Lihatlah kawan!
Senja kali ini tak seperti biasa,
Karena mega kelabu berarak mentupi langit saga.
Sebab, perih itu tak bisa terlipat oleh prosa yang mampu ku
cipta...
Dari mu...
Aku tahu seperti apa kelam hitamnya rasa kecewa,
Ketika raga terasa tak bernyawa, saat kepala-kepala ini
tercabik termaki oleh kata-kata yang tak mereka mengerti.
Saat hatiku, mulai terasa kebas, terus menahan segala
sayatan yang harus ku balas dengan senyuman, menciptakan sembab, dan
memberatkan bantal basah oleh air mata.
Terungkap samar-samar, rahasia yang tak pernah mau kau ungkapkan
di hadapan ku.
Kau, adalah lembaran yang mengajarkan ku tentang air mata,
menggambarkan dengan pasti luka atas dasar kecewa.
Aku hanyalah bagian dari mereka, yang berkepala penuh dengan
kenaifan dan keegoisan.
Aku adalah bagian dari mereka, yang hidup dalam semesta
dengan mencinta, dan harus binasa karena terluka.
Karena senja kali ini, tak seindah biasa.
Mega datang bergulung kelabu, menutup warna langit saga.
Kau, aku, kita...
Hidup dalam kepura-puraan yang kita lukiskan dengan aksara “aku
tak mengapa”
Kau, jadikan aku seperti orang bodoh! Yang terus mereka-reka
apa yang sebenarnya terjadi, antara kau dan dia...
Sungguh membuat ku hampir akan gila, berusaha berdamai
dengan perih yang tinggal menunggu waktu, kapan ia dengan nyata akan menusuk
ku.
Bukan salah mu, kawan...
Bila kita bersama, dan bersimpati padanya...
Dan bukan juga salah Sang Pencipta, yang tak mau menciptakan
dua manusia lebih seperti dia.
Takdir juga tidak sedang mempermainkan kita, karena
mempertemukan kau, aku, dia, pada lingkar yang sama.
Namun, karena kini, hati ku terlanjur terluka oleh semua
cerita,
Yang mungkin tak bisa lagi membuat kita saling menyapa...
Lihatlah kawan!
Senja kali ini tak seperti biasa,
Sebab mega kelabu berarak mentupi langit saga.
Itu luka, kawan.
Luka amat nyata yang tlah kita cipta, luka yang tlah membuat
senja tak seindah biasa...
Kau...
Mengajarkan ku tentang sebuah keikhlasan,
Mengajarkan ku untuk merenung dan mengambil keputusan aku
untuk berhenti menangis.
Darimu, aku paham, bagaimana rasanya sakitnya kecewa karena
teman yang kini mulai ‘asing’ bagiku.
Dan itulah, kisah yang tertulis nyata tentang kita...
tentang kita, yang berusaha hidup menghapus luka dengan
mengatakan “Aku Tak Mengapa”...
Banda Aceh,
28 September 2013

Tidak ada komentar:
Posting Komentar