Sabtu, 28 September 2013

Sebab Perih Tak Bisa Terlipat Prosa


Lihatlah kawan!
Senja kali ini tak seperti biasa,
Karena mega kelabu berarak mentupi langit saga.
Sebab, perih itu tak bisa terlipat oleh prosa yang mampu ku cipta...

Dari mu...
Aku tahu seperti apa kelam hitamnya rasa kecewa,
Ketika raga terasa tak bernyawa, saat kepala-kepala ini tercabik termaki oleh kata-kata yang tak mereka mengerti.
Saat hatiku, mulai terasa kebas, terus menahan segala sayatan yang harus ku balas dengan senyuman, menciptakan sembab, dan memberatkan bantal basah oleh air mata.

Terungkap samar-samar, rahasia yang tak pernah mau kau ungkapkan di hadapan ku.
Kau, adalah  lembaran  yang mengajarkan ku tentang air mata, menggambarkan dengan pasti luka atas dasar kecewa.
Aku hanyalah bagian dari mereka, yang berkepala penuh dengan kenaifan dan keegoisan.
Aku adalah bagian dari mereka, yang hidup dalam semesta dengan mencinta, dan harus binasa karena terluka.
Karena senja kali ini, tak seindah biasa.
Mega datang bergulung kelabu, menutup warna langit saga.

Kau, aku, kita...
Hidup dalam kepura-puraan yang kita lukiskan dengan aksara “aku tak mengapa”
Kau, jadikan aku seperti orang bodoh! Yang terus mereka-reka apa yang sebenarnya terjadi, antara kau dan dia...
Sungguh membuat ku hampir akan gila, berusaha berdamai dengan perih yang tinggal menunggu waktu, kapan ia dengan nyata akan menusuk ku.
Bukan salah mu, kawan...
Bila kita bersama, dan bersimpati padanya...
Dan bukan juga salah Sang Pencipta, yang tak mau menciptakan dua manusia lebih seperti dia.
Takdir juga tidak sedang mempermainkan kita, karena mempertemukan kau, aku, dia, pada lingkar yang sama.
Namun, karena kini, hati ku terlanjur terluka oleh semua cerita,
Yang mungkin tak bisa lagi membuat kita saling menyapa...

Lihatlah kawan!
Senja kali ini tak seperti biasa,
Sebab mega kelabu berarak mentupi langit saga.
Itu luka, kawan.
Luka amat nyata yang tlah kita cipta, luka yang tlah membuat senja tak seindah biasa...

Kau...
Mengajarkan ku tentang sebuah keikhlasan,
Mengajarkan ku untuk merenung dan mengambil keputusan aku untuk berhenti menangis.
Darimu, aku paham, bagaimana rasanya sakitnya kecewa karena teman yang kini mulai ‘asing’ bagiku.
Dan itulah, kisah yang tertulis nyata tentang kita...
tentang kita, yang berusaha hidup menghapus luka dengan mengatakan “Aku Tak Mengapa”...

                Banda Aceh,
         28 September 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar