Minggu, 29 Maret 2015

Aku Mengenalmu




Aku mengenalmu lewat kata,
Setelah ku tau diam mu tak menyisakan jawab dari tanyaku.
Aku mengenalmu lewat cita,
setelah dulu pernah ada masa dalam hidupku yang membuatku tersungkur, terjerembab merutuk dunia.

Aku mengenalmu dengan cara ku,
Meski bahkan aku sangsi kau juga mengenalku.
Aku mengenalmu dalam tulisan ku,
Saat ku tau waktu masih belum mau mempertemukan takdir antara kau dan aku. kita masih ada pada dua jalan yang berbeda.

Pada senja. Pada waktu kau dan aku puja.
Aku kembali membolak-balik catatan yang dulu pernah ada kau disana.
Pada jeda, pada helaan napas letih mu terhadap dunia.
Aku kira aku gila, yang hanya bisa mencintaimu lewat kata.
Tlah ku duga, kau masih bisu dan buta. Hingga kau hanya bisa diam saat mata ku mata mu bertemu.

Aku mengenalmu lewat senja,
Pada waktu semesta berubah memesona.
Ada hadirku yang tak kau duga dan akan ada cinta rahasia yang tak pernah kau sangka,
Itu adalah cara ku menyentuhmu...
Saat ku rasa getir dan manis itu tak lagi berasa.
Ketika bayangan dan siluet itu terlihat persis sama.
Dan waktu dimana surya terbit di saat fajar dan terbenam ketika senja seolah tiada beda.

Aku mengenalmu lewat doa.
Setelah ku catat begitulah cara terindah dalam mencinta.
Aku menitip mu pada-Nya.
Saat ku rasa rindu kian menyesakkan dada.
Ketika ku sangka besok atau lusa kau kan bersama dia yang kau tuju dan aku harus merenggang jiwa atas luka yang ternganga, karena terlampau lama menunggu dan berakhir semu.
Aku menitip napas dan rinduku pada-Nya.
Ketika sendu dan perdu itu seolah sama.
Saat biru dan kelabu seolah tak berwarna.
Ketika batu dan debu itu tak lagi bermassa.
Dan saat ucap bahasa tak lagi bermakna.

Aku mencintaimu dalam doa.
Saat tak lagi terjamah mata ku melihat bayang mu.
Aku merahasiakan mu dari dunia,
Agar kelak mendapat ridha dari mereka yang turut bahagia.

Aku mencintamu dan mereka tak perlu tau seberapa lama aku harus menunggu datang mu.
Aku mengharapkan mu dan aku tak mau memaksa waktu.
Aku mengagungkan nama-Nya, bersyukur atas lahir ku, lahir mu. Atas terjaganya kau dan aku, masih membiarkan kau, aku, bertemu dan membuat ku haru.

Seperti itulah cara ku mengenalmu.
Entah itu lewat kata, lewat cita dan dengan cara yang tergila.
Seperti itulah cara ku mencinta.
Menemui mu saat senja dan menitipmu dalam doa.
Dan seperti itulah aku mengenal dan mencinta Sang Pencipta, atas berkenannya Dia menghidupkan kau, aku dan kita di dunia.


Banda Aceh.

29 Maret 2015.

-Rizka Try Gustina "TRR"-

Selasa, 24 Maret 2015

Pemahaman Waktu Tunggu #1

Selalu ada makna dari sebuah pertemuan, bukan? Karena aku tau Tuhan tidak sembarang menguntai, memintal dan mengaitkan benang-benang merah tak kasat mata antara hamba-Nya yang satu dengan hambaNya yang lain. Pun demikian dengan pertemuan kita, bila memang itu bisa disebut pertemuan. Tapi coba ingat lagi, kapan kita pertama kali betemu? Lalu apa makna dari pertemuan kita, yang entah bisa disebut sebuah pertemuan. Makna yang penuh kerahasiaan dan aku rasa kerahasiaan itulah suatu makna dari pertemuan kita. Ah... semuanya terasa semakin ambigu saja, semakin tidak jelas, sama tidak jelasnya dengan perasaan ku terhadap mu.

Pernah ada yang bilang, aku hanya penasaran dengan mu. Seperti cerita horor yang sering kita simak dinegeri ini, ketika suatu “hantu” penasaran akan selalu muncul dan datang. Lantas aku kembali bertanya, sepenasaran itukah aku? hingga aku harus datang dan kembali muncul menghantui mu? Tapi aku rasa posisinya disini malah kau yang menjadi hantu, selalu muncul sesuka hatimu, tanpa mau tau masih ada atau tidaknya rasa itu.
Pernah (lagi) ada yang bilang, aku hanya melihatmu dari fisik, dari eksistensimu seperti apa kau dibalik nama yang kau sandang. Aku hanya terpukau dengan mu, dengan jejak-jejak yang pernah kau tapaki dibelahan bumi yang berbeda dengan posisi tegak ku saat ini. Negeri bersalju yang kau dan aku puji, tempat dimana kau bisa melihat senja yang mungkin lebih indah dari senja di kampung halaman kita. Seterpukau itukah aku? ku kira selama ini, aku hanya akan menghentikan langkah, menatap langit penuh takjub ketika senja dan langit kelabu berangin itu datang, ternyata kata mereka aku salah menerka. Aku juga begitu terpukaunya terhadapmu.
Ada lagi orang baru yang datang, tidak hanya satu tapi ada beberapa yang membuat ku tertarik. Mulai dari dia yang ku temui dalam sakit ku, dia yang kutemui dari silsilah keluarga, bahkan dia yang ku perebutkan dengan teman sepermainan. Tertarik dengan yang lain membuat ku mengira inilah dia jawaban kebenaran dari kepastian rasa dari apa yang dulu mereka bilang. Benar kalau aku hanya penasaran dan terpukau dengan mu.
Tapi nyatanya aku sungguh keliru, ternyata jawabannya tidak sesederhana pilihan jawaban saat ujian nasional yang kita bisa memilih A, B, C atau D. Jelas aku salah kira, karena soal kali ini bukan buatan manusia, tapi buatan sang pemilik ruh dan raga manusia. Aku sungguh tidak mengenal perasaan ini, lebih tepatnya belum bisa memahami perasaan ini. Apa sebenarnya maunya, apa sebenarnya yang terjadi, ketika sepertinya aku merasakan sesuatu yang sungguh berbeda (orang yang katanya sedang jatuh cinta selalu mengatakan kalimat yang ini, kan?). tapi kalau benar itu pernyataan klasik dari mereka yang sedang menggila dengan cinta, lalu kenapa aku bisa menghilangkan nama-nama mereka lalu aku selalu kembali kepada mu(lagi)? Perasaan ku selalu saja kembali lagi dan lagi kealamat yang sama. Aku seperti berjalan di sebuah lorong buntu, berputar-putar mencari jalan keluar dan hanya rumah mu yang satu-satunya berada diujung lorong buntu itu, jelas saja bila hanya rumah itu-itu saja yang ku temui, padahal aku sudah berputar-putar mencari jalan yang lain, tapi tetap saja buntu.

Rasa ku kepada mu sungguh ambigu, membuat semua waktu ku tersita untuk mencari jawaban yang tak tau lagi harus kemana ku berguru untuk mendapatkan jawabannya. Aku sungguh hampir tak bernyawa ketika aku mencari jawaban dari diam mu yang tak pernah ada ditulis dari kitab manapun.
Aku sungguh menangis tergugu, ketika sebuah kabar baik datang disuatu dhuha dihari Jumat. Hari yang penuh kebaikan, kan? Waktu ketika aku mendegar dari mereka, kau pulang ke kampung halaman kita ini dari negeri nun diseberang sana. Diam ku, bukan seperti diam mu ketika kita bertemu. Namun diam ku saat itu adalah ungkapan ketidak-mengertianya aku yang harus bersikap seperti apa, karena jelas saja aku harus menjaga sikap ku dihapan mereka, aku tidak ingin mereka tau sebahagia apa hati ini yang padahal baru hanya mendegar kau berada disini saja sudah membuat ku ingin bersujud syukur.
Aku sungguh menangis tergugu penuh haru dalam lipatan tirai penghalang pandangan kau dan aku, ketika aku melihatmu berdiri tegak tanpa cacat sedikitpun. Aku sungguh bersyukur kepada Tuhan, karena sungguh tlah menjaga mu dari tak terjangkaunya kau dengan pandangan mata ku. Bahkan hebatnya, Tuhan masih bersedia mengirimkan napas kepada kau dan aku, hingga aku bisa melihat mu di dhuha Jumat yang sendu ini. Ah... mengapa perasaan ambigu menahun ini selalu membuatku melankolis dan mengapa kau selalu muncul disaat aku memendam rindu?

Selalu ada makna dari sebuah pertemuan, bukan? Karena aku tau Tuhan tidak sembarang menguntai, memintal dan mengaitkan benang-benang merah tak kasat mata antara hamba-Nya yang satu dengan hambaNya yang lain. Lalu satu tanya ku yang lain muncul, untuk apa kau pulang ke kampung pinggiran ini? Padahal jelas tak ada suatu momen yang special, bahkan Ramadhan pun masih beberapa bulan lagi datang didepan pagar kita.
Jangan!... jangan beri jawaban bila itu jawaban dari pertanyaan yang selama ini aku takuti. Tak usah saja kau pulang, bila ingin mengatakan kalau kau kini ingin menemui dia yang selama ini selalu diaminkan oleh Manusia-manusia langit dan para malaikat ketika namanya kau sebut diujung doa kepada Sang Pengabul Doa itu.Jangan jadikan aku pecundang yang harus bersembunyi dibalik tiap bait prosa yang ku cipta untuk mu. Jangan buat lembaran catatan tentang mu itu membasah lagi. Karena sungguh bukan itu yang ku cari.
Lagi, satu senja tlah terlewati. Senja kali ini masih sama seperti senja-senja seribu petang sebelum petang ini. Aku masih tetap memahat perasaan-perasaan ambigu yang bahkan aku sendiri belum mengerti. Aku masih harus menghela napas panjang penuh pemahaman, ketika kau lewat dihadap ku namun kau masih menganggap ku semu. Mungkin, doaku untuk mu masih mengalahi doa mu untuk dia yang entah itu membuat mu kini bahagia hingga kau melupa akan hadir ku yang bahkan jaraknya tak lebih dari lima hasta dari keberadaan mu.
Aku harus lebih melapangkan dada saat suara bisik rendah mereka yang mulai mencela, menganggap ku gila yang masih berputar-putar dengan pengharapan usang dari nama yang sama. Hanya senyum yang kusisa kan untuk mereka, bisa saja saat ini mereka belum merasa atau sudah merasa tapi berakhir kecewa hingga mereka memilih cara mengubur luka dengan mencela.
Semua cerita ku kali ini hanya tentang perasaan ambigu dan waktu, yang jelas tak mungkin bisa kupercepat atau kuperlambat. ini hanya hikayat yang bisa jadi besok atau lusa kan usang termakan zaman, tentang diam, tentang penantian, tentang harapan dan pastinya hidup memang tak selalu menyugukan kenyataan yang sama seperti permintaan harapan, bukan? Tentang penantian yang tak akan kau dapati di kalender mana pun, kapan tanggal merahnya sebuah penantian itu. Semua ini hanyalah masalah waktu, karena jelas Tuhan tak akan menyia-nyiakan sebuah harapan. Jawaban dari rahasia itu telah disiapkan, membuatku harus menyiapkan diri bagaimana menyikapi, bagaimana aku harus mengendalikan semua perasaan ini.
Ah...rasanya senja akan beranjak pergi, terganti gelap dan temaramnya sinar bulan. Lagi, ini hanya masalah waktu dan ketetapan Tuhan yang memang sudah begini adanya, tak dapat kita ganggu gugat dan akan selalu ada kau diujung sana yang kunanti. Berdoa saja, agar manusia-manusia langit dan para malaikat mengaminkan doa ku dan doa mu. Minta saja kemurahan hati Tuhan, untuk memintal dan mengaitkan benang-benang merah tak kasat mata antara kau aku dan kita, karena hanya Tuhan yang tau kalau seandainya nama “dia” yang kau maksud dalam doa mu itu bisa saja nama ku...
Bersambung...

Banda Aceh, 23 Maret 2015

Sabtu, 21 Maret 2015

Masih Tentang Cerita Lama



Senja kali ini, mengingatkan ku pada mu.
Ketika aku menatap langit oranye merah keemasan itu, dan aku mencoba bercerita tentang sebait dua bait prosa yang tertuju untuk mu.

Buka lagi catatan lama, ketika dulu aku mengangumi mu.
Dengar lagi cerita usang tentang mu, yang ternyata masih belum mau terlekang oleh zaman. Tentang hikayat panjang perjalan cinta maya ku, juga tentang bagaimana aku setelah waktu itu, waktu aku memilih nama-nama yang lain selain nama mu, yang hanya membuat ku berputar-putar pada bundaran harapan yang tak akan berujung kenyataan.

Namun nyatanya aku salah mendefinisikan rasa, aku salah menebak prasangka yang dulu ku kira tak mengapa bila aku meninggalkan bayang mu. Dulu ku kira, ini hanya kagum yang tercipta dari mereka yang belia yang memiliki cita.

Lalu, perasaan apa lagi ini?
Ketika waktu kembali menghadapkan kau aku dan kita untuk detik waktu yang sama lagi.
Mereka bilang, ini hanya euphoria ku saja, bahagia ku yang terlampau parah ketika aku bisa melihat mu lagi disaat dhuha.

