Senin, 22 Juli 2013

Kamu, Teman ku :)


Apa arti kata ‘pertemanan’ bagi kalian?
Mungkin itulah kata yang sekarang menggelayut dipikiran ku saat ini. setelah sekian lama gak ngepost tulisan lagi, kali ini aku mau nulis lagi tentang sesuatu, dan semua ini terinspirasi dari salah satu teman ku. Aku menulis tulisan ini juga tentang dia, karena ya itu tadi, dia telah menginspirasi pikiran ku ini tentang banyak hal, apa itu??
Yuuuuk kita lihat, chek it out!!
Sebut saja namanya, Edward (karena aku penggemarnya Twilight Saga), dan aku juga gak mungkin bilang ‘sebut saja dia mawar’ karena dia itu cowok. Yah! Orang yang mau aku ceritain itu adalah seorang makhluk Tuhan dari kaum Adam. Ok, kita mulai...
Edward ini temen sekampus ku. Dulunya waktu semester satu, aku maleeeeeeeeeeeess banget liat dia, apa lagi ngobrol. Ogah nian deh pokoknya. Dia anaknya juga sering banget ngeledekin teman-teman yang lain, dan termasuk aku. Tapi anehnya, dia itu berani ngeledekin waktu dia lagi kumpul dengan in the genknya aja, tapi kalau dia lagi sendiri atau ketemu dengan aku di luar kampus, dia pasti senyum dengan aku. Malah dulu pernah kami seangkot, dan dia nyapa aku (sekilas tentang masa lalu kami :D ).
waktu berlalu, waktu itu seingat aku akhir semester satu dan lagi musim-musimnya final. Kayak biasanya Edward dengan genknya nongkrong di tempat tongkrongan(dulu aku gak tau kalau ternyata saat itu dia lagi belajar), lewatlah aku di depan dia, spontan genknya yang punya mulut kayak panci-panci itu ngeledekin aku dan beberapa teman ku. Aku sih, stay cool aja, secara aku ini kan emank cool  dan gak penting banget ngeladenin kaum-kaum kayak mereka itu. Lalu tiba-tiba aku deger dia buka suara, “Aku gak mau ngeledekin orang dulu deh. Ntar ilmu yang ada di kepala ku hilang”. Hhahahahhaha..... di situ aku merasa kalau dia itu sedikit agak lebih baik dari teman-temannya yang bermulut panci itu.
ok, lanjooooott!!!
Perjalanan kali ini berlanjut kesemester tiga.sifat suka ngeledek dia itu masih melekat dengan pasti, entah gimana awalnya tiba-tiba aja dia nyebut nama aku, bukan Rizka, tapi salah satu nama artis cewek yang sekarang lagi booming. Mulai dari saat itu, aku udah jarang dengar nama aku disebut ‘Rizka’ tapi berganti dengan nama si artis itu. subhanallah, itu kawan kebangetan banget deh.
lalu lagi-lagi musim  Final, dan kalau gak salah lagi lagi final MK Statistika (Kenapa aku selalu ngeliat dia itu pas Ujian, ya?), wadooh statistika euy, sepanjang aku mulai bisa mengeja, aku paling males dengan pelajaran hitung-hitungan ==” termasuk dengan pelajaran statistika itu. agak sedikit buka rahasia, kami pun bergotong-royong saling membantu teman-teman menyelesaikan ujian itu, hahhahha malu sendiri kalau ingat itu. disitu, si Edward ini kembali menunjukkan sisi ‘sedikit agak lebih baik’ dari teman-temannya yang bermulut panci. Dia yang alhamdulillah di karuniakan otak yang lumayan encer, ngebantuin teman-temannya menyelesaikan soal persoal statistika itu. Dia lebih mendahului menjawab soal untuk teman-temannya, ketimbang menjawab soal di lembar jawabannya sendiri. waktu itu ada satu kalimat yang muncul di benak ku. “Itu anak baiknya kok menjurus ke bego ya?”.
Semester demi semester pun berlalu. Gak ada yang terlalu special dari dia karena mungkin aku emang gak terlalu peduli dengan dia. Tapi, aku mulai memperhatikan dia di semester enam, saat aku tau gimana dia sebenarnya.
Di semester enam ini, kami ngambil mata kuliah pilihan yang sama. Dan mata kuliah itu ngewajibkan praktek ke lapangan gitu, Field trip kalau bahasa sekarangnya. Disini ternyata oh ternyata, aku mulai melihat ada sisi yang beda dari dia. sepanjang praktek itu yang makan waktu tiga hari dua malam, aku mulai menganggap dia beda. Mungkin kami emang jarang banget ngomong dengan dia, terlebih akhir-akhir ini ada gosip yang beredar antara kami yang buat kami semakin ‘malas’ saling ngomong. Oya, disini juga dia udah beda banget dari semester awal aku kenal dia, dia udah gak pernah ngeledekin aku lagi. mungkin, aku gak bisa cerita gimana detailnya kejadian yang terjadi sewaktu kami field trip itu karena kau gak mau dia ke GR an waktu membaca tulisan ini dan kami semakin gak pernah saling nyapa lagi :D , namun yang pasti di sinilah aku tau kalau dia itu ternyata baaaaaaiiiiiiiiiik banget, emang terkesan cuek dan ngak peduli dengan orang, tapi Subhanallah. Aku Terpukau dibuatnya J
Masih di semester enam, semester yang kami sebut semester ‘jalan-jalan’ karena selang satu bulan setelah kami field trip tiga hari dua malam itu, kami kembali melanjutkan perjalanan field trip. Kali ini tujuan kami adalah pabrik-pabrik yang ada di luar provinsi di tempat kami tinggal. Oya, sekedar info, sejak field trip pertama itu, Edward udah dekat dengan sakah satu sahabat aku, sebut aja namanya Mawar :D. tiap hari Mawar dengan Edward ini smsan, mulai dari bahasan seputaran kampus, sampe seputaran hal-hal yang gak penting banget mereka bahas. Aku melihat mereka ini klop banget, hampir enam semester gak dekat, tiba-tiba aja Cuma gara-gara sekelompok pas field trip mereka udah kayak kakak-adik (kemungkinan karena si Mawar ini anaknya rada-rada sarap dikit, dan belakangan ini aku tau si Edward gak kalah sarapnya dengan Mawar).
Kita lanjut lagi ke masa field trip ke-2. Disini aku jarang lihat Edward, karena sesuatu dan lain hal yang membuat dia jarang berada di rombongan kami. Di sini, aku masih ‘Terpukau’ dengan teman ku yang satu ini (aku udah menganggapnya teman sejak kepulangan dari Field trip pertama). Dan rasa ‘perteman’ ku itu kembali bertambah saat dia smsan dengan Mawar, ngajak kami nonton. Katanya agenda field trip kali ini terlalu monoton. OH MG!!! Emank dia bukan ngajak aku secara langsung, tapi aku senang kalau dia bersedia aku ikut dengan Mawar. Nyampe di bioskop, kami gagal nonton, kecewa berat cuy, gara-gara film yang mau kami nonton selesainya kemalaman sedangkan kami harus balik ke penginapan jam 10 malam. Jadi kami mutar arah, gak jadi nonton tapi makan es krim aja deh, oya kami perginya juga gak bertiga, tapi berlima, tiga cowok dan dua cewek-aku dan mawar-.
Saat makan es krim, dia duduk di depan ku. Tetap mau duduk di belakang, di depan, disamping dan di-di yang lainnya, kami tetap gak pernah bicara. Dia lebih banyak bicara dengan Mawar, karena hal yang aku sebut diatas tadi, mereka sama-sama Sarap. Hahahaha. Singkat cerita kami menghabiskan es krim itu dengan suka cita #alay nian bahasanya ==” tapi itulah yang aku rasa. Aku senang! Dan aku gak tau apa arti rasa senang aku itu.
Field trip berakhir dan lagi FINAL datang. Edward dan Mawar semakin kayak kakak-adik, sama-sama sarap, sama-sama gila. pokoknya kalau di dekat mereka, siap-siap deh ketawa gak berhenti. Aku agak lupa itu final mata kuliah apa, yang pasti aku ingat sebelum ujian aku, Mawar, Edward dan sahabat-sahabat kami , kami belajar bareng. Kejadian langka sepanjang semester satu sampe enam. Di saat kami sibuk komat-kamit belajar, aku ngeliat si Edward santai, sibuk dengan laptopnya.
“Kamu gak belajar?” tanya si Mawar dengan gaya khasnya.
Si Edward menggeleng, “Udah tadi pas subuh”.
Aku bengong, “WHATS?? DIA BELAJAR?! Aku aja jarang belajar di waktu subuh, lah dia??”. tapi aku Cuma bisa diam aja, gak mungkin dunk aku mengungkapkan kalimat yang ada dikepala aku itu.
