Kadang...
Ada tempat-tempat
yang tak harus kita datangi...
Bukan
karena tak mampu tuk melangkah kesana.
Tapi
karena memang kita belum bisa mendatangi tempat itu.
Kadang...
Ada peristiwa-peristiwa
yang tak harus kita hadiri.
Bukan
kita tak pantas untuk menjadi pemeran utama.
Tapi
memantau dari balik kaca sepertinya lebih baik, agar tak ada goresan hati
tentang makna dari sebuah kata luka.
Kadang...
Ada saatnya
kita harus bersembunyi.
Bukan
karena berjiwa pengecut.
Tapi
karena waktu yang belum mempersiapkan kita tuk menjadi sosok yang lebih kuat,
bila kita menghadapi sesuatu itu.
Kadang...
Ada hal-hal
yang tak bisa tergapai di bumi ini.
Bukan
karena tak layak untuk mendapatkannya, namun ada saatnya kita harus iklas
dengan keadaan. Membiarkan semuanya berlalu, tanpa bisa kita hadari, karena
waktu yang tak mau tahu menahu.
Dan rasanya,
aku tlah seperti itu kini...
Yang
harus iklas dengan semua yang ada.
Ada saatnya
aq harus bersembunyi dari orang-orang yang tak bisa ku jumpai.
Bukan
karena berjiwa pecundang, tapi aku memang tak bisa saling beradu pandang.
Aku tak
mau, kalau nanti kau, dia dan mereka tau apa yang ada disini (hatiku) dan apa
yang masih tersisa di semesta ini (aku) yang selalu tesadar akan cinta semu. Selalu
terjebak diantara cinta tak kasat mata yang hampir membuatku tak berlogika.
Ini saatnya
aku harus diam dalam satu bagian buku kehidupan,
Bukan
tak mau mengakhiri cerita dengan bagian kau dan aku bersama.
Tapi
senyatanya, kini bukan saat ku untuk menulis semua skenarionya, Dialah Yang
Maha Mengetahui, yang kini mengambil bagian. Tak bisa ku tentang, tak bisa ku
membangkang.
Iklas
ku untuk merela semua.
Tentang
diam ku, yang tak mungkin melangkah ke tempat itu.
Tentang
aku yang terpaku, tak mungkin bisa menjadi pemeran utama, dalam satu bagian
potongan kehidupan mu. Meskipun potongan puzzle kehidupanmu itu berceceran,
berantakan, berhamburan, tetap, tak bisa tersisip nama ku disana.
Tentang
aku yang harus bagai kafilah, bersembunyi karena aku yang tanpa sengaja tlah
membawa nama dan bayang mu di ingatan. Sedang aku tau, itu tak patut untuk ku.
Tentang
kau dan aku, yang mungkin kini hanya bisa menjadi seperti langit dan bumi.
Bumi
untuk ku, yang selalu hanya bisa memandang mu dari kekerdilan ku, menatap
ketinggian yang tak mungkin bisa
terjamah.
Juga
kau yang hanya mampu memandang ku dari ketinggian mu.
Walau
sebenarnya aku tahu,
Kadang
tak ada makna berarti yang mampu kau simak,
Yang
mampu kau baca dari apa yang telah terjadi. Untuk diam ku, sembunyi ku, dan iklas
ku untuk kau yang secara rahasia ku cinta, dan pelan-pelan harus ku lupa...
Banda
Aceh
25
Desember 2013.
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar