Rabu, 02 Oktober 2013

Mereka ; Sang Motivator #1

            Haaaaay haaaaaaaaaaaaayy haaaaaaaaaaaaayyy!!!!!
            Hufh, maaf-maaf kalo agak geje gini ya, maklum lah anak muda yang lagi labil. *nah lo??!
Tulisan ini sebenarannya aku tulis disaat aku lagi banyak-banyaknya tugas yang harus aku selesaikan, mulai dari tugas nyuci piring dirumah, nyuci, dan segala antribut pekerjaan rumah tangga lainnya, sampe ke tugas yang buaaanyaaak di kampus. Aku kira selesai PKL dulu, tugas-tugas itu bakal insaf ngejar aku, eh ternyata nggak, malah makin gencar. Selesai PKL, aku dikejar dengan proposal penelitian, selesai proposal penelitian, dihajar lagi dengan sidang proposal yang buat aku selalu merasa mules tiap kali ingat itu. Nah, selesai itu, Cuma dua hari aku bisa bernapas lega, selanjutnya?? Aku harus ngerjain laporan PKL, yang mau nggak mau harus selesai dalam seminggu ini, kalo nggak selesai, aku siap-siap angkat koper kembali PKL. OH TIDAAAAAAAKKKK!!!!!!
Jadi, disela-sela nulis laporan PKL, ide-ide untuk nulis itu muncul. Aku bingung ini ilham atau godaan, kenapa ide-ide itu muncul disaat aku lagi banyak-banyaknya tugas, KENAPAAAA???
So, sebelum aku makin gila karena harus berhadapan dengan laporan PKL yang harus aku kebut selama 7 x 24 jam, dan daripada aku makin stres, jadi aku ambil jalan tengah aja deh, biar aman. Aku nulis tulisan ini, yaaaa.... itung-itung juga sebagai sesuatu yang dapat menghilangkan penat ku itu. Terlebih, kali ini aku mau nulis tentang beberapa orang yang bisa dibilang sebagai ‘Motivator’ aku.
Yaaap!!!
Karena kehadiran dan kemunculan mereka inilah, aku selalu bisa bergerak maju, menantang dunia *lebay nian bahasa mu nak?* memang agak alay bahasanya, tapi beneran loh, mereka-mereka itu memang kayak motivator aku untuk teruuuuuuuuuus dan teruuuuuuuuuuuusssssssss bergerak maju, untuk meraih cita-cita, karena nggak ada yang gak mungkin di dunia ini, right??
Dan siapakah mereka???
Sebelumnya aku mau bilang ke kalian-kalian yang membaca ini, mereka ini adalah orang lain selain keluarga aku*karena bagi ku, keluarga terutama my lovely mom, adalah motivator sepanjang masa dalam hidup ku*. Mereka Nggak ada hubungan darah dengan aku, hidup di dunia yang sama dengan ku, walau ada salah satu dari motivator aku ini, yang dalam prakteknya, kami ini gak pernah bertegur sapa. Siapa. Siapa. Siapa???
Inilah mereka...
·         TRR
Mungkin ini udah yang kesejuta kalinya, aku nulis tentang manusia bermata coklat kayu ini. yap!! Dia adalah salah satu motivator dalam hidup ku, dan dia jugalah yang aku sebut diawal tadi, hidup satu dunia tapi kami nggak saling menyapa, bukan karena dia gagu, tapi karenaaa..... hanya Allah yang tau kenapa *hhahaha...
Aku kenal dengan dia, sekitaran tahun 2007-an, udah agak lama juga ternyata. Secara teori, jaraaaaak kami itu dekaaaaaaaaaaatt banget, tiap hari ketemu, tapi ya itu, aku ini kan orangnya pemalu dan pendiam, jadi aku nggak berani mulai duluan menyapanya. Awalnya aku nggak terlalu peduli dengan manusia ini, walaupun aku udah memberi label kalao dia itu adalah manusia sombong. Jelaslah, kalo nggak sombong, apa juga namanya??
Kecuekan aku ke manusia yang satu ini, terus berlanjut hingga tahun 2009 awal. Waktu itu tiba-tiba aja orang disekitar aku pada heboh, apa gerangan-apa???
Usut punya usut ternyata aku tau sumber kehebohan itu, ternyata dia mau ke Amerika.
Hah??!!!
Kemana. Kemana???!!!
Oya, sebelumnya aku mau bilang kalau dia itu lebih tua empat tahun dari ku.
Kita lanjut lagi ya...
Waktu itu aku syok, saat tau kalau dia mau ke Amerika. Bukan mau jadi TKI ilegal, tapi dia mau lanjutin kuliah disana. Waduuuh!!!
Aku aja belum pasti lewat di universitas di kota aku ini, lah dia?? maen terbang-terbang aja ke Negera patung Liberty itu.
Merasa iri?? Tentu dunk!!
Terlebih dengan kondisi secara teoritis antara dia dengan aku itu deeeekaaaaaaatttt banget, dan secara praktek jauuuuuuuuuuuuuuhhh banget, maka iri aku itu semakin bertambah. Iri disini bukanlah iri-iri ala sinentron yang sering nongol di tipi ya, yang nantinya pemeran antagonisnya menyelinap ke bandara, ngebocorin ban pesawat, terus pesawat yang dia tumpangi itu meledak. *hahhhaha, bisa nggak sih bannya di bocorin?* atau nanti akunya nambahin racun ke minuman si TRR ini, ntar dianya bakal mules terus bolak-balik ke toilet dan akhirnya ngebatalin berangkat ke Amerika, lantaran gak tahan naik pesawat nggak bisa bolak-balik ke toilet *heeeyya!! Sejak kapan di pesawat nggak ada toiletnya?*
Sudahlah, dari pada makin nggak jelas, mari kita perjelas. Jadi iri yang aku maksud disini adalah sebuah rasa iri yang.. hmmm... gimana ya mau aku bilangnya, aku merasa iri karena dia aja bisa lho kesana, so?? Kenapa aku nggak??!!
Mungkin itulah kalimat yang terus berputar-putar dikepala aku. Dan entah siapa yang mengomandokannya, tiba-tiba aja aku ngeadd FS-nya *jaman dulu belum terlalu familiar dengan FB*
Dan taraaaaaaaaaaaaaa!!!
Jadilah aku spy! Tiap ada ‘hal-hal’ baru yang dia posting, selalu aku yang jadi pembaca pertamanya. Hhahaha... dan kepala ku sempat nyut-nyutan saat ngeliat foto-foto dia yang berlatarkan salju, patung Liberty, Ohio university, dan lain sebagainya yang berbau-bau Amerika.
Ya Allah!!!
Aku pingin kesana, ya Rabb!! Aku pingiiiiiiiinnn!!!
Dia aja bisa, kenapa nggak???!!
Dan mulailah aku, bermimpi untuk meraih cita-cita, cita-cita setinggiiiiiiiii angkasa!
Saat itu, aku mutusin untuk bakal melanjutkan kuliah ke Korea *maklum, aku ini dulunya salah satu ELF *Everlasting Friends, para fansclubnya Super Junior* jadi wajar aja kalau aku milih negera gingseng itu.
Selain ngeliat-liat foto-foto di FS-nya, aku juga ngubek-ngubek catatannya. Ternyata banyak puisi-puisi yang dia postingkan di FS ataupun blognya. Aku masih ingat banget judul puisi dia yang pertama aku baca “ Kita Hanya Perlu Sedikit Waktu, Tidak Banyak Untuk Berbagi Cerita”. Puisinya itu kereeeeeeeeeeennn banget!! Bukan puisi alay kayak yang sering aku baca dari mereka-mereka gak sok pujangga.
Dari puisi-puisinya itu, perlahan namun pasti aku mulai menganguminya. Embel-embel sombong yang melekat di dirinya, perlahan pudar. Aku tau gimana dirinya yang sebenarnya, lewat tulisan-tulisannya itu. Dan perlahan-lahan, aku juga ikut-ikutan mulai nulis puisi kayak dia itu.
Yaaah!!!
Bisa dibilang, TRR ini adalah pelopor yang memancing ‘insting pujangga’ ku muncul kepermukaan. Jadilah aku sang penulis berlembar-lembar prosa. Tiap hari, selalu ada puisi-puisi dengan bahasa yang aku sendiri bingung mendefinisikan makna katanya. Hhahhaa. Entah itu prosa yang aku tulis untuknya, untuk mereka, atau... siapa dan apapun itu.
Jadi sekarang itu wajar aja deh, kalau aku ini pantang liat kertas kosong. Pasti ntar aku bakal nulis aksara-aksra indah itu. “Tulis tiap kata dalam bentuk aksara, karena segala bentuk ucap kata akan terlupa”. Di mulai dari dia-lah, aku mulai mencinta dunia tuliiiiiiiiiiiiiiiiiiiis menulis.  Sampai sekarang, udah puluhan puisi yang aku tulis, ntah itu di diary, blog, fs, fb, dan bahkan di buku-buku kuliah. Jadi jangan heran, kalau aku itu adalah salah satu manusia di kampus yang paling enggan meminjamkan catatanya ke kawan, bukan pelit dan bukan juga malas mencatat. Tapi karena entah itu di kulit bukunya, ntah di halaman paling belakangnya, pasti ada puisi-puisi aku itu, dan maluuuu euy, kalau ketauan. Hahahha.
Selain menularkan efek ‘suka menulis puisi’ TRR ini juga menularkan efek suka berkhayal, yang ujung-ujungnya aku salurukan dengan menulis cerpen dan novel. Sekarang udah ada belasan cerpen yang aku buat dan udah beberapa yang aku kirimkan ke media, dan untuk novel? Udah ada beberapa juga yang aku buat, tapi masih belum punya kesempatan untuk melemparkannya ke penerbit. Doakan sajo, aku bisa menjadi penulis novel best seller.
Sekarang, TRR itu udah balik lagi ke sini. Tuuuh, tiap hari dia kembali menampakkan batang hidungnya ke aku. Tapi yaah, mau itu tahun 2009 atau tahun 2013, kondisinya masih tetap sama. Kami masih belum bisa bertegur sapa. But, bagiku itu nggak masalah. Yang pasti, dia adalah salah satu orang yang menularkan efek positif untuk ku, guru yang mengajarkan aku tentang indahnya menulis semua yang kita rasakan dalam bentuk prosa. Dan dia jugalah yang membuat aku berani bermimpi, untuk bisa melihat dunia dari sisi lain, walaupun di awal-awal kuliah, aku berputar haluan untuk pindah negera tujuan, dari Korea pindah ke Prancis, lalu ke Australia dan sekarang ke Prancis lagi. hhahahha...
Dari dia jugalah, buat aku rajin menghapal vocab bahasa inggris yang dulu ogah banget aku lakukan. Dari dia, aku juga kenal lagunya INXS feat Sona dengan judul “Afterglow”. Lagu itu dari tahun 2010 sampai sekarang masih ada di playlist ku. Juga, aku semakin menyukai ‘senja’...
Kenapa aku bisa suka senja?
Karena senja itu bagiku begitu indah, singkat namun menawan. Pinter-pinter cara kitannya aja gimana melihatnya. Sama kayak hidup. Aku mau di hidupku yang Cuma satu kali ini, menjadi sesuatu yang ‘menawan’ bagi semua orang yang melihat ku dengan caranya.
Mungkin sebagian orang lebih menyukai pagi, sampe-sampe ada istilah ‘selamat pagi, semangat pagi’ yang di ucapkan bahkan disaat jamnya pocong beraksi, yaaah, memang betul, pagi itu adalah masa-masa anak manusia memulai harapan dengan menggantungkan segala doanya. Nah, tapi bagi ku, senja itu juga berarti, karena senja adalah waktu kita untuk mensyukuri apa yang telah kita dapati, dan apa yang belum bisa kita raih, bukankah dengan selalu bersyukur kita akan semakin dekat dengan Sang Rabbi??
Dan untuk motivator ku, TRR.... aku tau dia pasti nggak pernah bakal tau kalau aku ini menjadikan dia salah satu motivator ku *beribet amat dah bahasanya* tapi, apapun itu, aku tetap menganggapnya motivator. Karena dialah yang pertama kali mengenalkan ku akan mimpi dan cita-cita yang setinggi apapun dapat diraih kalau kita berusaha. Dari dia aku juga belajar untuk berjuang mengejar mimpi, dan... dari dia juga aku bisa merangkai berjuta kata membentuk prosa, entah itu tentang cinta, cita atau kecewa...
Aku suka dengan kata-kata yang aku dapatin sewaktu aku les di masa-masa SMA dulu, ini nih kata-katanya :
“Cinta nggak bakal bersatu, bila hanya 1 hati yang berbicara.
 Gak bakal ada bunyi tepuk tangan, bila hanya 1 tangan yang menepuk.
 Dan kita nggak bakal pernah tau dunia itu bulat, kalau kita nggak pernah   melihatnya dari atas.
Dan cita, nggak bakal menjadi nyata kalau kita nggak menjemputnya”