Ujian pun berlangsung, dan si Edward bener-bener membuktikan kata-katanya. Kebetulan dia duduk di samping aku #hasil modus yang aku lakukan sehingga aku bisa duduk disebelah dia :D # dia menjawab soal ujian dengan lancaaaaaaaaaaaaaaaaarrr banget. Dan jadilah si Edward itu objek lirikan ku. Aku penasaran dengan bagaimana dia saat menjawab soal, jadi setelah menyelesaikan soal-soal di kertas ujian ku, kau beralih memperhatikan dia #tentu tanpa sepengetahuan dia# aku melihat dia, benar-benar tekun ngejawab soal, bahkan ampe keringatan dan kadang dia berhenti, berpikir dengan jidat yang berlipat, terus nulis lagi. subhanallah, aku harus mengakui satu hal ini, aku terharu ngeliat dia gitu. Ya, aku bener-bener meneteskan air mata terharu sewaktu melihat dia menjawab soal itu, alay memang, tapi itulah yang terjadi. Sudut pandang ku tentang dia berubah ketika itu juga.
Lalu, aku pun mencoba flashback tentang apa-apa aja yang udah terjadi sejak awal semester hingga semester enam ini. dan aku harus mengucap SUBHANALLAH lagi, saat aku sadar ternyata tiap hari dia berubah menjadi manusia yang baik hari demi harinya, dia berubah menjadi teman yang penuh perhatian, yang sayangnya selama ini luput dari perhatian ku.
Kayak film yang diputar ulang, bayangan-bayangan kebaikan yang udah dia lakukan ke aku terulang di ingatan ku silih berganti. Saat dia, ternyata sering banget memberikan aku kursi tempat duduknya, saat aku berdiri dan udah pegel. Dia rela berdiri, walaupun dia gak kasih kursi itu secara gamblang ke aku, tapi aku tau itu bentuk keperhatian dia ke aku #heeey, ini bukan GR ku aja ya. Semua orang ternyata mengatakan hal yang sama dengan pikiran ku ini# dia juga panik sewaktu aku belum menyelesaikan tugas kelompok, bahkan dia membantu menyelesaikannya. Dia juga pernah menyemangati ku untuk semangat membuat proposal PKL, membukakan kaca mobil saat aku bilang aku mual, dan dia dengan cueknya buka kaca jendela mobil sambil bilang gini dengan temanku yang juga ada di mobil ini, ‘ Buka aja ya kacanya, biar gak mual’. Serta masih banyak lagi bentuk keperhatianan dia untuk aku. Sekali lagi aku bilang ini bukan GR ku!!
Ternyata, selama ini dia menganggap ku sebagai temannya walau diawal pertemuan kami, kami agak kurang ramah dan saling menyapa. Ternyata walau pun kami jarang berbicara, jarang menyapa, dan katanya ke Mawar dia gak bicara dengan ku karena dia takut dengan ku, di luar semua itu aku tau, dia adalah teman yang baik. Seorang teman yang memiliki rasa ‘sayang’ besar kepada temannya dibalik kecuekannya. Rasa sayang yang besar yang dia tunjukkan kepada semua temannya. Seorang teman yang bersikap begitu sederhana namun memiliki sesuatu yang begitu sempurna. Memiliki kebaikan hati, yang ternyata selama ini luput dari perhatianku. Teman yang memiliki tingkah ‘gila’ dan selalu berhasil mengubah suasana hati menjadi lebih baik lagi.
Ternyata selama ini aku terlalu di’buta’kan oleh hal-hal sempurna yang membuat aku gak bisa melihat kebaikannya. Sekarang aku tau, makna dari kalimat yang sering orang-orang bilang. Kalimat ‘tak kenal maka tak sayang’. Kata-kata itu bener banget, dulu aku mungkin gak terlalu mengenal si Edward itu, hingga aku gak tau gimana sebenarnya dia, gimana sederhananya hidup dia. selama ini aku terlalu menganggap dia anak badung yang memiliki teman-teman bermulut panci. Semua itu luntur, karena kau berhasil melihat dia dari sisi yang lain. ‘Don't judge the book by its cover’ kayaknya kata-kata itu juga cocok untuk ku.
Sekarang aku dan si Edward itu masih gak saling bicara, tapi alhamdulillahnya kami berkumpul bersama teman-teman yang sama, sama gilanya. Aku bahagia bisa mengenal dia sebagai salah satu teman ku yang luar biasa, teman yang menginspirasiku dalam berbagai hal, teman yang berhasil membuat ku ‘TERPUKAU’. Teman yang luuuuaaar biasa!! :)
Inilah cerita ku tentang seorang teman ku, teman yang ku anggap begitu special karena dia telah menyentuh hidup ku dengan caranya yang unik :) :)