Senja kali ini, mengingatkan ku pada mu.
Ketika bungkusan kepingan harapan itu kembali harus terburai dan tercecer. 
Padahal kau tau, tlah lama aku membungkus, menyimpulnya dengan ikatan yang kuat.
Senyatanya itu hanya bual ku, yang tlah membungkusmu dalam rapatnya kenangan masa lalu.
Lantas, untuk apa aku kembali menangis haru ketika kau dan aku kembali bertemu? Padahal aku jelas tau, waktu masih tak mau tau tentang aku dan tentang apa yang ada disini (hati) ku dan bisa saja itu masih tentang mu.

Sebut saja aku dungu, bila kau mau.

Ketika aku harus menatap mu dengan tatapan sendu, dan tak akan pernah ada ucap kata yang mencair dari bekunya rasa yang selama ini tersisa. Dan lagi aku harus menerima, bila ternyata semua masih tetap sama seperti dulu, ribuan hari sebelum hari ini, ketika aku seperti manusia tak lagi bernyawa dihadapmu.

Aku kacau dan bahkan aku rasa mulai meracau.

Saat ku tau logika dan akal sehat ku tlah tergeser oleh bayang mu. Bagai hantu kini kau datang, hadir dalam tiap ingatan dan pikiran ku. Lelap maupun sadar ku.

Bahkan aku melupa, kasta yang nyata ketika aku sungguh berani menjadikan kau raja tanpa singasana dan tiara. Raja di tanah lapang pengharapan ku yang nanti kan membuat ku binasa terkikis oleh fakta yang sama sekali tak membuat ku menjadi apa-apa di semesta ku bersama mu.

Senja kali ini, mengingatkan ku pada mu.
Saat aku kembali membuka catatan  lama yang ternyata masih tentang isi yang sama.
Hadir dan diam mu, sungguh tak akan menyisakan apa-apa, karena tak ada satu kitab pun yang menjelaskan tentang bagaimana hadir ku dihadap mu, juga demikan terhadap mu, tak akan pernah kau jumpai bagaimana hadir mu dihadap ku, karena buta dan gagu mu terhadap aksara yang tlah jelas adanya.

Lalu, untuk apa kau kini datang lagi?

Ketika aku tlah berhasil memetikan segenap rasa itu, setelah sadar ku karena ujung takdir mu dan takdir ku tak akan bertemu. Saat tlah kelu lidah ini mengecap getir pahitnya pengharapan yang selamanya kan menjadi semu.

Untuk apa kau hadir, bila semua masih tetap seperti ilalang, batu jalanan dan angin lalu?

Kau tau, hadir mu saat ini sungguh membuat aku menduga, tlah berakhir kah waktu tunggu ku untuk mu? Karena ku tau, kau dan aku tak lagi belia, hari ku, hari mu tlah mulai menua
Bisa saja, besok atau lusa salah satu dari kita, entah itu kau ataupun aku harus berhadapan dengan takdir, memenuhi janji-janji yang dulu tlah terikrar ketika kaki-kaki ini belum menginjak dibumi. Menemui dia, bahagia lalu meninggalkan salah satu dari kita dengan luka yang ternganga.  
Atau bisa saja besok atau lusa, salah satu dari kita tak lagi bernyawa, tak kan lagi bisa berjumpa hingga akhirnya semuanya harus terlupa sebagai sebuah nama dan cerita.

Dan kepada Mu, Sang Pemegang Takdir.
Hanya kau yang tau, seperti apa itu takdir ku dan takdirnya harus berakhir. Ingin ku menyimpulkannya sendiri, tapi aku hanya insan dungu yang masih tak tau apa itu yang terbaik bagi ku,baginya, nelangsa dan tawanya.

Inginku mengambil penaMu, dan menuliskannya dalam lembar kisah kehidupanku, tentang aku yang menjadi pemeran utama dan dia yang kuharapkan. tapi aku tak mampu, kau adalah penulis skenario terbaik kehidupan, sungguh tak ku ragu.

Dan untuk mu, insan yang tlah mencuri jeda dalam satu fase kehidupan ku.
Aku mengagumi mu seperti aku mengagumi senja, lancang bila aku menyebutnya cinta. Karena ku takut kan ada kecewa yang tercipta. Pada pengharapan, pada penantian, juga pada kenyataan.

Haru dan syukurku menggenap satu ketika waktu kembali menghadapkan mu didepan ku.
Meski takdir tlah begitu angkuh mengacuhkan keberadaan sesuatu yang tersimpan dihati ku, biarlah tak mengapa karena mungkin tlah memang seperti itu ketetapan  dunia.
Inginku memaknai mu lebih dari sebaik dua bait dalam prosa, tapi ku rasa semua kan tetap percuma. Aku tak mau lagi kecewa, pada pengharapan, pada penantian, juga pada kenyataan yang kan mencipta luka.

