Ku
tatap langit di sudut senja,
Dari
pinggir jutaan kubik air tawar yang tak mengalir,
Dengan
secangkir kopi hangat yang mengepulkan asap tipis.
Satu
cerita indah telah terenda,
Tentang
kau, aku, dia, kita...
Senja
selalu memiliki cerita,
Dan Senja kali ini bukan saja memiliki cerita,
namun rahasia.
Rahasia
tentang kau, yang mulai perlahan menjamah akal sehat ku.
Tentang
sebuah rasa yang tak bisa ku jelaskan.
Senyummu...
Indah...
Dapat
ku rasa, ada yang tak biasa dari debaran yang tercipta.
Mencungkil
riak hati, untuk terus menyebut nama mu.
Seluruh
jejak eksistensi hidup mu,
Membuat
ku terpana...
Menggali
lagi semua asa tentang mimpi ku, cita dan cinta yang tlah mulai terkubur zaman.
Kau ceritakan lagi pada ku, bagai mana indahnya negeri bertower tinggi itu.
Melibas
seluruh kecewa, nelangsa yang dulu pernah ada.
Sebab
cinta,
Selalu
bisa menawar pedih menjadi suka.
Dan
kau,
Laki-laki
yang menyapa ku dengan tatapan seindah langit senja, yang pernah ku lihat dari
pinggir jutaan kubik air tawar yang tak mengalir.
Selalu
ada debaran tiap kali kau singgah dalam pikiran ku,
Bukankah
hati selalu saja begitu, membuat logika melemah terkalahkan oleh rasa yang
padahal belum tentu memihak.
Apakah
ini adalah takdir?
Mempertemukan
kita pada satu nada yang sama.
Pada
ritme mimpi tentang negeri indah bertower tinggi disana.
Namun
Satu halaman hidup mu,
Membuat
ku ternganga...
Senyata
kau tlah mengukung namanya dalam janji suci yang kau ikrarkan.
Dan
terlalu gila, bila aku harus melangkah memutus segalanya.
Ku
tatap langit di sudut senja,
Dari
pinggir jutaan kubik air tawar yang tak mengalir,
Dengan
secangkir kopi hangat yang mengepulkan asap tipis.
Penuhi
putih ku dengan pena namamu...
Curang
kah takdir terhadap kita?
Karena
tak menghidupkan ku, pada ribuan hari lebih cepat sebelum hari ini?
Tak
pedulikah Tuhan, kepada ku, karena mempertemukan kita pada masa ketika kau dan
dia telah bersama?
Sepertinya
tidak...
Hadir
ku memang lebih terlambat darinya.
Namun
Cintanya memang lebih nyata,
dan
bahagia tergores tulus dari ku untuk mu mengetahui itu.
‘kau
bukan hak untuk ku’ itulah kenyataan yang tertoreh pasti dalam kitab ku.
Hadir
mu, membuat ku mengerti...
Tak
selamanya kuncup-kuncup cinta itu merekah, berjumpa pada ujung cerita untuk
bersama.
Ku
bungkus cerita untuk doa-doa yang tergantung di udara.
Menggenapkan
syukur ku pada sang Rabbi,
Juga
bahagia ku bisa mengenal mu dalam diam ku.
Kau
hidupkan lagi semua asa, semua tanya hati tentang cita, Menyapa kembali mimpi
ku, tentang negeri indah bertower tinggi yang juga pernah kau mimpikan dulu.
Ku
biarkan, cinta yang dulu mengepul, menguap ke udara seperti kepulan asap kopi
dari cangkir ku ini.
Ku
tatap langit di sudut senja,
Dari
pinggir jutaan kubik air tawar yang tak mengalir,
Satu
cerita indah telah terenda,
Tentang
Kau dan dia bahagia
Indah...
bersama...
Tentang
aku, yang hidup menyulam mimpi memeluk cinta yang nanti kan ku tawarkan
untuknya...
Tentang
kita, rahasia di suatu senja...
Banda Aceh,
21 September 2013.
Untuk
motivator hidup ku, mr. I.S.
Terima
kasih atas eksistensi mu dalam mengembalikan kembali mimpi ku untuk meraih cita
di negeri indah bertower tinggi itu.
Semua
mimpi dan harapan, pasti akan menjadi kenyataan :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar