Minggu, 31 Maret 2013

Tentang Seseorang




Ini bukannya judul lagu dari OST film terkenal AADC yang dulu pernah booming banget di negeri ini. pemilihan judul ini didasari karena aku mau menceritakan seseorang, seseorang yang membuat saya berkesan *aseeekkk!!! :D
Ok lah, gak usah banyak ngawur ngidul lagi, aku langsung aja ya...

Jreeeeng jreeeeeeeeeeeeeeeng jreeeeeeeeeeeeeeeeeeng!!!!

Seseorang ini kita namai aja Mr. X *karena aku gak mungkin dan nggak mau mengexpose nama asli dia disini. Ok, lanjut. Mr. X ini kuliah di kampus yang sama dengan ku, kampus tercinta, kampus Pertanian. Sebenarnya aku gak kenal-kenal kali dengan dia, secara bagi ku dia gak ada menarik-menariknya, yaaah.... tipikal kebanyakan cowok di kampus ku, gak ada sesuatu yang menonjol dari dia sehingga aku memang gak terlalu peduli dengan dia. Anggapan ku dulu, dia itu sama aja kayak cowok yang lain, nothing special, ke kampus pakai sepatu dan kemeja, entah pula kalau dia itu pakai rok kembang atau pakai sarung, pasti bakal aku perhatikan ==”

Sebenarnya lagi ni, aku udah familiar  dengan dia sejak semester dua *dan sekarang aku semester enam. Tapi kayak yang tadi aku bilang, aku sama sekali gak peduli dengan dia, gak penting bagi ku tau lebih lanjut tentang dia, bukan teman sejurusan pun, jadi untuk apa? Malah dulu, kami sering seangkot, duduk depan-depanan atau samping-sampingan, tapi teteeeepp “siapa loe-siapa guee???”

Dan sampai akhir semester lima, aku masih tetap cuek dengan manusia yang satu itu. Nah, di akhir semester lima, aku dan ketiga teman dekat ku di kampus memulai bisnis kecil-kecilan yang Insya Allah akan membawa kami kejalan penuh berkah dan Insya Allah bisa naik Haji *amiiiiiinn* kami memulai bisnis berjualan burger. T’s burger, burger terasoy yang ada di Unsyiah, beli burger ditempat kami, bakal dapet bonus senyuman manis dari kami berempat, jadi tunggu apa lagi, segera hubungi kami dan membeli burger kami, sebelum kehabisan *sekalian promosi :D hhahaha. Kembali ke topik, dan karena kami berbisnis inilah, kami khususnya aku yang jarang nongkrong lama-lama di kantin karena isi dompet lebih sering kosong daripada berisi, jadi sering stay di kantin. Bisa di bilang, kami punya 4 SKS di kantin untuk berjulan itu, pelanggan kami juga rame, dari Sabang sampai Marauke. Pernah waktu itu ada anak dari Papua yang kuliah di fakultas sebelah yang beli, salah satu sahabatku sampai kebingungan karena nggak ngerti dia bilang apa, karena logat bahasanya yang jarang di degar oleh sahabat ku. Hahaha *intermezo lagi*

Lanjut ke mr. X. Di akhir semester lima, wajah dia mulai sering lagi berkeliaran di depan ku setelah hampir beberapa lama gak pernah muncul *mungkin ada, tapi aku yang kelewat gak peduli dengan dia. Di saat itu pun, aku masih cuek angsa dengan dia, dia hanya segelintir manusia yang sering membeli burger kami. Akhir semester lima pun berakhir seperti itu, datar-datar aja dengan dia itu. 

Awal semester enam, aku tau namanya, aku sempat berpikir ternyata masih ada nama anak jaman modern kayak nama dia itu, hhehe. Aku juga tau, sedikit banyak tentang dia dari temannya yang nyerocos tanpa rem di dekat ku, sebagai manusia dengan pendegaran yang alhamdulillah masih bagus, otomatis semua informasi yang di ‘kicau’kan oleh temannya itu tertangkap dengan pendegaran ku, tersimpan di memori otak ku ini. Namun disitu, aku masih tetap gak peduli, walaupun semua informasi itu terserap tapi aku Cuma menganggapya sebagai informasi bagi produsen tentang konsumennya aja. Lagian juga, mr X ini tipikal cowok yang agak hmmmm... apa ya yang cocoknya di bilang, hmm... Misterius! Ya, misterius, anaknya pendiam dan... sudahlah, aku gak mau terlalu mendeskripsikan sifat dia, siapa tau aja dia baca tulisan ku ini, dan pasti dia bakal kegeeran banget, pokoknya dia itu misterius lah.

Semisterius apapun si mr. X itu, aku tetap gak merasa ada yang special dari dia, bahkan saat kawan-kawan aku heboh memuji-muji dia karena segudang kelebihan dia *anggap saja seperti itu* aku masih tetap cuek, baik itu untuk ku jadikan sebagai pelanggan yang special atau pun seseorang yang special di hati, karena di saat itu hati ku sedang diisi oleh nama seseorang *eheeem.

Agak sedikit curcol, tapi aku akan cerita sedikit tentang orang yang mengisi hati ku sehingga aku masih cuek dengan si mr. X. Hmmm... orang itu kita sebut aja, mr. B. Seseorang yang... wow!! Luar biasa, beneran, srius lho, bukan karena aku pernah suka dengan dia lantas aku muji dia, tapi itu memang begitu adanya. Sesorang yang punya setumpuk kesuksesan dan kelebihan, namun punya satu ketidak beruntungan, perlu aku sebut apa itu? Hmm... kayaknya gak perlu. Jadi saat itu aku suka dengan si mr. B itu, bisa di bilang aku berharap dia itu bisa tau siapa aku *kasihaaan* tapi, akhirnya aku sadar akan sesuatu, ada hal-hal yang ada kalanya di muka bumi ini nggak bisa terwujud, walaupun kita sudah berusaha sekuat apapun dan berdoa siang malam, namun kita tetap gak bisa memaksakan waktu untuk mau berjalan seiring dengan keinginan kita. Jujur, aku mencintai dia *sihiy* dan karena rasa itulah aku melepaskan dia, ada sesuatu pembeda diantara kami yang gak bisa aku lipat, dan aku juga sadar, waktu kami juga begitu sempit, bila aku terus berharap akan waktu untuk mempertemukan kami pada satu jalur, maka itu akan memperpanjang daftar ketidakberuntungannya. Dan melepaskan, adalah hal yang terbaik yang ku lakukan.

Terlepas dari mr. B, aku gak langsung memasukkan mr. X kedalam daftar target. Pada masa-masa transisi ini, aku sempat terpesona dengan salah satu teman cowok ku yang dulu pas di semester 2 pernah aku taksir, CLBK lah istilah anak mudanya. Namanya mr. Moody karena mood-nya bisa berubah-ubah bahkan lebih sering dari bunglon yang merubah warnanya karena pindah lokasi nongkrong. Aku masih mengkatagorikan rasa ku ini sebagai rasa suka aja ke mr. Moody  ini. Dan di saat rasa suka ku ini terhadap mr. Moody inilah, tiba-tiba aja mr. X untuk pertama kalinya dalam sejarah kami kuliah sekampus, negur aku. Di tegur dengan sosok manusia yang misterius??? Wow!!! Aku tetap masih biasa aja =,=”

Dan kalian tau, mr. X menegur bukan dengan nama ku, tapi dia pakai istilah dia sendiri, aku juga gak pernah dengar dia nyebut nama asli ku “RIZKA TRY GUSTINA”. Gak pernah sama sekali, but bagi ku gak masalah lah, toh dia bukan siapa-siapa yang pantas aku naikkan ke meja sidang karena nggak memanggil ku dengan nama yang seharusnya, selama nama itu masih enak terdegar di telinga, no problem!

Lama kelamaan, panggilan dia itu jadi familiar bagi ku, dan kami juga jadi sering saling tegur-teguran. Ntar kalau ketemu, dari radius 7 meter dia udah panggil aku dan tanya aku masuk kuliah apa, padahal aku bilang pun aku masuk kuliah apa, dia pasti gak bakal tau kuliah apa itu karena kami gak sejurusan. Hahhaha. Bahkan pernah, waktu itu udah sore, sekitaran jam empat atau setengah limaan sore gitu, aku dan kawan-kawan baru keluar kuliah, dan kami belum sempat makan siang. Jadi dengan ligat, kami makan kayak lagi dalam perang, buru-buru. Hahha.. dan karena Rizka ini makannya lelet, jadi waktu semua kawan-kawan udah selesai makan, nasi di piring ku masih banyak. Aku tau, kalau dari tadi si Mr. X duduk dengan kawan-kawannya gak jauh dari tempat kami duduk, tapi aku cuek aja, lapar mengalahkan semuanya. Terus, di saat aku udah ditinggalin sendiri makan dengan kawan-kawan karena mereka mau cuci tangan dan shalat asar, ehh... si mr. X bilang gini : “Ya ampun $&@*# (panggilan dia ke aku) kok telat kali makannya, nanti bakal asam lambung lho kalau makan telat-telat”.

Jreeeeeng-jreeeeng jreeeeeng!!!
Aku bengong, karena baru kali itu ketemu dengan orang yang sok perhatian gitu, padahal baru juga kenal. Dan karena aku emang recok, jadi aku tanggapi dengan candaan “Waduh mr. X. Perhatian sekali dengan aku” sambil nyengir :D

Terus selang beberapa hari setelah itu, tepatnya hari rabu sore, aku dan salah satu temen ku, duduk bareng dia. cerita seputaran kampus#apa lagi yang bisa kami bahas selain itu? Gak mungkin juga kan aku tanya, kok bisa dia tiba-tiba SKSD dengan ku?? ==”

Disitu dia ada bercerita tentang daerah asalnya dan cerita-cerita lainnya, dan entah kenapa waktu itu aku grogi  waktu bicara dengan dia. Pas lagi ashik-ashiknya kami bicara *dimana aku lebih banyak senyum dan sok kalemnya* tiba-tiba aja, seekor lebah atau apaun namanya itu terbang di dekat aku, spontan aku langsung bangun dari duduk dan kabur cari tempat aman. Jujur, aku phobia dengan makhluk sejenis tawon, lebah, atau apapun lah namanya itu, karena aku udah empat kali disengat oleh hewan itu dan aku nggak mau terjadi untuk kelima kalinya. Tak ku pedulikan lagi tingkah sok kalem ku yang tadi ku pamerkan, bagi ku, tawon lebih mengusik hati ketimbang bicara dengan dia. mr. X tertawa ngeliat reaksi ku, dan dengan santai dia bilang “Itu bukan tawon atau lebah, itu adalah sejenis kumbang yang gak bakal menyengat”.

Aku masih gak percaya, “Haduuh, apapun namanya aku gak mau duduk disitu lagi kalau masih ada hewan itu”.
“serius lho, hewan itu sejenis kumbang yang gak menyengat”. Tegasnya lagi, “kalau gak percaya, buktiin aja”.
Dengan ragu-ragu aku duduk lagi di tempat tadi, daaan... memang agak memalukan, binatang itu emang gak selera dikit pun untuk menyengat. Hhahaha
Di mulai dari situlah, perlahan-lahan aku mulai merasa tertarik dengan si mr. X itu. Konyol memang, kalau Cuma gara-gara kumbang, tapi kalian tau? Ada sesuatu yang gak bisa aku sebutkan yang membuat aku senang, dari dialah sekarang aku bisa bedain yang mana kumbang, yang mana lebah penyengat. Bahkan sekarang, kalau aku melihat kumbang itu terbang di sekitaran kantin, aku jadi teringat dengan dia dan kata-kata dia yang buat aku senyum-senyum sendiri *eheem.

Lanjut lagi, kali ini aku lupa hari apa. Kayak biasa aku ketemu dengan dia, dan kayak biasa juga dia selalu nanyain kabar ku. Sebagai manusia yang baik, aku juga balik nanya tentang keadaan dia, dia ngejawab “Ada sesuatu yang sedang mengganggu pikiran ku”.
Dengan PD dan gilanya aku jawab, “Apa? Apa mungkin itu aku? Aku itu gak usah di pikirin kali lho”.
Dia Cuma diam aja. Hhahaha, memalukan.
Selang beberapa menit setelah itu, disaat aku sedang sibuk-sibuk berjualan, dia memuji ku dengan sebuah kalimat yang gak mau aku sebut, tapi yang anehnya tampang dia datar-datar aja pas bilang kalimat itu. Malah, kawan ku yang juga ada di TKP bilang gini “jangan-jangan si Mr. X Itu suka dengan kamu lagi, kalau gak mana mungkin dia bilang kata-kata tadi, dan coba aja perhatiin, dia Cuma mau ngobrol  dengan kamu dengan kami gak”. Sambil bisik-bisik.

Sebenarnya, aku mau membenarkan kalimat dari sahabat ku itu, tapi gak mungkin, ntar aku di kira ke Gr-an sekalee, karena bagi ku memang betul apa yang dia bilang, aku merasa mr. X itu memang agak beda kalau berbicara dengan ku dan dengan tiga sahabat ku yang lain. Jujur, aku senang dengan itu, terlebih dengan pujiannya tadi, tapi aku berusaha gak mau ambil pusing karena di saat itu aku sadar ada nama mr. Moody di sini, di hati.

Lompat kehari-hari berikutnya, tepatnya di hari dimana Banda Aceh diselubungi oleh awan kelabu yang menggantung rendah, mr X muncul sesaat setelah aku dan kawan-kawan membicarakannya. Dan tau sesuatu? Awalnya sih aku Cuma bercanda dengan dia, dan tiba-tiba dia menunjuk kearah ku sambil menantang ku untuk melakukan sesuatu, bahkan dia menyertakan kalimat yang membuat jantung ku berhenti karena rasa yang entah itu kelewat senang atau kelewat gak nyangka, dia bakal mengatakan kata-kata itu dan menantang ku. Sebuah tantangan yang mungkin agak sulit untuk ku wujudkan, namun kalau aku berhasil menang dari tantangan ini, aku akan mendapatkan sesuatu yang dia katakan itu *maaf kalau penggunaan bahasanya agak ribet.
Aku gak mungkin bilang apa tantangannya itu dan kalimat dia yang buat aku berusaha menerjemahkan maksudnya itu, tetapi kalian tau? Kata-kata dari kalimatnya itu melekat kuat di ingatan ku, bahkan aku menulisnya di catatan pribadi.

Sejak saat itu, sadar atau tidak, mau atau tidak, aku merasakan ada yang aneh yang terjadi di rongga dada saat aku ketemu dengan dia, bahkan aku berani melupakan mr. Moody. Aku ingat kata salah satu sahabat ku, “Untuk apa kita suka dengan orang tetapi kita deg-degan dengan orang lain”. Betul juga siih, aku memang suka dengan mr. Moody, tapi aku sama sekali tak merasakan apa-apa dengan dia. bahkan salah satu sahabat ku lagi pernah bilang “Apa mungkin kamu dengan mr. Moody itu Cuma kagum aja?”. Entahlah, aku gak tahu tapi yang aku tau  sekarang, mr. X mulai mencuri jeda.
Dan kalian tau apa? Sejak aku merasakan rasa aneh itu, mr. X berubah.dia gak pernah negur-negur ku lagi bahkan kayak gak mengenalku. Kata sahabat-sahabat ku, mungkin itu Cuma perasaan ku saja. Tapi... entahlah. Kata salah satu sahabat ku lagi, wujudkan lah tantangannya itu, dan kita lihat saja apakah nanti dia akan membuktikan kata-katanya itu? Sahabat ku itu juga bilang, “ Ya, diam-diam aja dulu. coba pantaskan diri aja. Mungkin dia mau kamu memantaskan diri untuknya(kalau dia memang serius dengan ucapannya”.
Aku gak tau, apa yang sedang melanda isi kepala mr. X. Sehingga dia gak negur aku lagi, tapi aku positif thinking aja, siapa tau sedang ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Dan mengenai rasa yang ada di hati ku, kalau pun itu benar rasa yang mereka sebut-sebut ini cinta, berarti ini anugerah kan? Dan sebuah anugerah gak boleh di tolak. Karena cinta itu gak pernah salah, yang salah adalah bagaimana kita memanage-nya saja. Dan saya suka kata-kata dari sahabat saya, “Cintailah dia secara dewasa, dalam diam, dan biarkan Allah yang mementukan”. Yes!! Aku, dia, dan kita hanya pemeran dalam skenario yang telah di ciptakan oleh Sang Maha Cinta, tak ada yang dapat kita ubah.
Dan inilah cerita aku tentang seseorang. Seseorang yang memanggilku dengan sebutan yang jarang ku degar. Seseorang yang memberitahukan ku mana Lebah penyengat, mana yang hanya Kumbang biasa. Seseorang yang memotivasi ku untuk mewujudkan tantangannya, karena jauh sebelum dia menantang ku, hal itu merupakan cita ku yang mungkin masih tertunda. Seseorang yang menunjuk kearah ku dengan tantangan dan kata-kata yang membuat ku berkesan. Seseorang yang kini mulai tak menyapa ku lagi, itulah dia seseorang yang ku panggil mr. X. Semoga kan ada jawaban yang terbaik untuk dia dan aku.

Banda Aceh, 30 Maret 2013

#Catatan yang diam-diam ku tujukan untuk mu :)

Minggu, 28 Oktober 2012

Aku menyebut mu, Senja







            Aku menyebutmu, Senja...
Karna ku temukan mu, saat fajar tengah kehilangan surya tuk menerangi dunia...
Pada sebuah pertemuan lama, yang dulu ku kira tak kan menjadi apa-apa...
Berhadapan dengan mu, menjadikan aku manusia gagu. Membuat debaran-debaran itu, yang tlah lama tak ingin ku rasa lagi. Otak ku seolah beku, menggeser akal sehat dan malu ku.
Diam mu, membuat pikiranku terbelenggu, mencari makna apa yang berusaha kau sampaikan lewat tatapan itu. Nyatanya tak ada satu kitab pun, yang menjelaskan tentang isi hatimu. Dan terdamparlah aku dalam hamparan gurun penuh tanda tanya.
Aku menyebut mu, Senja...
Karna ku temukan mu, saat fajar tengah kehilangan surya tuk menerangi dunia.
Hening mu, membuat aku gila. Menggeser akal sehat ku pada tingkat kontribusi lemah tak berdaya. Ingin ku jejali tiap jengkal hati mu, namun sayangnya, aku hanya manusia biasa yang tak mempunyai kuasa.
Aku muak bila harus ikut diam seperti mu,
Karna dengan diam tak akan menyisakan makna apa-apa, memasung ku menjadi tak bernyawa. Hanya bisa menjadi manusia ‘lain’ untuk mu..
Dengar aku, wahai Senjaku...
Takdir kah ini?
Saat kau dan aku dipertemukan pada jalan yang sama?
Tlah lama ku berperang dengan waktu, berusaha menggapai nama-nama yang dulu ku sanjung, namun senyatanya nila tetap tertoreh di sukma. Hingga waktu menemukan kita, dan bayang mu terpenjara dalam maya ku. Dan bagai hantu, yang selalu ada dalam ingatan ku.
Aku menemukan mu, saat fajar kehilangan surya tuk menerangi dunia.
Pada sosok mu yang sederhana, pada tatapan mata melankolis senja.
Aku tlah jatuh cinta...
Aku tak meminta mu, tuk menjadikan ku Surya bagi sang fajar.
Tapi cukup jadikan ku, arak-arakan mega oranye yang kan mengiringi senja, membungkus semesta.
Bila memang cinta itu harus diam disini (hatiku), hingga tak ada malu ketika tlah terdengar dari sini (mulut ku).
Maka biarkan aku menunggu mu, menunggu potongan kisah mu menulis nama ku disana, dan menjadikan semuanya nyata.
Ku harap kau mengerti kini, karna semua ini hanya untaian kata-kata sederhana yang diam-diam ku tujukan untuk mu....

                                                            Banda Aceh, 29 Okt. 2012