Dan bila kata mereka ini hanya euphoria ku pada nyata yang membawa mu kembali pada detik yang sama, biarlah ku nikmati semua ini. Biar aku menangis haru mensyukuri kebaikan sang Pemilik kehidupan masih berkenan mengirimkan ruh kepada kau dan aku. Biarkanlah aku memaknai hadir mu, seperti aku memaknai hadir surya dikaki cakrawala petang ini, hingga nanti semuanya berlalu dan hanya kan menyisakan senyap tanpa kata.


Banda Aceh, 21 Maret 2015

Kamis, 25 Desember 2014

Akhir Tahun tutup anggaran, Awal Tahun buka impian :)





Penghujung Tahuuunnn!!
Saat dimana kita kembali ngecek semua target impian kita yang berharap akan terwujud di tahun ini. Dan begitu juga dengan aku, mulailah aku mengubek-ngubek diary yang pada malam tahun baru tahun 2014 lalu aku tulis dengan lusinan impian ku. Dan hasilnya....
Jreeeeeeng jreeeeeeeeeeeeeng jreeeeeeeeeeeenggg!!!!
Mendadak ada angin gurun yang lewat. Semuanya sepi, sunyi, senyap. Lalu mendadak panci-panci yang bergantungan di dapur berjatuhan. Ya Ampun, dari begitu banyaknya target, hanya sekitar 15% yang bisa terwujud. Oh... oh... oh....!!  kalau kata seseorang yang aku kenal, dia pasti bakal ngomong gini “Tahun ini bukan shio_y kamu, jadi wajar aja”.
“What???!!, shio??” alis ku jadi naik sebelah, aku bukanlah orang yang percaya akan hal-hal yang begituan.
So, dimana letak kesalahannya??
Mungkin saja belum rejeki, mungkin saja belum saatnya semua mimpi aku itu terwujud. Dan menyinggung tentang mimpi, sebenarnya hal itulah yang bakal aku ceritakan disini. Yap!! Disini!
Rasanya, seluruh isi sejagad ini juga tau, aku dengan segala mimpi yang mereka bilang kelewat tinggi ini. Kalau bahasa Acehnya “Cet langet” alias ngecat langit. Lah, langit kok di cat ya??? Hahaha... yayaya... itu adalah istilah untuk hal-hal yang gak bakal terwujud. Mimpi yang kelewat tinggi, yang kalau nggak terwujud, terjatuh, kebanting dan ujung-ujungnya sakitnya tuuuuhhh disiniiiii (pake soundtrack lagu dangdut yang lagi ngehits akhir-akhir ini).
Tapi...aku bukanlah orang yang gampang terpengaruh akan omongan-omongan dari mereka-mereka itu. Dan.... kembali lagi ke diary ku tadi, mungkin emang iya masih banyak hal-hal yang belum bisa terwujud di tahun ini, tapi tahun depan masih ada 365 hari lagi untuk aku menggapai mimpi, bersama mereka.

Eheeemmm... mereka?? Siapa tuuuuuhhhh??/!!

Pernah dengar istilah atau pepatah yang bilang “kalau kita berteman dengan penjual minyak wangi, kitanya juga bakal ikutan wangi”. Nah... hal itulah yang aku alami dan jalani.
Kata salah satu sahabat aku dikampus,” di dunia ini ada dua golongan orang dalam mendapatkan kesuksesan. Ada golongan orang yang beruntung, dan ada orang yang berusaha”, dan sepertinya kami berada di golongan itu.

Dulu, aku punya seorang motivator yang membuka mata ku, mengubah paradigma tentang bagaimana mimpi itu harus diraih, tentang bagaimana kita harus berusaha. Yayaya, walaupun si beliau motivator itu adalah orang yang nggak pernah berkomunikasi langsung dengan ku. Tapi aku menganggapnya seperti kalian-kalian ini lah, yang mengidolakan motivator-motivator ternama yang sering muncul di layar Tv. Tapi aku memiliki motivator yang sering ku lihat di depan mata. Dari dia lah aku mulai berani membangun mimpi yang makin lama semakin tinggi.

Terlepas dari si beliau motivator itu (karena mendadak dia harus hilang dari pandangan), aku menemukan motivator yang lain. Seseorang yang keren banget proses periah mimpinya. Dan untungnya kali ini aku bisa bertukar cerita dengannya, aku bisa menanyakan ini itu dengan dia, yang kebetulan adalah peraih mimpi di negeri yang juga ku impi-impikan. Di negera dengan bangunan kerangka besi setinggi 301 meter itu (info dari wikipedia). Ohoooo!!! Dengan semangat’45 aku beruhasa untuk bisa (suatu hari nanti ) kesana. Mulai dari belajar bahasa-nya secara otodidak, dan juga ikut salah satu beasiswa dari perhimpunan mahasiswa indonesia yang ada di negera itu. Tapiiiii.... lagi-lagi.... belum beruntung. Lagi lagi target itu tercoret dari deretan target yang tertulis di diary.

