Ini
bukannya judul lagu dari OST film terkenal AADC yang dulu pernah booming banget di negeri ini. pemilihan
judul ini didasari karena aku mau menceritakan seseorang, seseorang yang
membuat saya berkesan *aseeekkk!!! :D
Ok
lah, gak usah banyak ngawur ngidul lagi, aku langsung aja ya...
Jreeeeng
jreeeeeeeeeeeeeeeng jreeeeeeeeeeeeeeeeeeng!!!!
Seseorang
ini kita namai aja Mr. X *karena aku gak mungkin dan nggak mau mengexpose nama asli dia disini. Ok, lanjut.
Mr. X ini kuliah di kampus yang sama dengan ku, kampus tercinta, kampus
Pertanian. Sebenarnya aku gak kenal-kenal kali dengan dia, secara bagi ku dia
gak ada menarik-menariknya, yaaah.... tipikal kebanyakan cowok di kampus ku,
gak ada sesuatu yang menonjol dari dia sehingga aku memang gak terlalu peduli
dengan dia. Anggapan ku dulu, dia itu sama aja kayak cowok yang lain, nothing special, ke kampus pakai sepatu
dan kemeja, entah pula kalau dia itu pakai rok kembang atau pakai sarung, pasti
bakal aku perhatikan ==”
Sebenarnya
lagi ni, aku udah familiar dengan dia sejak semester dua *dan sekarang
aku semester enam. Tapi kayak yang tadi aku bilang, aku sama sekali gak peduli
dengan dia, gak penting bagi ku tau lebih lanjut tentang dia, bukan teman
sejurusan pun, jadi untuk apa? Malah dulu, kami sering seangkot, duduk
depan-depanan atau samping-sampingan, tapi teteeeepp “siapa loe-siapa guee???”
Dan
sampai akhir semester lima, aku masih tetap cuek dengan manusia yang satu itu.
Nah, di akhir semester lima, aku dan ketiga teman dekat ku di kampus memulai
bisnis kecil-kecilan yang Insya Allah akan membawa kami kejalan penuh berkah
dan Insya Allah bisa naik Haji *amiiiiiinn* kami memulai bisnis berjualan
burger. T’s burger, burger terasoy
yang ada di Unsyiah, beli burger ditempat kami, bakal dapet bonus senyuman
manis dari kami berempat, jadi tunggu apa lagi, segera hubungi kami dan membeli
burger kami, sebelum kehabisan *sekalian promosi :D hhahaha. Kembali ke topik,
dan karena kami berbisnis inilah, kami khususnya aku yang jarang nongkrong lama-lama
di kantin karena isi dompet lebih sering kosong daripada berisi, jadi sering stay di kantin. Bisa di bilang, kami
punya 4 SKS di kantin untuk berjulan itu, pelanggan kami juga rame, dari Sabang
sampai Marauke. Pernah waktu itu ada anak dari Papua yang kuliah di fakultas
sebelah yang beli, salah satu sahabatku sampai kebingungan karena nggak ngerti
dia bilang apa, karena logat bahasanya yang jarang di degar oleh sahabat ku.
Hahaha *intermezo lagi*
Lanjut
ke mr. X. Di akhir semester lima, wajah dia mulai sering lagi berkeliaran di
depan ku setelah hampir beberapa lama gak pernah muncul *mungkin ada, tapi aku
yang kelewat gak peduli dengan dia. Di saat itu pun, aku masih cuek angsa
dengan dia, dia hanya segelintir manusia yang sering membeli burger kami. Akhir
semester lima pun berakhir seperti itu, datar-datar aja dengan dia itu.
Awal
semester enam, aku tau namanya, aku sempat berpikir ternyata masih ada nama
anak jaman modern kayak nama dia itu, hhehe. Aku juga tau, sedikit banyak
tentang dia dari temannya yang nyerocos tanpa rem di dekat ku, sebagai manusia
dengan pendegaran yang alhamdulillah masih bagus, otomatis semua informasi yang
di ‘kicau’kan oleh temannya itu tertangkap dengan pendegaran ku, tersimpan di
memori otak ku ini. Namun disitu, aku masih tetap gak peduli, walaupun semua
informasi itu terserap tapi aku Cuma menganggapya sebagai informasi bagi
produsen tentang konsumennya aja. Lagian juga, mr X ini tipikal cowok yang agak
hmmmm... apa ya yang cocoknya di bilang, hmm... Misterius! Ya, misterius,
anaknya pendiam dan... sudahlah, aku gak mau terlalu mendeskripsikan sifat dia,
siapa tau aja dia baca tulisan ku ini, dan pasti dia bakal kegeeran banget, pokoknya dia itu
misterius lah.
Semisterius
apapun si mr. X itu, aku tetap gak merasa ada yang special dari dia, bahkan saat kawan-kawan aku heboh memuji-muji dia
karena segudang kelebihan dia *anggap saja seperti itu* aku masih tetap cuek,
baik itu untuk ku jadikan sebagai pelanggan yang special atau pun seseorang
yang special di hati, karena di saat itu hati ku sedang diisi oleh nama
seseorang *eheeem.
Agak
sedikit curcol, tapi aku akan cerita sedikit tentang orang yang mengisi hati ku
sehingga aku masih cuek dengan si mr. X. Hmmm... orang itu kita sebut aja, mr.
B. Seseorang yang... wow!! Luar biasa, beneran, srius lho, bukan karena aku
pernah suka dengan dia lantas aku muji dia, tapi itu memang begitu adanya.
Sesorang yang punya setumpuk kesuksesan dan kelebihan, namun punya satu ketidak
beruntungan, perlu aku sebut apa itu? Hmm... kayaknya gak perlu. Jadi saat itu
aku suka dengan si mr. B itu, bisa di bilang aku berharap dia itu bisa tau
siapa aku *kasihaaan* tapi, akhirnya aku sadar akan sesuatu, ada hal-hal yang
ada kalanya di muka bumi ini nggak bisa terwujud, walaupun kita sudah berusaha
sekuat apapun dan berdoa siang malam, namun kita tetap gak bisa memaksakan
waktu untuk mau berjalan seiring dengan keinginan kita. Jujur, aku mencintai
dia *sihiy* dan karena rasa itulah aku melepaskan dia, ada sesuatu pembeda
diantara kami yang gak bisa aku lipat, dan aku juga sadar, waktu kami juga
begitu sempit, bila aku terus berharap akan waktu untuk mempertemukan kami pada
satu jalur, maka itu akan memperpanjang daftar ketidakberuntungannya. Dan
melepaskan, adalah hal yang terbaik yang ku lakukan.
Terlepas
dari mr. B, aku gak langsung memasukkan mr. X kedalam daftar target. Pada
masa-masa transisi ini, aku sempat terpesona dengan salah satu teman cowok ku
yang dulu pas di semester 2 pernah aku taksir, CLBK lah istilah anak mudanya.
Namanya mr. Moody karena mood-nya bisa berubah-ubah bahkan lebih
sering dari bunglon yang merubah warnanya karena pindah lokasi nongkrong. Aku
masih mengkatagorikan rasa ku ini sebagai rasa suka aja ke mr. Moody ini. Dan di saat rasa suka ku ini terhadap mr.
Moody inilah, tiba-tiba aja mr. X
untuk pertama kalinya dalam sejarah kami kuliah sekampus, negur aku. Di tegur
dengan sosok manusia yang misterius??? Wow!!! Aku tetap masih biasa aja =,=”
Dan
kalian tau, mr. X menegur bukan dengan nama ku, tapi dia pakai istilah dia
sendiri, aku juga gak pernah dengar dia nyebut nama asli ku “RIZKA TRY
GUSTINA”. Gak pernah sama sekali, but bagi
ku gak masalah lah, toh dia bukan siapa-siapa yang pantas aku naikkan ke meja
sidang karena nggak memanggil ku dengan nama yang seharusnya, selama nama itu
masih enak terdegar di telinga, no
problem!
Lama
kelamaan, panggilan dia itu jadi familiar
bagi ku, dan kami juga jadi sering saling tegur-teguran. Ntar kalau ketemu,
dari radius 7 meter dia udah panggil aku dan tanya aku masuk kuliah apa,
padahal aku bilang pun aku masuk kuliah apa, dia pasti gak bakal tau kuliah apa
itu karena kami gak sejurusan. Hahhaha. Bahkan pernah, waktu itu udah sore,
sekitaran jam empat atau setengah limaan sore gitu, aku dan kawan-kawan baru
keluar kuliah, dan kami belum sempat makan siang. Jadi dengan ligat, kami makan
kayak lagi dalam perang, buru-buru. Hahha.. dan karena Rizka ini makannya
lelet, jadi waktu semua kawan-kawan udah selesai makan, nasi di piring ku masih
banyak. Aku tau, kalau dari tadi si Mr. X duduk dengan kawan-kawannya gak jauh
dari tempat kami duduk, tapi aku cuek aja, lapar mengalahkan semuanya. Terus,
di saat aku udah ditinggalin sendiri makan dengan kawan-kawan karena mereka mau
cuci tangan dan shalat asar, ehh... si mr. X bilang gini : “Ya ampun $&@*#
(panggilan dia ke aku) kok telat kali makannya, nanti bakal asam lambung lho
kalau makan telat-telat”.