Minggu, 31 Maret 2013

Tentang Seseorang




Ini bukannya judul lagu dari OST film terkenal AADC yang dulu pernah booming banget di negeri ini. pemilihan judul ini didasari karena aku mau menceritakan seseorang, seseorang yang membuat saya berkesan *aseeekkk!!! :D
Ok lah, gak usah banyak ngawur ngidul lagi, aku langsung aja ya...

Jreeeeng jreeeeeeeeeeeeeeeng jreeeeeeeeeeeeeeeeeeng!!!!

Seseorang ini kita namai aja Mr. X *karena aku gak mungkin dan nggak mau mengexpose nama asli dia disini. Ok, lanjut. Mr. X ini kuliah di kampus yang sama dengan ku, kampus tercinta, kampus Pertanian. Sebenarnya aku gak kenal-kenal kali dengan dia, secara bagi ku dia gak ada menarik-menariknya, yaaah.... tipikal kebanyakan cowok di kampus ku, gak ada sesuatu yang menonjol dari dia sehingga aku memang gak terlalu peduli dengan dia. Anggapan ku dulu, dia itu sama aja kayak cowok yang lain, nothing special, ke kampus pakai sepatu dan kemeja, entah pula kalau dia itu pakai rok kembang atau pakai sarung, pasti bakal aku perhatikan ==”

Sebenarnya lagi ni, aku udah familiar  dengan dia sejak semester dua *dan sekarang aku semester enam. Tapi kayak yang tadi aku bilang, aku sama sekali gak peduli dengan dia, gak penting bagi ku tau lebih lanjut tentang dia, bukan teman sejurusan pun, jadi untuk apa? Malah dulu, kami sering seangkot, duduk depan-depanan atau samping-sampingan, tapi teteeeepp “siapa loe-siapa guee???”

Dan sampai akhir semester lima, aku masih tetap cuek dengan manusia yang satu itu. Nah, di akhir semester lima, aku dan ketiga teman dekat ku di kampus memulai bisnis kecil-kecilan yang Insya Allah akan membawa kami kejalan penuh berkah dan Insya Allah bisa naik Haji *amiiiiiinn* kami memulai bisnis berjualan burger. T’s burger, burger terasoy yang ada di Unsyiah, beli burger ditempat kami, bakal dapet bonus senyuman manis dari kami berempat, jadi tunggu apa lagi, segera hubungi kami dan membeli burger kami, sebelum kehabisan *sekalian promosi :D hhahaha. Kembali ke topik, dan karena kami berbisnis inilah, kami khususnya aku yang jarang nongkrong lama-lama di kantin karena isi dompet lebih sering kosong daripada berisi, jadi sering stay di kantin. Bisa di bilang, kami punya 4 SKS di kantin untuk berjulan itu, pelanggan kami juga rame, dari Sabang sampai Marauke. Pernah waktu itu ada anak dari Papua yang kuliah di fakultas sebelah yang beli, salah satu sahabatku sampai kebingungan karena nggak ngerti dia bilang apa, karena logat bahasanya yang jarang di degar oleh sahabat ku. Hahaha *intermezo lagi*

Lanjut ke mr. X. Di akhir semester lima, wajah dia mulai sering lagi berkeliaran di depan ku setelah hampir beberapa lama gak pernah muncul *mungkin ada, tapi aku yang kelewat gak peduli dengan dia. Di saat itu pun, aku masih cuek angsa dengan dia, dia hanya segelintir manusia yang sering membeli burger kami. Akhir semester lima pun berakhir seperti itu, datar-datar aja dengan dia itu. 

Awal semester enam, aku tau namanya, aku sempat berpikir ternyata masih ada nama anak jaman modern kayak nama dia itu, hhehe. Aku juga tau, sedikit banyak tentang dia dari temannya yang nyerocos tanpa rem di dekat ku, sebagai manusia dengan pendegaran yang alhamdulillah masih bagus, otomatis semua informasi yang di ‘kicau’kan oleh temannya itu tertangkap dengan pendegaran ku, tersimpan di memori otak ku ini. Namun disitu, aku masih tetap gak peduli, walaupun semua informasi itu terserap tapi aku Cuma menganggapya sebagai informasi bagi produsen tentang konsumennya aja. Lagian juga, mr X ini tipikal cowok yang agak hmmmm... apa ya yang cocoknya di bilang, hmm... Misterius! Ya, misterius, anaknya pendiam dan... sudahlah, aku gak mau terlalu mendeskripsikan sifat dia, siapa tau aja dia baca tulisan ku ini, dan pasti dia bakal kegeeran banget, pokoknya dia itu misterius lah.

Semisterius apapun si mr. X itu, aku tetap gak merasa ada yang special dari dia, bahkan saat kawan-kawan aku heboh memuji-muji dia karena segudang kelebihan dia *anggap saja seperti itu* aku masih tetap cuek, baik itu untuk ku jadikan sebagai pelanggan yang special atau pun seseorang yang special di hati, karena di saat itu hati ku sedang diisi oleh nama seseorang *eheeem.

Agak sedikit curcol, tapi aku akan cerita sedikit tentang orang yang mengisi hati ku sehingga aku masih cuek dengan si mr. X. Hmmm... orang itu kita sebut aja, mr. B. Seseorang yang... wow!! Luar biasa, beneran, srius lho, bukan karena aku pernah suka dengan dia lantas aku muji dia, tapi itu memang begitu adanya. Sesorang yang punya setumpuk kesuksesan dan kelebihan, namun punya satu ketidak beruntungan, perlu aku sebut apa itu? Hmm... kayaknya gak perlu. Jadi saat itu aku suka dengan si mr. B itu, bisa di bilang aku berharap dia itu bisa tau siapa aku *kasihaaan* tapi, akhirnya aku sadar akan sesuatu, ada hal-hal yang ada kalanya di muka bumi ini nggak bisa terwujud, walaupun kita sudah berusaha sekuat apapun dan berdoa siang malam, namun kita tetap gak bisa memaksakan waktu untuk mau berjalan seiring dengan keinginan kita. Jujur, aku mencintai dia *sihiy* dan karena rasa itulah aku melepaskan dia, ada sesuatu pembeda diantara kami yang gak bisa aku lipat, dan aku juga sadar, waktu kami juga begitu sempit, bila aku terus berharap akan waktu untuk mempertemukan kami pada satu jalur, maka itu akan memperpanjang daftar ketidakberuntungannya. Dan melepaskan, adalah hal yang terbaik yang ku lakukan.

Terlepas dari mr. B, aku gak langsung memasukkan mr. X kedalam daftar target. Pada masa-masa transisi ini, aku sempat terpesona dengan salah satu teman cowok ku yang dulu pas di semester 2 pernah aku taksir, CLBK lah istilah anak mudanya. Namanya mr. Moody karena mood-nya bisa berubah-ubah bahkan lebih sering dari bunglon yang merubah warnanya karena pindah lokasi nongkrong. Aku masih mengkatagorikan rasa ku ini sebagai rasa suka aja ke mr. Moody  ini. Dan di saat rasa suka ku ini terhadap mr. Moody inilah, tiba-tiba aja mr. X untuk pertama kalinya dalam sejarah kami kuliah sekampus, negur aku. Di tegur dengan sosok manusia yang misterius??? Wow!!! Aku tetap masih biasa aja =,=”

Dan kalian tau, mr. X menegur bukan dengan nama ku, tapi dia pakai istilah dia sendiri, aku juga gak pernah dengar dia nyebut nama asli ku “RIZKA TRY GUSTINA”. Gak pernah sama sekali, but bagi ku gak masalah lah, toh dia bukan siapa-siapa yang pantas aku naikkan ke meja sidang karena nggak memanggil ku dengan nama yang seharusnya, selama nama itu masih enak terdegar di telinga, no problem!

Lama kelamaan, panggilan dia itu jadi familiar bagi ku, dan kami juga jadi sering saling tegur-teguran. Ntar kalau ketemu, dari radius 7 meter dia udah panggil aku dan tanya aku masuk kuliah apa, padahal aku bilang pun aku masuk kuliah apa, dia pasti gak bakal tau kuliah apa itu karena kami gak sejurusan. Hahhaha. Bahkan pernah, waktu itu udah sore, sekitaran jam empat atau setengah limaan sore gitu, aku dan kawan-kawan baru keluar kuliah, dan kami belum sempat makan siang. Jadi dengan ligat, kami makan kayak lagi dalam perang, buru-buru. Hahha.. dan karena Rizka ini makannya lelet, jadi waktu semua kawan-kawan udah selesai makan, nasi di piring ku masih banyak. Aku tau, kalau dari tadi si Mr. X duduk dengan kawan-kawannya gak jauh dari tempat kami duduk, tapi aku cuek aja, lapar mengalahkan semuanya. Terus, di saat aku udah ditinggalin sendiri makan dengan kawan-kawan karena mereka mau cuci tangan dan shalat asar, ehh... si mr. X bilang gini : “Ya ampun $&@*# (panggilan dia ke aku) kok telat kali makannya, nanti bakal asam lambung lho kalau makan telat-telat”.

Jreeeeeng-jreeeeng jreeeeeng!!!
Aku bengong, karena baru kali itu ketemu dengan orang yang sok perhatian gitu, padahal baru juga kenal. Dan karena aku emang recok, jadi aku tanggapi dengan candaan “Waduh mr. X. Perhatian sekali dengan aku” sambil nyengir :D

Terus selang beberapa hari setelah itu, tepatnya hari rabu sore, aku dan salah satu temen ku, duduk bareng dia. cerita seputaran kampus#apa lagi yang bisa kami bahas selain itu? Gak mungkin juga kan aku tanya, kok bisa dia tiba-tiba SKSD dengan ku?? ==”

Disitu dia ada bercerita tentang daerah asalnya dan cerita-cerita lainnya, dan entah kenapa waktu itu aku grogi  waktu bicara dengan dia. Pas lagi ashik-ashiknya kami bicara *dimana aku lebih banyak senyum dan sok kalemnya* tiba-tiba aja, seekor lebah atau apaun namanya itu terbang di dekat aku, spontan aku langsung bangun dari duduk dan kabur cari tempat aman. Jujur, aku phobia dengan makhluk sejenis tawon, lebah, atau apapun lah namanya itu, karena aku udah empat kali disengat oleh hewan itu dan aku nggak mau terjadi untuk kelima kalinya. Tak ku pedulikan lagi tingkah sok kalem ku yang tadi ku pamerkan, bagi ku, tawon lebih mengusik hati ketimbang bicara dengan dia. mr. X tertawa ngeliat reaksi ku, dan dengan santai dia bilang “Itu bukan tawon atau lebah, itu adalah sejenis kumbang yang gak bakal menyengat”.

Aku masih gak percaya, “Haduuh, apapun namanya aku gak mau duduk disitu lagi kalau masih ada hewan itu”.
“serius lho, hewan itu sejenis kumbang yang gak menyengat”. Tegasnya lagi, “kalau gak percaya, buktiin aja”.
Dengan ragu-ragu aku duduk lagi di tempat tadi, daaan... memang agak memalukan, binatang itu emang gak selera dikit pun untuk menyengat. Hhahaha
Di mulai dari situlah, perlahan-lahan aku mulai merasa tertarik dengan si mr. X itu. Konyol memang, kalau Cuma gara-gara kumbang, tapi kalian tau? Ada sesuatu yang gak bisa aku sebutkan yang membuat aku senang, dari dialah sekarang aku bisa bedain yang mana kumbang, yang mana lebah penyengat. Bahkan sekarang, kalau aku melihat kumbang itu terbang di sekitaran kantin, aku jadi teringat dengan dia dan kata-kata dia yang buat aku senyum-senyum sendiri *eheem.

Lanjut lagi, kali ini aku lupa hari apa. Kayak biasa aku ketemu dengan dia, dan kayak biasa juga dia selalu nanyain kabar ku. Sebagai manusia yang baik, aku juga balik nanya tentang keadaan dia, dia ngejawab “Ada sesuatu yang sedang mengganggu pikiran ku”.
Dengan PD dan gilanya aku jawab, “Apa? Apa mungkin itu aku? Aku itu gak usah di pikirin kali lho”.
Dia Cuma diam aja. Hhahaha, memalukan.
Selang beberapa menit setelah itu, disaat aku sedang sibuk-sibuk berjualan, dia memuji ku dengan sebuah kalimat yang gak mau aku sebut, tapi yang anehnya tampang dia datar-datar aja pas bilang kalimat itu. Malah, kawan ku yang juga ada di TKP bilang gini “jangan-jangan si Mr. X Itu suka dengan kamu lagi, kalau gak mana mungkin dia bilang kata-kata tadi, dan coba aja perhatiin, dia Cuma mau ngobrol  dengan kamu dengan kami gak”. Sambil bisik-bisik.

Sebenarnya, aku mau membenarkan kalimat dari sahabat ku itu, tapi gak mungkin, ntar aku di kira ke Gr-an sekalee, karena bagi ku memang betul apa yang dia bilang, aku merasa mr. X itu memang agak beda kalau berbicara dengan ku dan dengan tiga sahabat ku yang lain. Jujur, aku senang dengan itu, terlebih dengan pujiannya tadi, tapi aku berusaha gak mau ambil pusing karena di saat itu aku sadar ada nama mr. Moody di sini, di hati.

Lompat kehari-hari berikutnya, tepatnya di hari dimana Banda Aceh diselubungi oleh awan kelabu yang menggantung rendah, mr X muncul sesaat setelah aku dan kawan-kawan membicarakannya. Dan tau sesuatu? Awalnya sih aku Cuma bercanda dengan dia, dan tiba-tiba dia menunjuk kearah ku sambil menantang ku untuk melakukan sesuatu, bahkan dia menyertakan kalimat yang membuat jantung ku berhenti karena rasa yang entah itu kelewat senang atau kelewat gak nyangka, dia bakal mengatakan kata-kata itu dan menantang ku. Sebuah tantangan yang mungkin agak sulit untuk ku wujudkan, namun kalau aku berhasil menang dari tantangan ini, aku akan mendapatkan sesuatu yang dia katakan itu *maaf kalau penggunaan bahasanya agak ribet.
Aku gak mungkin bilang apa tantangannya itu dan kalimat dia yang buat aku berusaha menerjemahkan maksudnya itu, tetapi kalian tau? Kata-kata dari kalimatnya itu melekat kuat di ingatan ku, bahkan aku menulisnya di catatan pribadi.

Sejak saat itu, sadar atau tidak, mau atau tidak, aku merasakan ada yang aneh yang terjadi di rongga dada saat aku ketemu dengan dia, bahkan aku berani melupakan mr. Moody. Aku ingat kata salah satu sahabat ku, “Untuk apa kita suka dengan orang tetapi kita deg-degan dengan orang lain”. Betul juga siih, aku memang suka dengan mr. Moody, tapi aku sama sekali tak merasakan apa-apa dengan dia. bahkan salah satu sahabat ku lagi pernah bilang “Apa mungkin kamu dengan mr. Moody itu Cuma kagum aja?”. Entahlah, aku gak tahu tapi yang aku tau  sekarang, mr. X mulai mencuri jeda.
Dan kalian tau apa? Sejak aku merasakan rasa aneh itu, mr. X berubah.dia gak pernah negur-negur ku lagi bahkan kayak gak mengenalku. Kata sahabat-sahabat ku, mungkin itu Cuma perasaan ku saja. Tapi... entahlah. Kata salah satu sahabat ku lagi, wujudkan lah tantangannya itu, dan kita lihat saja apakah nanti dia akan membuktikan kata-katanya itu? Sahabat ku itu juga bilang, “ Ya, diam-diam aja dulu. coba pantaskan diri aja. Mungkin dia mau kamu memantaskan diri untuknya(kalau dia memang serius dengan ucapannya”.
Aku gak tau, apa yang sedang melanda isi kepala mr. X. Sehingga dia gak negur aku lagi, tapi aku positif thinking aja, siapa tau sedang ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Dan mengenai rasa yang ada di hati ku, kalau pun itu benar rasa yang mereka sebut-sebut ini cinta, berarti ini anugerah kan? Dan sebuah anugerah gak boleh di tolak. Karena cinta itu gak pernah salah, yang salah adalah bagaimana kita memanage-nya saja. Dan saya suka kata-kata dari sahabat saya, “Cintailah dia secara dewasa, dalam diam, dan biarkan Allah yang mementukan”. Yes!! Aku, dia, dan kita hanya pemeran dalam skenario yang telah di ciptakan oleh Sang Maha Cinta, tak ada yang dapat kita ubah.
Dan inilah cerita aku tentang seseorang. Seseorang yang memanggilku dengan sebutan yang jarang ku degar. Seseorang yang memberitahukan ku mana Lebah penyengat, mana yang hanya Kumbang biasa. Seseorang yang memotivasi ku untuk mewujudkan tantangannya, karena jauh sebelum dia menantang ku, hal itu merupakan cita ku yang mungkin masih tertunda. Seseorang yang menunjuk kearah ku dengan tantangan dan kata-kata yang membuat ku berkesan. Seseorang yang kini mulai tak menyapa ku lagi, itulah dia seseorang yang ku panggil mr. X. Semoga kan ada jawaban yang terbaik untuk dia dan aku.

Banda Aceh, 30 Maret 2013

#Catatan yang diam-diam ku tujukan untuk mu :)

Minggu, 28 Oktober 2012

Aku menyebut mu, Senja







            Aku menyebutmu, Senja...
Karna ku temukan mu, saat fajar tengah kehilangan surya tuk menerangi dunia...
Pada sebuah pertemuan lama, yang dulu ku kira tak kan menjadi apa-apa...
Berhadapan dengan mu, menjadikan aku manusia gagu. Membuat debaran-debaran itu, yang tlah lama tak ingin ku rasa lagi. Otak ku seolah beku, menggeser akal sehat dan malu ku.
Diam mu, membuat pikiranku terbelenggu, mencari makna apa yang berusaha kau sampaikan lewat tatapan itu. Nyatanya tak ada satu kitab pun, yang menjelaskan tentang isi hatimu. Dan terdamparlah aku dalam hamparan gurun penuh tanda tanya.
Aku menyebut mu, Senja...
Karna ku temukan mu, saat fajar tengah kehilangan surya tuk menerangi dunia.
Hening mu, membuat aku gila. Menggeser akal sehat ku pada tingkat kontribusi lemah tak berdaya. Ingin ku jejali tiap jengkal hati mu, namun sayangnya, aku hanya manusia biasa yang tak mempunyai kuasa.
Aku muak bila harus ikut diam seperti mu,
Karna dengan diam tak akan menyisakan makna apa-apa, memasung ku menjadi tak bernyawa. Hanya bisa menjadi manusia ‘lain’ untuk mu..
Dengar aku, wahai Senjaku...
Takdir kah ini?
Saat kau dan aku dipertemukan pada jalan yang sama?
Tlah lama ku berperang dengan waktu, berusaha menggapai nama-nama yang dulu ku sanjung, namun senyatanya nila tetap tertoreh di sukma. Hingga waktu menemukan kita, dan bayang mu terpenjara dalam maya ku. Dan bagai hantu, yang selalu ada dalam ingatan ku.
Aku menemukan mu, saat fajar kehilangan surya tuk menerangi dunia.
Pada sosok mu yang sederhana, pada tatapan mata melankolis senja.
Aku tlah jatuh cinta...
Aku tak meminta mu, tuk menjadikan ku Surya bagi sang fajar.
Tapi cukup jadikan ku, arak-arakan mega oranye yang kan mengiringi senja, membungkus semesta.
Bila memang cinta itu harus diam disini (hatiku), hingga tak ada malu ketika tlah terdengar dari sini (mulut ku).
Maka biarkan aku menunggu mu, menunggu potongan kisah mu menulis nama ku disana, dan menjadikan semuanya nyata.
Ku harap kau mengerti kini, karna semua ini hanya untaian kata-kata sederhana yang diam-diam ku tujukan untuk mu....

                                                            Banda Aceh, 29 Okt. 2012