Mungkin itu cerita aku tentang motivator ku part 1 ini, di part 2 nanti aku bakal cerita tentang orang yang buat aku nggak bisa tidur siang malam, karena saking semangatnya kuliah dan cepat-cepat melanjutkan S2 ke negara ‘X’ itu. gimana ceritanya?? Tetap kepo-in blog aku yooo...
Mari kita tutup cerita hari ini, insya Allah aku bakal ngelanjutin part 2_y. Dan sekarang aku mau lanjutin nulis laporan PKL dulu yaaa!!
Byeee byeeeee!!!!
:)

Banda Aceh, 2 oktober 2013
Waktu dimana kepala
 seperti sedang kelelep gara-gara tugas yang bejibun

hahhaha.......

Sabtu, 28 September 2013

Sebab Perih Tak Bisa Terlipat Prosa


Lihatlah kawan!
Senja kali ini tak seperti biasa,
Karena mega kelabu berarak mentupi langit saga.
Sebab, perih itu tak bisa terlipat oleh prosa yang mampu ku cipta...

Dari mu...
Aku tahu seperti apa kelam hitamnya rasa kecewa,
Ketika raga terasa tak bernyawa, saat kepala-kepala ini tercabik termaki oleh kata-kata yang tak mereka mengerti.
Saat hatiku, mulai terasa kebas, terus menahan segala sayatan yang harus ku balas dengan senyuman, menciptakan sembab, dan memberatkan bantal basah oleh air mata.

Terungkap samar-samar, rahasia yang tak pernah mau kau ungkapkan di hadapan ku.
Kau, adalah  lembaran  yang mengajarkan ku tentang air mata, menggambarkan dengan pasti luka atas dasar kecewa.
Aku hanyalah bagian dari mereka, yang berkepala penuh dengan kenaifan dan keegoisan.
Aku adalah bagian dari mereka, yang hidup dalam semesta dengan mencinta, dan harus binasa karena terluka.
Karena senja kali ini, tak seindah biasa.
Mega datang bergulung kelabu, menutup warna langit saga.

Kau, aku, kita...
Hidup dalam kepura-puraan yang kita lukiskan dengan aksara “aku tak mengapa”
Kau, jadikan aku seperti orang bodoh! Yang terus mereka-reka apa yang sebenarnya terjadi, antara kau dan dia...
Sungguh membuat ku hampir akan gila, berusaha berdamai dengan perih yang tinggal menunggu waktu, kapan ia dengan nyata akan menusuk ku.
Bukan salah mu, kawan...
Bila kita bersama, dan bersimpati padanya...
Dan bukan juga salah Sang Pencipta, yang tak mau menciptakan dua manusia lebih seperti dia.
Takdir juga tidak sedang mempermainkan kita, karena mempertemukan kau, aku, dia, pada lingkar yang sama.
Namun, karena kini, hati ku terlanjur terluka oleh semua cerita,
Yang mungkin tak bisa lagi membuat kita saling menyapa...

Lihatlah kawan!
Senja kali ini tak seperti biasa,
Sebab mega kelabu berarak mentupi langit saga.
Itu luka, kawan.
Luka amat nyata yang tlah kita cipta, luka yang tlah membuat senja tak seindah biasa...

Kau...
Mengajarkan ku tentang sebuah keikhlasan,
Mengajarkan ku untuk merenung dan mengambil keputusan aku untuk berhenti menangis.
Darimu, aku paham, bagaimana rasanya sakitnya kecewa karena teman yang kini mulai ‘asing’ bagiku.
Dan itulah, kisah yang tertulis nyata tentang kita...
tentang kita, yang berusaha hidup menghapus luka dengan mengatakan “Aku Tak Mengapa”...

                Banda Aceh,
         28 September 2013

Sabtu, 21 September 2013

Tentang Kita, Rahasia di Suatu Senja


Ku tatap langit di sudut senja,
Dari pinggir jutaan kubik air tawar yang tak mengalir,
Dengan secangkir kopi hangat yang mengepulkan asap tipis.
Satu cerita indah telah terenda,
Tentang kau, aku, dia, kita...

Senja selalu memiliki cerita,
 Dan Senja kali ini bukan saja memiliki cerita, namun rahasia.
Rahasia tentang kau, yang mulai perlahan menjamah akal sehat ku.
Tentang sebuah rasa yang tak bisa ku jelaskan.
Senyummu...
Indah...
Dapat ku rasa, ada yang tak biasa dari debaran yang tercipta.
Mencungkil riak hati, untuk terus menyebut nama mu.
Seluruh jejak eksistensi hidup mu,
Membuat ku terpana...
Menggali lagi semua asa tentang mimpi ku, cita dan cinta yang tlah mulai terkubur zaman. Kau ceritakan lagi pada ku, bagai mana indahnya negeri bertower tinggi itu.
Melibas seluruh kecewa, nelangsa yang dulu pernah ada.
Sebab cinta,
Selalu bisa menawar pedih menjadi suka.

Dan kau,
Laki-laki yang menyapa ku dengan tatapan seindah langit senja, yang pernah ku lihat dari pinggir jutaan kubik air tawar yang tak mengalir.
Selalu ada debaran tiap kali kau singgah dalam pikiran ku,
Bukankah hati selalu saja begitu, membuat logika melemah terkalahkan oleh rasa yang padahal belum tentu memihak.

Apakah ini adalah takdir?
Mempertemukan kita pada satu nada yang sama.
Pada ritme mimpi tentang negeri indah bertower tinggi disana.
Namun Satu halaman hidup mu,
Membuat ku ternganga...
Senyata kau tlah mengukung namanya dalam janji suci yang kau ikrarkan.
Dan terlalu gila, bila aku harus melangkah memutus segalanya.

Ku tatap langit di sudut senja,
Dari pinggir jutaan kubik air tawar yang tak mengalir,
Dengan secangkir kopi hangat yang mengepulkan asap tipis.
Penuhi putih ku dengan pena namamu...
Curang kah takdir terhadap kita?
Karena tak menghidupkan ku, pada ribuan hari lebih cepat sebelum hari ini?
Tak pedulikah Tuhan, kepada ku, karena mempertemukan kita pada masa ketika kau dan dia telah bersama?
Sepertinya tidak...
Hadir ku memang lebih terlambat darinya.
Namun Cintanya memang lebih nyata,
dan bahagia tergores tulus dari ku untuk mu mengetahui itu.
‘kau bukan hak untuk ku’ itulah kenyataan yang tertoreh pasti dalam kitab ku.
Hadir mu, membuat ku mengerti...
Tak selamanya kuncup-kuncup cinta itu merekah, berjumpa pada ujung cerita untuk bersama.
Ku bungkus cerita untuk doa-doa yang tergantung di udara.
Menggenapkan syukur ku pada sang Rabbi,
Juga bahagia ku bisa mengenal mu dalam diam ku.
Kau hidupkan lagi semua asa, semua tanya hati tentang cita, Menyapa kembali mimpi ku, tentang negeri indah bertower tinggi yang juga pernah kau mimpikan dulu.
Ku biarkan, cinta yang dulu mengepul, menguap ke udara seperti kepulan asap kopi dari cangkir ku ini.
Ku tatap langit di sudut senja,
Dari pinggir jutaan kubik air tawar yang tak mengalir,
Satu cerita indah telah terenda,
Tentang Kau dan dia bahagia
Indah... bersama...
Tentang aku, yang hidup menyulam mimpi memeluk cinta yang nanti kan ku tawarkan untuknya...
Tentang kita, rahasia di suatu senja...

Banda Aceh,
21 September 2013.
Untuk motivator hidup ku, mr. I.S.
Terima kasih atas eksistensi mu dalam mengembalikan kembali mimpi ku untuk meraih cita di negeri indah bertower tinggi itu.
Semua mimpi dan harapan, pasti akan menjadi kenyataan :)






Senin, 22 Juli 2013

Kamu, Teman ku :)


Apa arti kata ‘pertemanan’ bagi kalian?
Mungkin itulah kata yang sekarang menggelayut dipikiran ku saat ini. setelah sekian lama gak ngepost tulisan lagi, kali ini aku mau nulis lagi tentang sesuatu, dan semua ini terinspirasi dari salah satu teman ku. Aku menulis tulisan ini juga tentang dia, karena ya itu tadi, dia telah menginspirasi pikiran ku ini tentang banyak hal, apa itu??
Yuuuuk kita lihat, chek it out!!
Sebut saja namanya, Edward (karena aku penggemarnya Twilight Saga), dan aku juga gak mungkin bilang ‘sebut saja dia mawar’ karena dia itu cowok. Yah! Orang yang mau aku ceritain itu adalah seorang makhluk Tuhan dari kaum Adam. Ok, kita mulai...
Edward ini temen sekampus ku. Dulunya waktu semester satu, aku maleeeeeeeeeeeess banget liat dia, apa lagi ngobrol. Ogah nian deh pokoknya. Dia anaknya juga sering banget ngeledekin teman-teman yang lain, dan termasuk aku. Tapi anehnya, dia itu berani ngeledekin waktu dia lagi kumpul dengan in the genknya aja, tapi kalau dia lagi sendiri atau ketemu dengan aku di luar kampus, dia pasti senyum dengan aku. Malah dulu pernah kami seangkot, dan dia nyapa aku (sekilas tentang masa lalu kami :D ).
waktu berlalu, waktu itu seingat aku akhir semester satu dan lagi musim-musimnya final. Kayak biasanya Edward dengan genknya nongkrong di tempat tongkrongan(dulu aku gak tau kalau ternyata saat itu dia lagi belajar), lewatlah aku di depan dia, spontan genknya yang punya mulut kayak panci-panci itu ngeledekin aku dan beberapa teman ku. Aku sih, stay cool aja, secara aku ini kan emank cool  dan gak penting banget ngeladenin kaum-kaum kayak mereka itu. Lalu tiba-tiba aku deger dia buka suara, “Aku gak mau ngeledekin orang dulu deh. Ntar ilmu yang ada di kepala ku hilang”. Hhahahahhaha..... di situ aku merasa kalau dia itu sedikit agak lebih baik dari teman-temannya yang bermulut panci itu.
ok, lanjooooott!!!
Perjalanan kali ini berlanjut kesemester tiga.sifat suka ngeledek dia itu masih melekat dengan pasti, entah gimana awalnya tiba-tiba aja dia nyebut nama aku, bukan Rizka, tapi salah satu nama artis cewek yang sekarang lagi booming. Mulai dari saat itu, aku udah jarang dengar nama aku disebut ‘Rizka’ tapi berganti dengan nama si artis itu. subhanallah, itu kawan kebangetan banget deh.
lalu lagi-lagi musim  Final, dan kalau gak salah lagi lagi final MK Statistika (Kenapa aku selalu ngeliat dia itu pas Ujian, ya?), wadooh statistika euy, sepanjang aku mulai bisa mengeja, aku paling males dengan pelajaran hitung-hitungan ==” termasuk dengan pelajaran statistika itu. agak sedikit buka rahasia, kami pun bergotong-royong saling membantu teman-teman menyelesaikan ujian itu, hahhahha malu sendiri kalau ingat itu. disitu, si Edward ini kembali menunjukkan sisi ‘sedikit agak lebih baik’ dari teman-temannya yang bermulut panci. Dia yang alhamdulillah di karuniakan otak yang lumayan encer, ngebantuin teman-temannya menyelesaikan soal persoal statistika itu. Dia lebih mendahului menjawab soal untuk teman-temannya, ketimbang menjawab soal di lembar jawabannya sendiri. waktu itu ada satu kalimat yang muncul di benak ku. “Itu anak baiknya kok menjurus ke bego ya?”.
Semester demi semester pun berlalu. Gak ada yang terlalu special dari dia karena mungkin aku emang gak terlalu peduli dengan dia. Tapi, aku mulai memperhatikan dia di semester enam, saat aku tau gimana dia sebenarnya.
Di semester enam ini, kami ngambil mata kuliah pilihan yang sama. Dan mata kuliah itu ngewajibkan praktek ke lapangan gitu, Field trip kalau bahasa sekarangnya. Disini ternyata oh ternyata, aku mulai melihat ada sisi yang beda dari dia. sepanjang praktek itu yang makan waktu tiga hari dua malam, aku mulai menganggap dia beda. Mungkin kami emang jarang banget ngomong dengan dia, terlebih akhir-akhir ini ada gosip yang beredar antara kami yang buat kami semakin ‘malas’ saling ngomong. Oya, disini juga dia udah beda banget dari semester awal aku kenal dia, dia udah gak pernah ngeledekin aku lagi. mungkin, aku gak bisa cerita gimana detailnya kejadian yang terjadi sewaktu kami field trip itu karena kau gak mau dia ke GR an waktu membaca tulisan ini dan kami semakin gak pernah saling nyapa lagi :D , namun yang pasti di sinilah aku tau kalau dia itu ternyata baaaaaaiiiiiiiiiik banget, emang terkesan cuek dan ngak peduli dengan orang, tapi Subhanallah. Aku Terpukau dibuatnya J
Masih di semester enam, semester yang kami sebut semester ‘jalan-jalan’ karena selang satu bulan setelah kami field trip tiga hari dua malam itu, kami kembali melanjutkan perjalanan field trip. Kali ini tujuan kami adalah pabrik-pabrik yang ada di luar provinsi di tempat kami tinggal. Oya, sekedar info, sejak field trip pertama itu, Edward udah dekat dengan sakah satu sahabat aku, sebut aja namanya Mawar :D. tiap hari Mawar dengan Edward ini smsan, mulai dari bahasan seputaran kampus, sampe seputaran hal-hal yang gak penting banget mereka bahas. Aku melihat mereka ini klop banget, hampir enam semester gak dekat, tiba-tiba aja Cuma gara-gara sekelompok pas field trip mereka udah kayak kakak-adik (kemungkinan karena si Mawar ini anaknya rada-rada sarap dikit, dan belakangan ini aku tau si Edward gak kalah sarapnya dengan Mawar).
Kita lanjut lagi ke masa field trip ke-2. Disini aku jarang lihat Edward, karena sesuatu dan lain hal yang membuat dia jarang berada di rombongan kami. Di sini, aku masih ‘Terpukau’ dengan teman ku yang satu ini (aku udah menganggapnya teman sejak kepulangan dari Field trip pertama). Dan rasa ‘perteman’ ku itu kembali bertambah saat dia smsan dengan Mawar, ngajak kami nonton. Katanya agenda field trip kali ini terlalu monoton. OH MG!!! Emank dia bukan ngajak aku secara langsung, tapi aku senang kalau dia bersedia aku ikut dengan Mawar. Nyampe di bioskop, kami gagal nonton, kecewa berat cuy, gara-gara film yang mau kami nonton selesainya kemalaman sedangkan kami harus balik ke penginapan jam 10 malam. Jadi kami mutar arah, gak jadi nonton tapi makan es krim aja deh, oya kami perginya juga gak bertiga, tapi berlima, tiga cowok dan dua cewek-aku dan mawar-.
Saat makan es krim, dia duduk di depan ku. Tetap mau duduk di belakang, di depan, disamping dan di-di yang lainnya, kami tetap gak pernah bicara. Dia lebih banyak bicara dengan Mawar, karena hal yang aku sebut diatas tadi, mereka sama-sama Sarap. Hahahaha. Singkat cerita kami menghabiskan es krim itu dengan suka cita #alay nian bahasanya ==” tapi itulah yang aku rasa. Aku senang! Dan aku gak tau apa arti rasa senang aku itu.
Field trip berakhir dan lagi FINAL datang. Edward dan Mawar semakin kayak kakak-adik, sama-sama sarap, sama-sama gila. pokoknya kalau di dekat mereka, siap-siap deh ketawa gak berhenti. Aku agak lupa itu final mata kuliah apa, yang pasti aku ingat sebelum ujian aku, Mawar, Edward dan sahabat-sahabat kami , kami belajar bareng. Kejadian langka sepanjang semester satu sampe enam. Di saat kami sibuk komat-kamit belajar, aku ngeliat si Edward santai, sibuk dengan laptopnya.
“Kamu gak belajar?” tanya si Mawar dengan gaya khasnya.
Si Edward menggeleng, “Udah tadi pas subuh”.
Aku bengong, “WHATS?? DIA BELAJAR?! Aku aja jarang belajar di waktu subuh, lah dia??”. tapi aku Cuma bisa diam aja, gak mungkin dunk aku mengungkapkan kalimat yang ada dikepala aku itu.
Ujian pun berlangsung, dan si Edward bener-bener membuktikan kata-katanya. Kebetulan dia duduk di samping aku #hasil modus yang aku lakukan sehingga aku bisa duduk disebelah dia :D # dia menjawab soal ujian dengan lancaaaaaaaaaaaaaaaaarrr banget. Dan jadilah si Edward itu objek lirikan ku. Aku penasaran dengan bagaimana dia saat menjawab soal, jadi setelah menyelesaikan soal-soal di kertas ujian ku, kau beralih memperhatikan dia #tentu tanpa sepengetahuan dia# aku melihat dia, benar-benar tekun ngejawab soal, bahkan ampe keringatan dan kadang dia berhenti, berpikir dengan jidat yang berlipat, terus nulis lagi. subhanallah, aku harus mengakui satu hal ini, aku terharu ngeliat dia gitu. Ya, aku bener-bener meneteskan air mata terharu sewaktu melihat dia menjawab soal itu, alay memang, tapi itulah yang terjadi. Sudut pandang ku tentang dia berubah ketika itu juga.
Lalu, aku pun mencoba flashback tentang apa-apa aja yang udah terjadi sejak awal semester hingga semester enam ini. dan aku harus mengucap SUBHANALLAH lagi, saat aku sadar ternyata tiap hari dia berubah menjadi manusia yang baik hari demi harinya, dia berubah menjadi teman yang penuh perhatian, yang sayangnya selama ini luput dari perhatian ku.
Kayak film yang diputar ulang, bayangan-bayangan kebaikan yang udah dia lakukan ke aku terulang di ingatan ku silih berganti. Saat dia, ternyata sering banget memberikan aku kursi tempat duduknya, saat aku berdiri dan udah pegel. Dia rela berdiri, walaupun dia gak kasih kursi itu secara gamblang ke aku, tapi aku tau itu bentuk keperhatian dia ke aku #heeey, ini bukan GR ku aja ya. Semua orang ternyata mengatakan hal yang sama dengan pikiran ku ini# dia juga panik sewaktu aku belum menyelesaikan tugas kelompok, bahkan dia membantu menyelesaikannya. Dia juga pernah menyemangati ku untuk semangat membuat proposal PKL, membukakan kaca mobil saat aku bilang aku mual, dan dia dengan cueknya buka kaca jendela mobil sambil bilang gini dengan temanku yang juga ada di mobil ini, ‘ Buka aja ya kacanya, biar gak mual’. Serta masih banyak lagi bentuk keperhatianan dia untuk aku. Sekali lagi aku bilang ini bukan GR ku!!
Ternyata, selama ini dia menganggap ku sebagai temannya walau diawal pertemuan kami, kami agak kurang ramah dan saling menyapa. Ternyata walau pun kami jarang berbicara, jarang menyapa, dan katanya ke Mawar dia gak bicara dengan ku karena dia takut dengan ku, di luar semua itu aku tau, dia adalah teman yang baik. Seorang teman yang memiliki rasa ‘sayang’ besar kepada temannya dibalik kecuekannya. Rasa sayang yang besar yang dia tunjukkan kepada semua temannya. Seorang teman yang bersikap begitu sederhana namun memiliki sesuatu yang begitu sempurna. Memiliki kebaikan hati, yang ternyata selama ini luput dari perhatianku. Teman yang memiliki tingkah ‘gila’ dan selalu berhasil mengubah suasana hati menjadi lebih baik lagi.
Ternyata selama ini aku terlalu di’buta’kan oleh hal-hal sempurna yang membuat aku gak bisa melihat kebaikannya. Sekarang aku tau, makna dari kalimat yang sering orang-orang bilang. Kalimat ‘tak kenal maka tak sayang’. Kata-kata itu bener banget, dulu aku mungkin gak terlalu mengenal si Edward itu, hingga aku gak tau gimana sebenarnya dia, gimana sederhananya hidup dia. selama ini aku terlalu menganggap dia anak badung yang memiliki teman-teman bermulut panci. Semua itu luntur, karena kau berhasil melihat dia dari sisi yang lain. ‘Don't judge the book by its cover’ kayaknya kata-kata itu juga cocok untuk ku.
Sekarang aku dan si Edward itu masih gak saling bicara, tapi alhamdulillahnya kami berkumpul bersama teman-teman yang sama, sama gilanya. Aku bahagia bisa mengenal dia sebagai salah satu teman ku yang luar biasa, teman yang menginspirasiku dalam berbagai hal, teman yang berhasil membuat ku ‘TERPUKAU’. Teman yang luuuuaaar biasa!! :)
Inilah cerita ku tentang seorang teman ku, teman yang ku anggap begitu special karena dia telah menyentuh hidup ku dengan caranya yang unik :) :)