Jreeeeeng-jreeeeng
jreeeeeng!!!
Aku
bengong, karena baru kali itu ketemu dengan orang yang sok perhatian gitu,
padahal baru juga kenal. Dan karena aku emang recok, jadi aku tanggapi dengan
candaan “Waduh mr. X. Perhatian sekali dengan aku” sambil nyengir :D
Terus
selang beberapa hari setelah itu, tepatnya hari rabu sore, aku dan salah satu
temen ku, duduk bareng dia. cerita seputaran kampus#apa lagi yang bisa kami
bahas selain itu? Gak mungkin juga kan aku tanya, kok bisa dia tiba-tiba SKSD
dengan ku?? ==”
Disitu
dia ada bercerita tentang daerah asalnya dan cerita-cerita lainnya, dan entah
kenapa waktu itu aku grogi waktu bicara
dengan dia. Pas lagi ashik-ashiknya kami bicara *dimana aku lebih banyak senyum
dan sok kalemnya* tiba-tiba aja, seekor lebah atau apaun namanya itu terbang di
dekat aku, spontan aku langsung bangun dari duduk dan kabur cari tempat aman.
Jujur, aku phobia dengan makhluk
sejenis tawon, lebah, atau apapun lah namanya itu, karena aku udah empat kali
disengat oleh hewan itu dan aku nggak mau terjadi untuk kelima kalinya. Tak ku
pedulikan lagi tingkah sok kalem ku yang tadi ku pamerkan, bagi ku, tawon lebih
mengusik hati ketimbang bicara dengan dia. mr. X tertawa ngeliat reaksi ku, dan
dengan santai dia bilang “Itu bukan tawon atau lebah, itu adalah sejenis
kumbang yang gak bakal menyengat”.
Aku
masih gak percaya, “Haduuh, apapun namanya aku gak mau duduk disitu lagi kalau
masih ada hewan itu”.
“serius
lho, hewan itu sejenis kumbang yang gak menyengat”. Tegasnya lagi, “kalau gak
percaya, buktiin aja”.
Dengan
ragu-ragu aku duduk lagi di tempat tadi, daaan... memang agak memalukan,
binatang itu emang gak selera dikit pun untuk menyengat. Hhahaha
Di
mulai dari situlah, perlahan-lahan aku mulai merasa tertarik dengan si mr. X
itu. Konyol memang, kalau Cuma gara-gara kumbang, tapi kalian tau? Ada sesuatu
yang gak bisa aku sebutkan yang membuat aku senang, dari dialah sekarang aku
bisa bedain yang mana kumbang, yang mana lebah penyengat. Bahkan sekarang,
kalau aku melihat kumbang itu terbang di sekitaran kantin, aku jadi teringat
dengan dia dan kata-kata dia yang buat aku senyum-senyum sendiri *eheem.
Lanjut
lagi, kali ini aku lupa hari apa. Kayak biasa aku ketemu dengan dia, dan kayak
biasa juga dia selalu nanyain kabar ku. Sebagai manusia yang baik, aku juga
balik nanya tentang keadaan dia, dia ngejawab “Ada sesuatu yang sedang
mengganggu pikiran ku”.
Dengan
PD dan gilanya aku jawab, “Apa? Apa mungkin itu aku? Aku itu gak usah di
pikirin kali lho”.
Dia
Cuma diam aja. Hhahaha, memalukan.
Selang
beberapa menit setelah itu, disaat aku sedang sibuk-sibuk berjualan, dia memuji
ku dengan sebuah kalimat yang gak mau aku sebut, tapi yang anehnya tampang dia
datar-datar aja pas bilang kalimat itu. Malah, kawan ku yang juga ada di TKP
bilang gini “jangan-jangan si Mr. X Itu suka dengan kamu lagi, kalau gak mana
mungkin dia bilang kata-kata tadi, dan coba aja perhatiin, dia Cuma mau
ngobrol dengan kamu dengan kami gak”.
Sambil bisik-bisik.
Sebenarnya,
aku mau membenarkan kalimat dari sahabat ku itu, tapi gak mungkin, ntar aku di
kira ke Gr-an sekalee, karena bagi ku memang betul apa yang dia bilang, aku
merasa mr. X itu memang agak beda kalau berbicara dengan ku dan dengan tiga
sahabat ku yang lain. Jujur, aku senang dengan itu, terlebih dengan pujiannya
tadi, tapi aku berusaha gak mau ambil pusing karena di saat itu aku sadar ada
nama mr. Moody di sini, di hati.
