalu menyugukan kenyataan yang sama seperti permintaan harapan, bukan? Tentang penantian yang tak akan kau dapati di kalender mana pun, kapan tanggal merahnya sebuah penantian itu. Semua ini hanyalah masalah waktu, karena jelas Tuhan tak akan menyia-nyiakan sebuah harapan. Jawaban dari rahasia itu telah disiapkan, membuatku harus menyiapkan diri bagaimana menyikapi, bagaimana aku harus mengendalikan semua perasaan ini.
Ah...rasanya senja akan beranjak pergi, terganti gelap dan temaramnya sinar bulan. Lagi, ini hanya masalah waktu dan ketetapan Tuhan yang memang sudah begini adanya, tak dapat kita ganggu gugat dan akan selalu ada kau diujung sana yang kunanti. Berdoa saja, agar manusia-manusia langit dan para malaikat mengaminkan doa ku dan doa mu. Minta saja kemurahan hati Tuhan, untuk memintal dan mengaitkan benang-benang merah tak kasat mata antara kau aku dan kita, karena hanya Tuhan yang tau kalau seandainya nama “dia” yang kau maksud dalam doa mu itu bisa saja nama ku...
Bersambung...

Banda Aceh, 23 Maret 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar