Kehujanan
pas pulang kuliah sore tadi, tiba-tiba aja menghujani aku sebuah inspirasi
untuk menulis sesuatu. Yaah! Sesuatu yang akhir-akhir ini lagi banyak melanda
para AbeGe-AbeGe maupun para anak muda, nggak terkecuali sang penulis. Hahhaha
Ok,
tulisan ini ditulis dengan diiringi lagu Galau yang dinyanyiin ama om Yovie n
the Nuno, biar tambah komplit dah galaunya. Hhehe... baik-baik, kita menuju ke
topik. Sebenarnya kata-kata “galau” ini udah mendarah daging dengan para jiwa
muda yang sedang dilanda cinta *walau nggak bisa divonis juga kalau semua orang
yang galau itu akibat cinta. Non. Non. Non. Ada banyak hal yang membuat kita
“galau”. Bisa jadi aja karena bingung harus milih ini atau itu, galau dengan
duit di dompet yang mulai menipis sedang kreditan baju belum lunas *ini jelas
bukan pengalaman penulis ya, hhahah* dan masih banyak jenis galau-galau lainnya
yang memang gak bisa dipunggkiri, galau akibat “urusan hati” begitu mendominasi
akhir-akhir ini. “urusan hati” itu begitu kuat menancapkan eksistensinya
akhir-akhir ini di jiwa anak muda, hingga menimbulkan efek sering bengong
sendiri kayak sapi ompong, atau bad mood seharian
yang nggak ketulungan, atau... nangis meraung-raung dikamar akibat apa? Ya ya
ya, GA-LAU!!
Sebenarnya,
kata “galau” itu udah lama bersliweran di kancah perbahasaan, malah lagu tante
Titi DJ aja ada yang liriknya nyebut-nyebut kata “galau”, tapi entah kenapa
disaat itu belum terlalu booming dengan
istilah ini, malah terkesan nggak ngeh. Nah, siapakah yang pertama kali mempopulerkan
istilah galau itu ke publik? Membuat
seluruh remaja dan muda mudi seantero nusantara rame ngebuat status “galau tingkat dewa”. Emangnya dewa
pernah galau?? Ckckckck
Menurut
KBBI, Galau itu adalah keadaan pikiran yang kacau balau *waduh, habis di landa
badai kali ya tu pikiran* . dan mungkin emang bener banget, kekacauan pikiran
itulah yang membuat efek perubahan sikap yang drastis bagi para penderitanya.
Efek tersebut bisa bermacam-macam, seperti yang aku sebut sebelumnya.
Ok.ok.
aku nggak bisa bohong, kalau saat nulis ini aku juga sedang galau, galau akan
sesuatu, galau akan pikiran yang gak pasti dan... sudah lah, hentikan sandiwara
mu Anabella!! *Korban Telenovela, sorry sorry :D
Kali
ini aku mau menceritakan “sedikit” cerita kegalauanku, dan kita akan “sedikit”
mengambil hikmah dari rasa itu. Nggak ada yang sia-sia di muka bumi ini, right? Bahkan galau itu sendiri yang
selama ini terkesan memberikan efek kurang baik, ternyata bisa juga memberikan
sesuatu yang positif. Apa itu? Yuuk, simak cerita berbii. Hahahha
Cerita
berawal dari awal semester tujuh....
Jreeeeng
jreeeeeeeeng jreeeeeeeeeeeeeeeeeeeeng!!!
Mungkin
semester ini adalah semester “TERGALAU” yang pernah aku lalui, selama aku
melanglang buana dikancah perkuliahan. Karena apa? Karena cinta
*Aseeeeeekkkkkk. Wkwkwkkwk. Ya, nggak bisa aku pungkiri aku adalah satu dari
jutaan umat manusia diluaran sana, yang dilanda galau gara-gara urusan hati
yang satu ini. Dan ternyata, galau
gara-gara urusan hati ini lebih nggak mengenakkan dari pada galau gara-gara
mikirin utang. Beneran loh! Suwer deh berbii!!! Mungkin juga aku udah sering
mengalami “galau” urusan hati, tapi galau kali ini bener-bener membuat aku
galau *bahasa orang galau kadang emang agak beribet.
Dan....
sebut saja namanya mr. XX, karena aku sama sekali nggak mau membuat dia
terkenal secara dadakan karena pernah jadi topik di blog ini. Sebenarnya aku
kenal dia sih udah dari awal semester enam.
Dia sering berkeliaran disekitar aku, bukan tebar pesona, tapi memang
karena kami berada dibawah satu naungan, membuat kami sering berjumpa. Aku
nggak pernah bicara dengan dia, walau aku banyak dengar “bisik-bisik tetangga”
tentang dia, tentang kehidupannya, tentang kecerdasannya, dan tentang-tentang
yang lainnya. Aku sama sekali cuek dengan dia, karena beberapa alasan yang
nggak bisa aku jelaskan. Bahkan, disaat salah satu sahabat ku udah “heboh”
dengan dia, aku masih biasa-biasa aja. Aku sama sekali nggak “melirik” dia,
padahal dulu pernah kami sama-sama ikut kegiatan di luar kota gitu, kami sering
berpapasan, tapi aku tetap nggak “seheboh” salah satu sahabat ku itu. Alasan
ketidak hebohan ku adalah....*suatu alasan yang nggak bisa aku tuliskan.
Hahhaha....
Lalu
datang lah hari itu... hari dimana rasa aneh itu muncul. Kami kembali berada di
dalam satu forum formal di kampus. Dan entah akunya yang keganjenan atau apa,
nggak pake intro nggak pake pembuka, tiba-tiba aja jantung ku nge-break dance
saat aku menatapnya *maaf ya, kalau bahasanya rada alay. Dan aku terpesona.
Sepanjang sejarah aku hidup, aku itu jarang terpesona dengan orang, terlebih
dengan perasaan yang luar biasa meluap-luap kayak sungai ciliwung yang meluap
dikala musim hujan datang. I know... mungkin
ada puluhan cowok di kampus ku yang “lebih” darinya, tapi semua itu memang
relatif, kecakepan seseorang bukanlah harga mati untuk suatu rasa yang harus
dituju untuk siapa. Tapi segala esensi dan eksistensinya itulah yang penting,
bukan hanya sekedar menyandang nama dengan deretan embel-embel, tapi memang
sesuatu yang “luar biasa” yang ku temui ada di dalam dirinya. Saat melihat dia
ada di hadapan ku saat itu, aku sama sekali tidak mengedepankan “rasa aneh”
yang tak aku pahami itu, karena aku melihatnya saat itu adalah sebagai orang
luar biasa mempesona dengan cita dan mimpi yang ternyata sama dengan ku, lebih
tepatnya mimpi dan cita ku, sedangkan dia telah merealisasikan mimpi dan
cita-citanya itu yang ternyata sama dengan ku itu. Ngerti kan maksudnya?
Aku
menentang segala pikiran aneh ku yang muncul menggelayut di kepala, dan entah
ini sial atau apa, kami lagi-lagi harus terlibat dalam suatu urusan kampus.
Nggak main-main, urusan kampus ini memakan waktu tiga hari berturut-turut, Oh
MG!!! Nggak bisa aku ungkapkan dengan kata-kata, gimana perasaan ku selama tiga
hari itu. Antara seuneng kesemsem, senyam senyum sendiri kayak orang gila dan
antara pikiran yang menentang keras sebab satu alasan. Dan lagi-lagi, aku nggak
bisa bilang alasan apa itu.
Ternyata
aku terkalahkan oleh rasa yang menggeser akal sehat ku keambang batas kegilaan.
Aku terjebak dalam urusan hati, yang sayangnya harus aku tanggung sendiri.
Seperti efek domino, seperti itulah yang terjadi selanjutnya, usai dari acara
tiga hari itu, ada saja hal berturut-turut yang membuat ku harus terlibat dan
berhadapan dengannya. Di saat ku mulai berusaha membuang semua urusan hati yang
perlahan mulai membuat ku galau, adaaaaaaaa ajaaaaaaaaaaaaaaaa sesuatu yang
membuat ku harus muncul dan berurusan dengannya. Mulai dari urusan kampus aku
ketemu dengan dia, sampai ke luar kampus. Sering kali aku ketemu dia, atau Cuma
sekedar ngeliat mobil dia yang terparkir di tempat-tempat yang aku kunjungi.
Kalau aja “sesuatu alasan yang gak bisa aku sebutkan itu” nggak ada, udah pasti
aku keGEERan dan menganggap kalau dia sedang “kepo”in aku, atau semesta yang sedang
mendukung antara aku dan dia. Tapi sayangnya, tidak pemirsa sekalian. Non. Non.
Non!!
Tercampaklah
aku dalam lautan kegalauan. Ok, sekali lagi aku bilang, aku udah terbiasa dalam
urusan galau masalah hati. Malah pernah tanpa sengaja aku lewat di salah satu
gedung di kota ku yang sering di sewa untuk acara resepsi, dan tiba-tiba aja
mata ku melihat ke nama yang bertengger manis di papan bunga di depan gedung
itu, nama “gebetan” ku yang bersisian dengan nama orang yang gak aku kenal,
dengan tulisan SELAMAT BAHAGIA segede gaban. Jujur, disaat itu aku galau. Tapi
kadar kegalauannya itu nggak separah galau dengan si mr. XX ini. Entahlah,
pesonanya begitu luar biasa.
Galau
is.... sesuatu rasa yang nyaris membuat gila kalau nggak bisa dikelola secara
dewasa. Galau terjadi karena otak nggak sanggup menjangkau suatu pikiran
khayalan tingkat tinggi yang tak menentu dan berubah-ubah. Sesuatu yang lain
dipikirkan dan lain kenyataan. Galau
terjadi karena hati yang terlampau banyak memupuk perasaan-persaan baik yang bisa
jadi aja semua itu dusta. Dan itulah yang terjadi dengan ku saat ini. Galau
berkepanjangan. Bisa jadi aja, cover seseorang itu bisa ketawa-ketiwi kayak
pemain lenong, tapi hatinya yang galau, siapa yang tahu?
Namun,
segalau-galaunnya rasa itu, pasti bisa di kelola secara bijak. Maksud ku, kita
yang lagi galau dengan urusan hati ini nggak mesti harus ‘menikmati’ rasa galau
itu dengan update status atau tweet dengan kata-kata alay yang buat seisi dunia
maya tau apa yang sedang kita rasakan, atau bengong sendiri di bawah pohon
kamboja, murung dan lain sebagainya.
Banyak
hal positif yang bisa kita ambil dari rasa galau itu, guys! Contohnya aja aku nii ya. Aku mungkin emang galau pisan
dengan perasaan ku ke mr. XX itu, sebab apa yang ku harapkan tak sejalan dengan
kenyataan dan itu membuat ku galau. Tapi di balik semua itu, aku bisa mengambil
hikmahnya. Dengan adanya rasa “galau” ku itu, berpuluh-puluh puisi tercipta,
berlembar-lembar diary terisi setiap malam, belasan bakal novel ku yang akan
aku kirimkan ke penerbit tercipta, dengan galau adalah ‘sumber’ inspirasi ku.
Mencintai
dan galau, sepertinya itu emang udah sepaket dan sedang ngetrend saat ini. Untuk kesekian kalinya aku bilang, itu juga terjadi
dengan ku. Mencintai mr. XX dan aku galau. Selain dampak positif dari kegalauan
yang ku sebut di atas itu, ternyata masih banyak daftar ‘efek baik’ dari rasa
galau. Dengan adanya galau, aku berusaha bangkit. Pernah aku cerita kan, mimpi
ku itu sama dengan mr. XX itu, walaupun saat ini ia sudah merealisasikannya. Naaah!!! Itulah yang sedang aku lakukan sekarang, merealisasikan mimpi ku itu.
Tiap kali aku hampir ‘mewek’ gara-gara lost
control kegalauan, sesuatu dari diri ku membisik kan kepada ku, mengatakan
kalau galau itu adalah ‘anugerah’ dari Allah yang harus disyukuri keadaannya.
Mencintai Mr. XX juga memberikan efek baik untuk ku, walaupun itu adalah cinta
sendiri yang harus ku tanggung. Mencintainya menjadikan ku seseorang yang nggak
cengeng dalam meraih mimpi. Seseorang yang mengajarkan ku tentang makna dari
sebuah kalimat, Nggak ada yang nggak
mungkin di dunia ini kalau kita memperjuangkannya dengan sungguh-sungguh.
Bahasa Arabnya, Man Jadda Wa Jadda,
atau kalau bahasa Prancisnya, Tu Peux Si
Tu Veux-ada kemauan ada jalan.
Mencintainya, benar-benar ‘menghidupkan’
mimpi-mimpi ku, membuat aku nabung ekstra keras dan ngejar berbagai beasiswa
untuk biaya kursus bahasa, itu tuh, bahasa dari negara impian ku nanti. Dan
biaya kursus itu nggak tanggung-tanggung Cin, sebanding dengan biaya SPP ku
satu semester. Tapi Alhamdulillah, biaya untuk kursus itu udah terkumpul * udah
aku bilang kan, nggak ada yang nggak mungkin* walaupun sekarang aku masih belum
nemu tempat kursus bahasa itu ada di kota ku ini, dan Mr. XX bersedia mengajariku bahasa itu, karena kebetulan dia juga jago bahasa itu, hahhahahhaha.... tapi aku lebih milih cari lembaga kursus aja deh, biar bisa dapat sertifikatnya yang sama kayak sertifikat TOEFL, lagian aku nggak mau lebih jauh melanggar "alasan yang gak bisa aku sebutkan itu".
Mencintai
seseorang, memang harus memberikan efek yang baik bagi orang yang mencintainya
kan? Dan itulah yang terjadi dengan ku. Meski itu adalah rasa “sebelah pihak”,
nggak masalah. Suwer deh, nggak masalah. Mencintai seseorang itu, harus bisa
menjadi motivasi bagi kita untuk menjadi yang lebih baik lagi. Saat ini,
sugesti itulah yang sedang aku tanam dibenak, memutar haluan, menjadikan mr. XX
itu hanya orang yang memberiku motivasi secara tidak langsung meski itu masih
dalam tahapan USAHA. Dan rasa galau yang ditimbulkan dari perasaan ku kepada
Mr. XX ini benar-benar dahsyat. Galau yang bermanfaat.
Bukankah,
novel-novel best seller, puisi-puisi
dan lirik lagu yang menyentuh hati itu munculnya dari rasa galau? Yah, rasa
galau itu membuat ‘bakat’ yang tak kita sadari keberadaannya itu, aktif. Bakat
untuk menulis, dan menceritakan sesuatu dengan bahasa yang indah dan menjadi
karya seni yang menabjubkan!
So,
mulai sekarang, bagi kalian yang galau, teruslah bergalau-galau ria, ciptakan
puluhan karya seni itu. Berhenti-lah untuk mewek, nangis, Cuma gara-gara galau.
Udah nggak jamannya lagi lho, menyikapi galau dengan berbagai hal yang nggak
penting seperti itu. Jadikan galau itu sebagai “Anugerah” yang harus kita
nikmati secara benar, bukan “Musibah” yang harus kita ratapi. Karena galau itu
seperti kopi, pahit kalau kalian nggak bisa menikmatinya dengan benar.
Sedangkan cinta itu sama kayak cokelat, manis dan pahit. Namun rasa itulah yang
membuat kalian nggak bisa berhenti untuk menikmati sebatang cokelat.
Galau
is.... COOL!!!!
Apapun
rasa itu, syukuri lah. Nikmatilah sebagai anugerah Allah, karena nggak ada yang
sia-sia di muka bumi ini, rasa galau pun bisa berubah menjadi sumber inspirasi
penuh seni, kalau kalian pintar-pintar menyikapinya. Try it...
Banda
Aceh, 29 November 2013.
*Ketika
penulisnya sedang galau, dan menumpahkannya dalam bentuk tulisan :D