Lompat
kehari-hari berikutnya, tepatnya di hari dimana Banda Aceh diselubungi oleh
awan kelabu yang menggantung rendah, mr X muncul sesaat setelah aku dan
kawan-kawan membicarakannya. Dan tau sesuatu? Awalnya sih aku Cuma bercanda
dengan dia, dan tiba-tiba dia menunjuk kearah ku sambil menantang ku untuk
melakukan sesuatu, bahkan dia menyertakan kalimat yang membuat jantung ku
berhenti karena rasa yang entah itu kelewat senang atau kelewat gak nyangka,
dia bakal mengatakan kata-kata itu dan menantang ku. Sebuah tantangan yang
mungkin agak sulit untuk ku wujudkan, namun kalau aku berhasil menang dari
tantangan ini, aku akan mendapatkan sesuatu yang dia katakan itu *maaf kalau
penggunaan bahasanya agak ribet.
Aku
gak mungkin bilang apa tantangannya itu dan kalimat dia yang buat aku berusaha
menerjemahkan maksudnya itu, tetapi kalian tau? Kata-kata dari kalimatnya itu
melekat kuat di ingatan ku, bahkan aku menulisnya di catatan pribadi.
Sejak
saat itu, sadar atau tidak, mau atau tidak, aku merasakan ada yang aneh yang
terjadi di rongga dada saat aku ketemu dengan dia, bahkan aku berani melupakan
mr. Moody. Aku ingat kata salah satu
sahabat ku, “Untuk apa kita suka dengan orang tetapi kita deg-degan dengan
orang lain”. Betul juga siih, aku memang suka dengan mr. Moody, tapi aku sama sekali tak merasakan apa-apa dengan dia.
bahkan salah satu sahabat ku lagi pernah bilang “Apa mungkin kamu dengan mr. Moody itu Cuma kagum aja?”. Entahlah,
aku gak tahu tapi yang aku tau sekarang,
mr. X mulai mencuri jeda.
Dan
kalian tau apa? Sejak aku merasakan rasa aneh itu, mr. X berubah.dia gak pernah
negur-negur ku lagi bahkan kayak gak mengenalku. Kata sahabat-sahabat ku,
mungkin itu Cuma perasaan ku saja. Tapi... entahlah. Kata salah satu sahabat ku
lagi, wujudkan lah tantangannya itu, dan kita lihat saja apakah nanti dia akan
membuktikan kata-katanya itu? Sahabat ku itu juga bilang, “ Ya, diam-diam aja
dulu. coba pantaskan diri aja. Mungkin dia mau kamu memantaskan diri
untuknya(kalau dia memang serius dengan ucapannya”.
Aku
gak tau, apa yang sedang melanda isi kepala mr. X. Sehingga dia gak negur aku
lagi, tapi aku positif thinking aja,
siapa tau sedang ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Dan mengenai rasa yang
ada di hati ku, kalau pun itu benar rasa yang mereka sebut-sebut ini cinta, berarti
ini anugerah kan? Dan sebuah anugerah gak boleh di tolak. Karena cinta itu gak
pernah salah, yang salah adalah bagaimana kita memanage-nya saja. Dan saya suka kata-kata dari sahabat saya,
“Cintailah dia secara dewasa, dalam diam, dan biarkan Allah yang mementukan”. Yes!! Aku, dia, dan kita hanya pemeran
dalam skenario yang telah di ciptakan oleh Sang Maha Cinta, tak ada yang dapat
kita ubah.
Dan
inilah cerita aku tentang seseorang. Seseorang yang memanggilku dengan sebutan
yang jarang ku degar. Seseorang yang memberitahukan ku mana Lebah penyengat,
mana yang hanya Kumbang biasa. Seseorang yang memotivasi ku untuk mewujudkan
tantangannya, karena jauh sebelum dia menantang ku, hal itu merupakan cita ku
yang mungkin masih tertunda. Seseorang yang menunjuk kearah ku dengan tantangan
dan kata-kata yang membuat ku berkesan. Seseorang yang kini mulai tak menyapa
ku lagi, itulah dia seseorang yang ku panggil mr. X. Semoga kan ada jawaban
yang terbaik untuk dia dan aku.
Banda Aceh, 30 Maret 2013
#Catatan
yang diam-diam ku tujukan untuk mu :)