Lalu, karena sesuatu dan lain hal, aku juga harus melepaskan kepergian sang motivator kedua ini dari hati (bahasanya kagak nahan) hahaha.... dan... ada saja jalan untuk kita tetap semangat. Aku menemukan motivator yang lain. Berbeda dari motivator sebelumnya yang pernah menginjakkan kaki di benua Amerika dan Eropa, sang beliau ini menginjakkan kaki kearah selatan dunia. Cari sajalah sendiri di peta, dimana dia berada. Disini lah, semua perjuangan benar-benar dikerahkan. Dengan menargetkan segalanya secara terperinci, mulai dari target wisuda di pertengahan tahun, belajar bahasa (lagi dan lagi) untuk tiket utama biar bisa keluar negeri.

Tapi hasilnya???!!!!

Satu pun, tidak berjalan sesuai rencana.
Jadwal wisuda ku melorot entah kemana-mana, bahkan saat aku nulis catatan ini pun aku belum sidang. Oh Tuhan! Dan itu... syarat utama aku bisa mendapatkan beasiswa keluar negeri selain nilai yang harus bersinar-sinar kayak bintang kejora. Bahasa! Aku juga belum bisa mencapai target berbahasa yang ditentukan.

Rasanya udah nggak sanggup lagi ngeliat tulisan berderet-deret di diary itu. Beberapa suara sumbang juga sempat terdengar, yang bilang nggak bakal bisa terwujud semua mimpi-mimpi itu “Bek cet langet hai nong”.

Hampir aja bahkan sempat hidup di pertengahan tahun  kayak zombie gitu, hilang semangat, karena apa yang ditargetkan tahun ini emang beneran nihil, jauh dari apa yang ditarget kan. Mendadak muncullah sosok itu....

Taraaaaa!!!!!

            Dia adalah dia yang nggak mau aku sebutkan namanya disini, untuk menghindari kenarsisannya menjadi akut. Hahaha... mungkin bener kalimat berbahasa Prancis itu “Tu peux, Si tu veux” yang artinya ada niat ada jalan. Seperti cerita ku di paragraf sebelumnya, kalau berteman dengan penjual minyak wangi, kita juga bakal ketularan wangi. Dan beneeeerr!!!

            Dia ini kita namai saja motivator ke-4 ku, sang penggapai mimpi di benua selatan juga. Dan juga tergolong ke golongan orang ke-dua dalam meraih kesuksesan, golongan orang-orang yang berusaha. Mimpi-mimpi tentang masa depan itu kembali muncul kepermukaan, semangat itu kembali berkobar. Kini malah, bukan hanya aku yang berkobar-kobar ingin meraih cita ke negeri-negeri eropa itu, tapi juga sahabat-sahabat tercinto, bersama-sama kami udah kayak orang gila di kampus, buku berbahasa inggris selalu di tangan, nonton filem India aja udah pake teks bahasa Inggris, malah minjam novel bahasa Inggris. Semua seminar tentang beasiswa ke luar negeri kami ikuti (sekalian ajang mengumpulkan tas jinjing dan notebook). Pokoknya semua mimpi dan cita-cita itu kembali hidup, dan kini adalah masanya kami berusaha.

Mungkin, bisa jadi saja tahun ini belum waktunya, seperti deretan target di diary ku yang benar-benar hanya sekedar tulisan, tapi besok atau lusa?
Mungkin saat ini  Allah sedang merangkum segala asa, usaha dan doa ku juga doa sahabat-sahabat ku. Karena apa? Karena kami adalah golongan orang-orang yang berusaha, golongan orang-orang yang akan merasakan bagaimana indahnya nanti menjemput cita dengan kedua tangan ini. Besok atau lusa, bisa saja kami sudah menginjakkan kaki di Eropa.

Sekarang, di alam nyata ini, kami masih berusaha, ada yang sedang keplintir dengan deadline sidang, ada yang sedang jungkir balik dengan proses penelitian yang panjang, juga ada yang sedang mati-matian mengajari beberapa orang dara jelita bahasa Inggris agar bisa sama-sama menginjakkan kaki di pinggiran sungai Seine, jalan-jalan kenegeri berkincir angin, berfoto di depan jam raksasa atau main-main ke gedung putih. Hahaha..semoga, segala usaha ini akan membuah kan hasil, karena nggak bakal ada yang sia-sia di muka bumi ini. Dan tetap dengan motto hidup ku “Nothing is imposible in the world”, “Man jadda wa jadda”. Jadilah kita orang-orang yang selalu merasakan karuniaNya dalam tiap indahnya usaha yang kita jalani.
Tanggal 5 dan 6 januari 2015  ini aku dan para pejuang mimpi ke eropa itu bakal ikut tes penentuan nasib (rada horor gitu bahasanya). Hahaha, tes Toefl, masih di kampus, tapi gregetnya udah kayak ikut ITP dan yang ikutnya adalah om Obama. Hehehe.. semoga segala usaha itu akan menampakkan hasilnya, semua bakal indah pada waktunya.
So, mari tutup tahun 2014 dengan segala rasa syukur, meski masih banyak mimpi yang hanya bisa menjadi sekedar mimpi. Tapi jangan nyerah, masih ada 365 hari lagi di tahun 2015 untuk berusaha, untuk bermimpi, untuk meraih cita dan cinta. kita tidak akan tahu bagaimana bentuk dunia, bila tidak melihatnya dari atas, so Hayuuuuukkkk tulis lebih banyak lagi mimpi di diary, dan Allah lah yang akan mengurus semuanya.
Semangaaaattt!! Tahun baru!!!!

Semoga cita ku, cita mu, dan cita kita terwujud ditahun 2015 ini. Amiiiiiinnn!!!!

Rabu, 23 Juli 2014

Bila Rasa ini disebut....

Bila rasa ini adalah rindu,
Itu adalah untuk mu.
Untuk insan yang dipertemukan dan dipisahkan pada waktu bersamaan.
Tanpa sapaan, tanpa janji untuk saling berjumpa lagi nanti.

Jika rasa ini adalah rindu,
Itu adalah untuk mu.
Pada kenyataan antara pisah dan jumpa, hanya disekat oleh membran tipis transparan.

Untuk letupan gelembung rindu dihati,
Pada kuncup-kuncup harap ingin bertemu.
Kau mampu mempertahankan eksistensi mu disini,
Dihati ini.
Dulu, seperti itulah cara mu hadir,
Ratusan hari sebelum saat ini, detik ini ketika aq kembali mengenang mu, yang hanya bisa hidup di angan,
Terkunci di kata untuk ku ucapkan "siapa dirimu" pada dunia.

Dulu kau datang, memberi kesan.
Mengangumkan.
Menyelamatkan ku dari luka bercerancangan,
Tentang cita yang terlupa,
Tentang cinta pada dia yang ternyata kekal tak dapat terseka.
Juga tentang kecewa, nelangsa....

Jika doa itu adalah harapku
Pastilah untuk kau dan aku.
Untuk waktu yang tepat, agar berkenan merengkuhkan waktu ku, waktu mu, dan menyimpul jadi satu.

Jika doa itu adalah harapku,
Aku mendoakan mu, ada atau tiadanya lagi kau disemesta.
Aku mendoakan mu, terisi atau hampanya hati mu.
Aku mendoakan mu, terucapkan atau terabaikan janji suci untuknya itu.
Aku mendoakan mu, untuk kembali datang menyelamatkan ku dari luka yang kembali ternganga,
Untuk logika yang menggeser akal sehat ku, yang terus memupuk rasa ini dan jika rasa ini disebut rindu,
Maka itu adalah untuk mu.....

Banda Aceh, 23 juli 2014.

Jumat, 14 Februari 2014

Seperti Senja, aku Menyebut mu....



Aku kembali merajut cerita,
Pada potongan singkat waktu sang senja.
Menyeka sukma dengan bisik kata tak terjamah aksara.
Membisu dan mendiam....
Seperti itulah ku lukiskan hadir mu...

Kau datang sungguh seperti senja.
Singkat namun meninggalkan kenangan yang mungkin tak terlupa oleh ingatan.
Dibawah naungan langit merah saga,
Dengan pantulan cahaya oranye keemasan,
Kau datang pada ku.
Dari belahan dunia yang tak pernah terduga.

Salah kah bila ku mencinta?
Pada waktu singkat senja, dan ternyata ada kau disana?
Kau hadir bagaikan gemuruh ombak memecah pantai.
Riuh, bergemuruh di dada ku, meneriakkan panji-panji nama mu.
Mengalihkan aku, yang dulu sempat terpasung dalam cerita lama beratas namakan cinta buta.

Tatapan mata mu, sungguh seperti senja.
Tenang dan menyiratkan seribu satu tanda tanya yang membuat ku hampir gila,
Berusaha menebak, mencari makna, menerka, menumbuhkan prasangka,
Senyatannya mungkin juga ada nama ku disana.
Mengisi jejak-jejak lembar kisah hidup mu,
Menggores dengan guratan-guratan kenangan antara kau dan aku, yang sempat dibekukan oleh kumpulan data dan piksel.
Namun sayangnya, itu tak ada...

Salahkan waktu?
Yang terlalu cepat berdetik, hingga waktu ini sungguh aku rasa begitu singkat?
Tapi, sepertinya tidak...
Takdir masih berbaik hati mempertemukan kau dan aku, yang jelas datang dari benua yang berbeda.
Menyimpulkan pita kisah antara kau dan aku, disini, di negeri asing ini.

Kau datang, sungguh seperti senja.
Tak bisa berdiam diri lebih lama dihadapku, sehingga aku bisa mengucap cinta.
Dan kini, aku hanya bisa berdiam dengan kata yang ku rasa mulai membeku.
Membiarkan kau berlalu, dengan rasa ikhlas yang ku punya.
Bukankah memang seperti ini, kata dari mereka terdahulu yang telah lebih dahulu mengecap segala asa dan cinta?
“Hakikat cinta adalah mengikhlaskan”
Dan, sudah seperti ini hakikat dari senja.
Hadir dengan penuh pesona pada waktu yang sungguh begitu singkat.

Kau, senja yang ku punya.
Tenggelam di ambang batas cakrawala.
Sampai berjumpa, sampai takdir mempertemukan kita lagi, pada senja yang berbeda namun dengan rasa yang sama.
Sampai jumpa cinta, semoga nanti Sang Maha Cinta kembali berkenan, mempertemukan kau dan aku, pada senja di suatu masa...

Leupung, Aceh Besar.

#Untuk cinta yang ada di suatu senja J

Sabtu, 11 Januari 2014

Rasa dalam Beku Kata



Aku yang semakin kacau,
Dengan apa ingin dan harapku yang terus tak mau bertemu dengan waktu.
Aku yang meracau dengan perasaan yang berserakan.
Berjalan berdarah, bernanah, memijak beling penuh nama mu yang tak bisa ku hindari.
Kemana harus ku berlari? Siapa yang harus ku caci dalam urusan ini?

Untuk mu, dan sungguh ini untuk mu.
Mencintai mu adalah hal terberat yang pernah aku lalui.
Saat aku harus merobek paksa segala bahagia ku, bila mata ku, mata mu, beradu pandang.
Ketika aku harus tersadar dari ilusi panjang tak karuan, yang terus menyerbu menyodorkan segala hal yang membuat logika ku menggila.Membasahi lusinan kertas dengan tinta air mata pada lembar kitab ku.

Untuk mu, insan separuh dunia ku.
Tau kah kau? Mencintai mu adalah hal terindah dan tergila yang harus ku telan dalam satu tarikan napas. Tak memberi jeda, untuk ku memisahkan yang mana nyata dan dusta.
Semuanya terus terpupuk, tersemai di relung hati dan sialnya tak bisa ku musnahkan.

Siapa yang salah kini?

Haruskah aku menyalahkan waktu? Yang mempertemukan kau dan aku, terlambat dari waktu jumpa mu dan dia?

Atau takdir? Yang telah curang mempermainkan kita?

Atau mungkin salah ku? 
Yang tlah salah bercita terlalu tinggi, bermimpi terlalu naif, dengan mimpi, cita, cinta dan asa ku yang ternyata semuanya bertumpu pada mu?
 Sungguh tak dapat ku palingkan semua ini.

Untuk mu, insan ciptaaNya yang tlah membuat ku jatuh cinta.
Ingin ku bercerita, tapi aku hanya mampu berprosa.
Karena aku tau, tak dapat lagi kau dengar apa yang bisa ku ucap, tentang segala esensi hati.

Ingin ku memandang mu, untuk waktu yang lebih lama. 
Namun aku tak bisa. karena dunia mu sungguh tak nyata untuk dapat ku seka.

Ingin ku, melipat jarak antara kau dan aku, agar tak ada lagi pembeda. Tapi senyatanya hanya tertinggal jeda, dan dia tlah sungguh nyata dikirimkan Oleh sang Kuasa untuk mampu mengubah semua dunia.
Mewarnai hidup mu, mengelamkan semesta ku dengan penuh dosa, bila aku berani mententang semua alur cerita dari skenario Sang Maha Esa, Dia yang yang Maha Mengetahui,
Tentang semua...
Semua dan semua, tentang kau yang ku temui, diujung senja yang harus tertelan oleh cakrawala dan cinta yang terhitamkan oleh malam.

Dan rasanya Aku yang semakin kacau,
Dengan apa ingin dan harapku yang terus tak mau bertemu dengan waktu.
Aku yang meracau dengan perasaan yang berserakan.
Yang hanya bisa memendam rasa dalam beku kata. Dan kau yang tak pernah tersentuh oleh nyata.....

Banda Aceh,
11 Januari 2014