Rabu, 25 Desember 2013

Kadang Bisa Jadi Ini Sebuah Prosa



Kadang...
Ada tempat-tempat yang tak harus kita datangi...
Bukan karena tak mampu tuk melangkah kesana.
Tapi karena memang kita belum bisa mendatangi tempat itu.

Kadang...
Ada peristiwa-peristiwa yang tak harus kita hadiri.
Bukan kita tak pantas untuk menjadi pemeran utama.
Tapi memantau dari balik kaca sepertinya lebih baik, agar tak ada goresan hati tentang makna dari sebuah kata luka.

Kadang...
Ada saatnya kita harus bersembunyi.
Bukan karena berjiwa pengecut.
Tapi karena waktu yang belum mempersiapkan kita tuk menjadi sosok yang lebih kuat, bila kita menghadapi sesuatu itu.

Kadang...
Ada hal-hal yang tak bisa tergapai di bumi ini.
Bukan karena tak layak untuk mendapatkannya, namun ada saatnya kita harus iklas dengan keadaan. Membiarkan semuanya berlalu, tanpa bisa kita hadari, karena waktu yang tak mau tahu menahu.
Dan rasanya, aku tlah seperti itu kini...
Yang harus iklas dengan semua yang ada.
Ada saatnya aq harus bersembunyi dari orang-orang yang tak bisa ku jumpai.
Bukan karena berjiwa pecundang, tapi aku memang tak bisa saling beradu pandang.
Aku tak mau, kalau nanti kau, dia dan mereka tau apa yang ada disini (hatiku) dan apa yang masih tersisa di semesta ini (aku) yang selalu tesadar akan cinta semu. Selalu terjebak diantara cinta tak kasat mata yang hampir membuatku tak berlogika.

Ini saatnya aku harus diam dalam satu bagian buku kehidupan,
Bukan tak mau mengakhiri cerita dengan bagian kau dan aku bersama.
Tapi senyatanya, kini bukan saat ku untuk menulis semua skenarionya, Dialah Yang Maha Mengetahui, yang kini mengambil bagian. Tak bisa ku tentang, tak bisa ku membangkang.

Iklas ku untuk merela semua.
Tentang diam ku, yang tak mungkin melangkah ke tempat itu.
Tentang aku yang terpaku, tak mungkin bisa menjadi pemeran utama, dalam satu bagian potongan kehidupan mu. Meskipun potongan puzzle kehidupanmu itu berceceran, berantakan, berhamburan, tetap, tak bisa tersisip nama ku disana.
Tentang aku yang harus bagai kafilah, bersembunyi karena aku yang tanpa sengaja tlah membawa nama dan bayang mu di ingatan. Sedang aku tau, itu tak patut untuk ku.
Tentang kau dan aku, yang mungkin kini hanya bisa menjadi seperti langit dan bumi.
Bumi untuk ku, yang selalu hanya bisa memandang mu dari kekerdilan ku, menatap ketinggian  yang tak mungkin bisa terjamah.
Juga kau yang hanya mampu memandang ku dari ketinggian mu.
Walau sebenarnya aku tahu,
Kadang tak ada makna berarti yang mampu kau simak,
Yang mampu kau baca dari apa yang telah terjadi. Untuk diam ku, sembunyi ku, dan iklas ku untuk kau yang secara rahasia ku cinta, dan pelan-pelan harus ku lupa...

Banda Aceh
25 Desember 2013.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar